jurnalistik.co.id – Georgia Hunter Bell menatap target besar pada Commonwealth Games 2026 setelah meraih gelar nomor 800 meter di Glasgow. Atlet 32 tahun itu memproyeksikan peluang sapu emas dengan modal kecepatan dan ketajaman yang ia tunjukkan saat final berlangsung.
Dalam lomba di Glasgow, Hunter Bell tampil dominan sejak awal. Ia mampu mengendalikan ritme pertandingan, lalu menambah laju pada 200 meter terakhir untuk finis lebih dari satu detik di depan para pesaingnya.
Kemenangan tersebut sekaligus menambah koleksi medali Commonwealth bagi Hunter Bell. Ia sebelumnya sudah meraih gelar 1500m pada ajang world indoor di Polandia earlier this year. Kini, kemenangan outdoor 800m menjadi bab penting dalam perjalanan kariernya yang terus berkembang.
Hunter Bell—yang menjadi partner latihan 800m bersama Keely Hodgkinson, juara Olimpiade nomor 800 meter—juga akan menjalani agenda lomba berikutnya. Ia dijadwalkan tampil di European Championships bulan depan serta mengikuti Ultimate Championships yang digelar pada September.
Dari sisi target, Hunter Bell menyampaikan ambisi yang jelas. “There are four opportunities to win gold this year,” kata Hunter Bell. “I am two golds down and two more to go.” Pernyataan itu menegaskan ia melihat tahun ini sebagai rangkaian kesempatan meraih puncak di beberapa nomor dan kompetisi.
Ia sendiri merasakan momentum yang menguat di bagian akhir kariernya. Setelah sempat jeda selama lima tahun dari kompetisi, ia kembali berkompetisi pada masa pandemi Covid-19. Pada Olimpiade Paris, ia meraih perunggu di nomor 1500m, dan setahun sebelumnya ia mampu menyalip Hodgkinson untuk merebut perak pada World Championships nomor 800m.
Berita Terkait
Namun, gelar outdoor yang baru ia raih di Glasgow memiliki makna tersendiri. “Every medal is a landmark moment but my first outdoor gold is huge,” ujar Hunter Bell. Baginya, ini adalah lompatan penting karena Hodgkinson berstatus juara Olimpiade, sehingga persaingan dan ekspektasi berada pada tingkat yang lebih tinggi.
Menurut laporan, Hunter Bell dan juara dunia asal Kenya, Lilian Odira, menjadi kandidat terkuat setelah Hodgkinson memilih tidak tampil. Final disebut berjalan tanpa banyak perlawanan berarti; begitu Hunter Bell menentukan pace dan melesat di fase akhir, kejar-kejaran tidak lagi mampu mengubah hasil.
Hodgkinson sendiri memilih mengambil waktu untuk persiapan sebelum European Championships di Birmingham yang dimulai 10 Agustus. Ia hanya dijadwalkan berlari di nomor 1500m untuk turnamen tersebut, sehingga Hunter Bell tidak memperoleh peluang untuk menyaksikan dinamika persaingan yang lebih menarik antara keduanya di 800m pada event itu.
Meski demikian, Hunter Bell menegaskan kemenangan di Glasgow juga memvalidasi keputusan untuk datang dan tampil di ajang tersebut. Ia juga membela keputusan para atlet lain yang memilih absen. “Every decision is different per athlete,” kata Hunter Bell. Ia mencontohkan, “A few weeks ago I had to pull out of London which I was devastated about because I was sick.”
Dalam penjelasan lanjutan, ia menekankan bahwa kesehatan menjadi pertimbangan utama. “We want to be healthy and racing at all times. That is what people don’t understand. If we could we would be racing non-stop. We get incentivised financially, we love it. This is what we train for. If we are not showing up there was a reason for that.”
Absensi juga menyertai sejumlah nama besar dari Inggris. Dina Asher-Smith, Katarina Johnson-Thompson, dan Matt Hudson-Smith disebut menjadi beberapa atlet profil tinggi yang tidak ikut, yang turut membentuk komposisi persaingan berbeda pada nomor 800m di Glasgow.
Dengan trofi Commonwealth yang baru diraih, Hunter Bell kini membawa keunggulan momentum menjelang kalender lomba berikutnya. Pertanyaan berikutnya adalah apakah ia mampu mengubah ambisi sapu emas itu menjadi kenyataan di kompetisi yang lebih dekat—mulai dari European Championships hingga Ultimate Championships pada September.











