Olahraga

Haaland-Gabriel Makin Panas: Norwegia Tantang Brasil di 16 Besar Piala Dunia 2026

×

Haaland-Gabriel Makin Panas: Norwegia Tantang Brasil di 16 Besar Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Erling Haaland and Gabriel feud goes global as Norway face Brazil

jurnalistik.co.id – Duel pribadi Erling Haaland dan Gabriel kini keluar dari stadion Liga Inggris dan naik ke panggung Piala Dunia 2026. Pada babak 16 besar, Norwegia akan berhadapan dengan Brasil di New York New Jersey Stadium, dalam laga yang juga sarat emosi dan gengsi.

Di atas kertas, Brasil adalah tim yang kaya pengalaman di turnamen besar. Namun, pertemuan ini membawa satu cerita lain: tabrakan karakter antara penyerang tajam Manchester City itu dan pengatur tempo belakang Arsenal, Gabriel.

Haaland vs Gabriel: pertarungan yang “goes global”

Haaland menghadirkan daya dobrak yang sulit dibendung, sementara Gabriel dikenal sebagai sosok yang tidak mudah memberi ruang. Pertarungan keduanya diproyeksikan menjadi penentu irama laga, karena keduanya telah lama terlibat rivalitas di level klub.

BBC menilai benturan ini akan sangat berpengaruh pada siapa yang memastikan tiket ke perempat final. Norwegia atau Brasil akan melanjutkan perjalanan, dengan calon lawan di delapan besar berasal dari pemenang duel Inggris vs Meksiko.

Chris Sutton, yang ikut menyoroti laga ini, menilai duel pribadi Haaland dan Gabriel berbeda dari kebanyakan pertemuan bintang di turnamen. Menurutnya, “For all the battling for the Golden Boot between the greats such as Lionel Messi, Kylian Mbappe, Harry Kane and Haaland, there have not been any great personal duels. Now we have one.”

Sutton menambahkan, “This is the standout personal duel of the World Cup so far and make no mistake, it will have a huge bearing on the outcome of the game.” Ia juga menekankan bahwa rasa tidak suka mereka bukan sekadar “kompetisi” biasa.

“It is the standout because of the bad feeling we know exists between the pair. I am sure there is a level of respect great players have for each other, but everything we’ve seen between them suggests they don’t like each other too much,” kata Sutton.

Alan Shearer turut mengamini tensi yang mengiringi pertemuan tersebut. Ia mengatakan, “That will be a great battle because there is definitely a bit of niggle there.”

Shearer menambahkan bahwa rivalitas mereka memang sudah tampak jelas sejak pertemuan-pertemuan sebelumnya. “They don’t like each other which is fine, you don’t have to like your opponent, and we have seen them have clashes before so that’s definitely one to look forward to.”

Catatan pertemuan dan “keanehan” sejarah Brasil vs Norwegia

Selain cerita duel Haaland-Gabriel, laga ini juga punya “quirk” statistik yang menarik. Brasil, yang merupakan juara dunia sebanyak lima kali, ternyata belum pernah mengalahkan Norwegia dalam empat pertemuan terakhir.

Dalam empat upaya itu, Brasil hanya mampu bermain imbang dua kali dan menelan dua kekalahan. Dengan demikian, Norwegia menjadi satu-satunya lawan yang dihadapi Brasil, namun belum pernah sekalipun berhasil menang.

Asal-usul panasnya hubungan: dari momen 22 September 2024

Rivalitas ini tidak muncul mendadak, melainkan bermula dari peristiwa di Liga Inggris pada Minggu, 22 September 2024. Pada laga Manchester City vs Arsenal, John Stones mencetak penyama kedudukan pada menit ke-98, tepat saat Arsenal terlihat akan meraih kemenangan bersejarah dengan hanya 10 pemain setelah Leandro Trossard diusir pada masa injury time babak pertama.

Di momen yang kacau setelah gol itu, Haaland bereaksi dengan cara yang membuat Gabriel ingat detailnya. Haaland berlari ke area jaring untuk mengambil bola, lalu melemparkannya dengan tenaga besar ke arah belakang kepala Gabriel, sementara Gabriel menutupi kekecewaannya dengan kaus Arsenal.

Setelah pertandingan berakhir 2-2, Haaland kemudian mengarahkan perhatian ke manajer Arsenal, Mikel Arteta, lewat sindiran “stay humble” yang ia ucapkan dua kali saat mereka bertemu setelah laga. Haaland berujar, “What happens on the football pitch stays there,” dan menambahkan, “That’s just how it is. It’s a battle, a war, so it’s normal to have provocative acts in football. It’s part of the game.”

Peristiwa itu berlanjut pada berbagai pertemuan berikutnya. Gabriel, yang merasa tindakannya terhadap Haaland juga memiliki latar yang sama, pernah menjelaskan aksinya setelah timnya menang.

Ia mengaku, “I did it because he threw the ball at my head, to provoke him the way he provoked me. The moment we scored, he was right next to me, so I went straight to shouting in his ear.”

Rentetan momen tajam di Liga Inggris

Menariknya, rivalitas itu tidak hanya berhenti pada satu duel. Arsenal pernah menghajar Manchester City 5-1 pada Februari 2025, dan Gabriel merayakan gol dengan berteriak ke arah Haaland sebagai bentuk “sweet revenge”.

Di laga lain pada April, Gabriel disebut “fortunate to escape a red card” setelah ia menargetkan aksi seperti headbutt ke arah Haaland, sementara keduanya sama-sama menerima kartu peringatan. Bahkan setelah itu, tensi tetap terjaga karena setiap pertemuan menjadi semacam balas dendam kecil yang terus berulang.

Pada Mei, setelah Arsenal meraih gelar liga utama pertamanya dalam 24 tahun, Gabriel mempublikasikan foto dirinya mengangkat trofi Premier League. Musik pengiringnya memakai nada dan lirik yang sama dari “Good Feeling”.

Haaland sendiri merayakan kemenangan melawan Arsenal pada April dengan bernyanyi ke kamera televisi setelah laga berakhir 2-1. Ia melontarkan bait “oh, oh, sometimes I get a good feeling” dari lagu Flo Rida berjudul “Good Feeling”, dengan senyum kemenangan yang tampak “mischievous”.

“Flashpoint” dan disiplin: siapa yang mengendalikan emosi?

Memasuki Piala Dunia, Sutton menilai pertemuan ini berpotensi memunculkan momen panas yang muncul dari karakter fisik keduanya. Ia mengatakan, “I am absolutely convinced there will be a flashpoint or two, I really am, just because of the physical nature of both players.”

Sutton juga menegaskan bahwa duel semacam ini menarik karena memberi “needle” dan “edge” yang berbeda. “We all love a bit of needle and a bit of edge don’t we? Something a little bit different.”

Ia menilai wasit harus waspada ketika kontak dan pergerakan mulai mengarah ke eskalasi. “When Haaland pulls on Gabriel, then Gabriel starts moving towards Haaland, that’s when I think the referee will have to keep an eye on things.”

Sutton kemudian mengaitkan momen itu dengan pengalamannya membayangkan duel serupa di turnamen. Ia menyinggung laga Norwegia melawan Pantai Gading, dan menyatakan hal yang terlintas di benaknya soal duel yang akan terjadi.

“One of the first things that went through my mind was it would be Gabriel versus Haaland and this is the personal confrontation that will have a huge influence on the game.”

Siapa unggul secara rekor dan perburuan top skor?

Dari sisi statistik pertemuan di level klub, Haaland tercatat memiliki catatan bagus melawan Gabriel. Penyerang Norwegia mengemas enam gol dalam 11 pertandingan ketika keduanya saling berhadapan.

Manchester City menang lima kali dalam pertemuan-pertemuan itu, Arsenal menang dua kali, sementara empat laga berakhir imbang. Dalam persaingan pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026, Haaland juga masuk kategori favorit karena sudah membukukan lima gol.

Jumlah tersebut menyamakannya dengan kapten Inggris, Kane, sementara ia tertinggal dua gol dari Mbappe dan legenda Argentina, Messi, yang sudah mengoleksi tujuh gol.

Di sisi Brasil, Gabriel berada pada lini belakang yang menjadi tumpuan. Meski Brasil tidak tampil meledak-ledak di setiap laga, mereka disebut “got the job done” di bawah Carlo Ancelotti.

Brasil di tangan Ancelotti: gaya yang pragmatis, peluang yang nyata

Sutton menyebut faktor Ancelotti sebagai salah satu alasan yang membuat Brasil punya peluang besar. Ia mengatakan, “Who wins out between Haaland and Gabriel will go a long way towards deciding who goes into the last eight.”

Ia kemudian menyatakan penilaiannya bahwa Norwegia sanggup menang, tetapi Brasil tetap memiliki manajer yang terbukti tahu cara memenangkan laga. “I think Norway are capable of winning, but Brazil have got a great manager in Carlo Ancelotti, a guy who knows how to win and finds a way to win.”

Sutton memprediksi laga bakal ketat, sambil mengakui adanya kecenderungan bahwa Brasil akan mengambil hasil. “I think it will be a close, but we all sort of sense Brazil will win this one because of Ancelotti. He is such a streetwise manager.”

Menurut Sutton, Brasil tidak lagi seperti tim-tim masa lalu yang cenderung bermain dengan total football dan “play you off the park”. Ia menilai Ancelotti membuat Brasil lebih nyaman bersikap sabar dan memanfaatkan momen.

“They are happy to be cagey, sit in and utilise Vinicius Jr. They have got Rayan on the other side, who looks like he is going to be one hell of a player.”

Sutton juga menambahkan bahwa Brasil tidak memiliki gaya yang sepenuhnya terdefinisi, sehingga laga menjadi urusan rasa dan momen. “Brazil don’t really have any defined style at all. Their game is about feeling and Vinicius Jr is a big part of that – but they do have talent and are a team of moments.”

Meski begitu, Sutton tidak mengubur peluang Norwegia. Ia menegaskan, “We know their qualities – and we know all about Haaland.”

Ia juga menyebut Martin Odegaard sebagai pencipta utama Norwegia, meski musimnya kurang gemilang karena cedera ketika Arsenal meraih gelar liga. “There is no questioning his quality.”

Pada akhirnya, Sutton kembali pada inti duel yang menjadi sorotan: “I think they are more than capable of beating Brazil. I think it will be close – and what happens between Haaland and Gabriel could decide it.”