Olahraga

Estadio Azteca yang Ikonik: Latar Duel Meksiko vs Inggris di Babak 16 Besar

×

Estadio Azteca yang Ikonik: Latar Duel Meksiko vs Inggris di Babak 16 Besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mexico vs England: Why the Azteca is a legendary World Cup stadium

jurnalistik.co.id – Menjelang duel babak 16 besar Piala Dunia Meksiko vs Inggris, perhatian banyak tertuju pada Estadio Azteca. Stadion ini tidak sekadar menjadi arena pertandingan, tetapi juga panggung yang berulang kali melahirkan momen-momen paling berkesan dalam sejarah sepak bola.

Azteca berdiri di bagian selatan Kota Meksiko, sebuah metropolis besar yang berada di ketinggian, dikelilingi pegunungan. Di tempat seperti itulah suara, warna, dan energi stadion terasa “hidup”, seakan menjadi bagian dari permainan itu sendiri.

Menurut Daniel Austin, Azteca sering disebut sebagai tempat di mana para legenda meraih kejayaan. Pele dan Maradona pernah menorehkan kisah besar mereka di stadion ini, dan kini Inggris kembali datang ke lapangan yang sama untuk pertama kalinya sejak tersingkir pada Piala Dunia 1986 oleh Argentina asuhan Maradona.

Bangunan Azteca dirancang untuk menangkap “kekuatan kerumunan”. Pele pernah mengingat betapa istimewanya stadion itu lewat kalimat, “There is just something very special about Azteca,” dan lanjut, “You need to be inside it, to feel it, to understand.”

Salah satu kunci dari karakter Azteca ada pada rancangan arsitekturnya. Bahkan setelah beberapa kali renovasi, termasuk penurunan kapasitas menjadi 87,500, prinsip utama yang membuat stadion terasa megah tetap dipertahankan: sisi tribun yang curam, jarak tribun ke lapangan, ruang ganti bawah tanah, serta terowongan yang menghubungkan area tim.

Estadio Azteca dibangun atas tugas Pedro Ramirez Vazquez. Proyek ini ditujukan untuk menampung lebih dari 100,000 penonton dan menyaingi kemegahan Maracana di Rio de Janeiro yang sebelumnya dibangun khusus untuk Piala Dunia 1950. Pencapaian tekniknya juga luar biasa, karena atap kantilever pionir tanpa pilar dirancang agar pandangan tetap bebas, dan pembangunannya baru bisa dilakukan setelah 180 million kilos batu dikeluarkan dari lahan di bawah stadion.

Rancangan yang membuat setiap penonton “masuk” ke pertandingan

Vazquez pernah menjelaskan dasar desain itu melalui gagasan pemerataan pengalaman menonton. Ia menyatakan, “The foundation of the design… was that each spectator should have, from any seat, the same quality view as everybody else.” Menurutnya, arsitektur Azteca terasa tetap modern karena tampilannya kontemporer dari berbagai sisi, dan stadion memberi rasa “terkurung” di dalam permainan.

Ia juga menggambarkan sensasinya secara langsung: “You feel enveloped. From every seat you are immersed in the game, from the front row to the very top.” Cerita ini sejalan dengan cara Azteca dibangun untuk menghindari jarak yang terlalu jauh antara tribun dan lapangan.

Atap stadion sendiri, sebagaimana disebut, baru ditambahkan setahun setelah pembukaan awal. Dengan cara itu, Azteca menonjol sejak periode pertama sebagai stadion terbuka yang sudah mampu “mengangkat” keramaian sejak awal acara-acaranya.

Kerumunan sebagai mesin suara: terowongan sampai getaran tanduk

Yang membuat Azteca benar-benar berbeda adalah kekuatan orang-orang di dalamnya. Stadion ini dikenal mampu menghasilkan “soundtrack” yang terdengar berbeda dari tempat lain, baik saat mendukung klub-klub kandang seperti Club America atau Cruz Azul, maupun ketika menjadi tuan rumah laga Piala Dunia dengan tim yang netral.

Jason de Vos, salah satu orang yang pernah bermain sekaligus melatih melawan Meksiko di stadion itu bersama tim nasional Kanada, menggambarkan efek keramaian dengan detail yang khas. Ia mengatakan, “It is next to impossible to communicate on the pitch because the Azteca is full of sound swirling all around you” dan menambahkan, “The Mexicans know they have an advantage because of the crowd and they try to swarm you on the pitch too.”

Pengalaman ruang ke ruang di Azteca juga disebut mempengaruhi suasana sejak sebelum bola bergulir. Ia menceritakan rombongan bus tim melaju di bawah stadion, melewati ramp, lalu berjalan ke ruang ganti. Setelah itu, ketika menuju lapangan, pemain harus melewati terowongan yang sangat sempit dengan suara berdesing seperti “kawanan lebah”.

Untuk keluar, tim mendekati lapangan dari bagian bawah lewat tangga, dan ketika puncak tangga disingkap, terlihat bahwa suara yang bergetar itu berasal dari kerumunan itu sendiri. Ia menutup gambaran dengan kalimat, “It’s the vibration of the horns, the screaming, the jumping. It’s crazy” dan menyatakan, “But that’s exactly why you want to play football.”

Sejarah besar Piala Dunia: dari Pele hingga Maradona

Azteca menjadi stadion yang hanya milik segelintir tempat untuk pernah menggelar pertandingan di tiga edisi Piala Dunia berbeda, yaitu 1970, 1986, dan 2026. Dua edisi awal disebut memuat laga dan gol yang sangat ikonik.

Di 1970, semifinal antara Italia dan West Germany sering dipandang sebagai pertandingan terhebat. Skor 1-1 bertahan setelah 90 menit, lalu lima gol tercipta pada perpanjangan waktu dengan Italia menang 4-3. Di partai final, tim Brasil meraih kemenangan 4-1 atas Italia, dan gol penutup—yang dikirim Carlos Alberto ke sudut atas—disebut lahir dari serangan yang melibatkan hampir semua pemain, meski hanya tiga yang tidak menyentuh bola.

Alberto kemudian menuturkan, “The atmosphere, the noise at that final was unbelievable,” dan menambahkan, “Wonderful, indescribable.” Dalam turnamen itu, Pele mencetak empat gol dan membuat enam assist, serta tetap menjadi satu-satunya pemain yang memenangkan Piala Dunia sebanyak tiga kali.

Enam belas tahun setelahnya, Azteca kembali menjadi sorotan saat Meksiko menjadi tuan rumah turnamen, namun kali ini Argentina dan Maradona yang tampil dominan. Maradona—berusia 25 tahun dan sudah pindah ke Napoli dari Barcelona setahun sebelumnya—mencetak lima gol dan membuat lima assist untuk mengantar negaranya meraih trofi kedua.

Saat melawan Inggris di perempat final, Maradona menorehkan dua gol yang dikenal luas dengan alasan berbeda. Pertama, ia membuka skor di babak kedua lewat gol “hand of God”, ketika ia meninju bola umpan balik yang salah diantisipasi melewati Peter Shilton. Empat menit kemudian, ia mengambil bola di dalam lingkaran tengah di setengah lapangan Argentina dengan punggung menghadap gawang, lalu dalam 11 detik melewati lima pemain Inggris, mengelabui penjaga gawang, dan memasukkan bola sendiri ke gawang.

Keempat sisi Azteca disebut menjerit dan terdiam kagum saat “El Diego” berlari menuju bendera sudut untuk merayakan gol. Pada 2016, empat tahun sebelum wafatnya, Maradona menyebut laga itu sebagai pertandingan paling penting dalam kariernya. Dalam kutipannya tentang gol tersebut, ia menggambarkan, “a little with the head of Maradona and a little with the hand of God”.

Altituda dan tantangan fisik yang memperkuat tuan rumah

Keistimewaan Azteca juga dipengaruhi faktor ketinggian. Di atmosfer yang lebih tinggi, oksigen yang masuk ke aliran darah akan lebih sedikit setiap kali bernapas. Tim yang terbiasa dan tahu cara menghadapinya dapat memperoleh keunggulan atas lawan yang belum beradaptasi, sehingga Meksiko disebut mempertahankan rekor kuat atas lawan mereka.

Dr Olivier Girard menekankan dampaknya terutama pada pemain tengah. Ia menjelaskan, “Midfielders will usually suffer the most, because they have to move up and down the pitch and cover the most distance,” serta menambahkan bahwa intensitas awal kadang terasa sama seperti di permukaan laut, namun kelelahan bisa mulai muncul di tengah babak pertama sehingga pemain lebih mudah memberikan peluang mencetak gol.

Girard menyimpulkan, “It is absolutely both a physiological and psychological advantage for a team which is used to playing at this altitude.”

Azteca juga disebut memiliki riwayat klub-klub besar yang berulang kali memakai stadion ini sebagai rumah, termasuk Club America sejak 1966, sedangkan Cruz Azul pernah berpindah masuk dan keluar dan akan kembali pada periode ketiga mereka belakangan ini.

Penelitian dari Dr Barney Wainwright juga menguatkan gambaran itu. Ia menyatakan, “It accentuates what they’ve done,” dan menilai prestasi atletik di altituda terasa lebih mengesankan karena terjadi dalam rangkaian permainan yang panjang. Ia menambahkan, “Playing a full match at that level is a great physical challenge in itself. To have the mental capacity to produce such skilful moments makes it extra special.”

Di luar sepak bola: ring tinju, panggung musik, dan misa kepausan

Walau Azteca dibangun sebagai stadion sepak bola, sebagian momen terbesarnya justru lahir dari acara yang melibatkan massa dalam skala besar. Pada 1993, stadion ini menjadi tuan rumah kerumunan terbesar dalam sejarah tinju kejuaraan, ketika 132,274 penonton menyaksikan pahlawan nasional Julio Cesar Chavez mengalahkan Greg Hauger untuk mempertahankan gelar WBC super lightweight.

Chavez menggambarkan pengalaman itu dengan kata-katanya sendiri, “It was the most incredible night of my entire career and my life,” dan menambahkan, “Being there in the middle of the ring is something unbelievable.” Di tahun yang sama, Michael Jackson tampil dalam tur Dangerous World Tour sebanyak lima malam, dengan total penonton mencapai 550,000.

Tahun 1999, misa yang dipimpin Paus Yohanes Paulus II disebut menarik lebih dari 110,000 orang ke stadion. Setelah rangkaian kembang api usai, ia mendapat sambutan yang berlangsung lebih dari 15 menit ketika berkeliling menggunakan Popemobile.

Paus kemudian berujar, “People who know me will attest I’m a little fond of football,” dan menambahkan, “It is a privilege to be here, where I watched such beautiful football.” Seperti itulah Azteca digambarkan: stadion yang dibangun untuk momen ketika banyak orang berkumpul untuk merasakan denyut kehidupan.