Bisnis & Ekonomi

Porsi Kripto yang Dinilai Ideal untuk Diversifikasi Investasi

×

Porsi Kripto yang Dinilai Ideal untuk Diversifikasi Investasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tak Perlu Banyak, Ini Porsi Kripto yang Dinilai Ideal untuk Investasi

jurnalistik.co.id – Kripto yang dulu identik dengan janji besar kini makin sering diposisikan sebagai bagian dari strategi investasi berbasis portofolio, bukan semata lahan spekulasi.

Perubahan cara pandang itu terlihat dari motivasi para investor ketika memutuskan memegang aset digital. Dari hasil survei, sebagian besar justru menjadikan kripto sebagai alat untuk menyeimbangkan risiko.

Selama bertahun-tahun, aset kripto kerap muncul bersama berbagai klaim ambisius. Mulai dari keyakinan bahwa mata uang digital akan menggantikan uang yang diterbitkan pemerintah, hingga anggapan bahwa kripto adalah inovasi sebesar telepon pintar, serta narasi bahwa teknologi ini akan mendemokratisasi sistem keuangan global.

Namun, dalam laporan yang dikutip dari CNBC, Senin (27/7/2026), orientasi investor mulai bergeser. Kripto kini diperlakukan layaknya kelas aset lain di dalam portofolio, sehingga tidak lagi semata dianggap simbol perlawanan terhadap sistem keuangan konvensional.

Urban Institute, melalui survei terhadap 3.194 orang dewasa di Amerika Serikat (AS), mencatat alasan kepemilikan kripto. Sebanyak 45 persen responden menyatakan motivasi utama mereka memiliki aset digital adalah untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi.

Dalam temuan tersebut, diversifikasi justru menjadi pendorong terbesar dibandingkan alasan lainnya. Angka ini menunjukkan bahwa bagi sebagian investor, kripto dilihat sebagai salah satu komponen dalam manajemen aset, bukan sekadar taruhan arah harga.

Selain itu, sebanyak 27 persen responden mengatakan mereka percaya kripto adalah masa depan. Sebanyak 11 persen lainnya menyampaikan keyakinan bahwa aset digital mampu menghasilkan keuntungan lebih besar dibandingkan instrumen investasi lain.

Sementara itu, 5 persen responden mengaku membeli kripto karena tidak mempercayai dollar AS. Kombinasi jawaban ini memperlihatkan spektrum pertimbangan yang beragam, dari keyakinan jangka panjang hingga alasan yang terkait langsung dengan kepercayaan pada mata uang tertentu.

Survei juga mengelompokkan pemilik kripto sebagai investor yang memiliki berbagai jenis aset digital, seperti bitcoin, ethereum, solana, XRP, stablecoin, memecoin, serta aset digital lainnya. Dengan demikian, temuan tidak hanya bertumpu pada satu jenis token, tetapi mencerminkan perilaku investor di ekosistem yang lebih luas.

Kripto mulai masuk kerangka portofolio

Secara keseluruhan, hasil tersebut menjadi sinyal bahwa kripto mulai dipandang sebagai bagian dari strategi investasi yang lebih matang. Penggeseran motivasi dari ide yang bersifat ideologis maupun spekulatif menuju konstruksi portofolio disebut menggambarkan kedewasaan cara pandang.

Dan Cassino, profesor ilmu politik Fairleigh Dickinson University sekaligus penulis Bitcoin Bros: Masculinity, Cryptocurrency, and the Future of Men, menilai integrasi kripto ke pasar arus utama berperan dalam perubahan persepsi. Ia mengatakan, “Seiring kripto semakin terintegrasi ke dalam pasar keuangan arus utama dan menjadi sekadar kelas aset lain, masuk akal jika aset ini mulai terpisah dari pandangan anti-kemapanan yang sebelumnya mendorong para pengguna awal,” ujarnya kepada CNBC.

Penilaian serupa juga disampaikan oleh Douglas Boneparth. Ia disebut sebagai perencana keuangan bersertifikat sekaligus Presiden dan Pendiri Bone Fide Wealth. Boneparth menilai perubahan motivasi investor merupakan sinyal pasar yang makin dewasa.

Boneparth mengatakan, “Saat motivasi utama bergeser dari ideologi atau spekulasi menuju pembangunan portofolio, itu merupakan tanda kedewasaan,” kepada CNBC. Dengan kata lain, ketika kripto ditempatkan dalam kerangka tujuan investasi dan pengelolaan risiko, ia cenderung diperlakukan seperti instrumen keuangan lain.

Manfaat diversifikasi tetap bergantung pada alokasi

Meski begitu, Boneparth juga mengingatkan bahwa potensi manfaat diversifikasi dari kripto tidak otomatis muncul tanpa syarat. Kemampuan aset ini memberikan dampak positif terhadap portofolio sangat bergantung pada bagaimana investor mengalokasikan aset kripto dalam rencana investasi mereka.

Artinya, penerapan prinsip diversifikasi tetap memerlukan pendekatan yang terukur, bukan sekadar menambah aset apa pun ke dalam portofolio. Investor perlu mempertimbangkan proporsi, tujuan, serta cara aset tersebut berinteraksi dengan instrumen lain yang sudah dimiliki.

Di sisi lain, konteks regulasi turut menjadi latar yang relevan. Aturan pajak kripto baru resmi berlaku mulai 1 Agustus 2025. Kejelasan aturan seperti ini dapat memengaruhi cara investor merencanakan investasi, meski bagaimana penerapannya tetap bergantung pada kebijakan dan praktik di lapangan.

Dalam artikel yang sama, perubahan sikap investor terhadap kripto juga digambarkan sebagai tanda evolusi pasar. Bila kripto telah diperlakukan sebagai kelas aset, keputusan kepemilikan pun cenderung lebih terkait dengan pertimbangan portofolio.

Temuan survei Urban Institute yang dikutip CNBC pada akhirnya merangkum pergeseran yang cukup nyata. Diversifikasi menjadi alasan utama bagi 45 persen responden, sementara bagian lain memilih kripto karena keyakinan terhadap masa depan, potensi keuntungan yang lebih tinggi, atau alasan ketidakpercayaan pada dollar AS.

Dengan data tersebut, gambaran yang muncul adalah kripto tidak lagi hanya hadir dalam narasi spekulasi. Ia kini menempati ruang yang lebih terstruktur dalam cara sebagian investor membangun strategi investasi, meski hasil akhirnya tetap bergantung pada keputusan alokasi masing-masing.