Hukum & Kriminal

Al Amin Khalifah Fhimah, yang dibebaskan dalam kasus bom Lockerbie, wafat di usia 70 tahun

×

Al Amin Khalifah Fhimah, yang dibebaskan dalam kasus bom Lockerbie, wafat di usia 70 tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Libyan who was cleared after Lockerbie bombing trial dies aged 70

jurnalistik.co.id – Al Amin Khalifah Fhimah, warga Libya yang pernah dibebaskan dalam sidang terkait pemboman Lockerbie, meninggal dunia pada usia 70 tahun. Kabar tersebut diumumkan melalui unggahan di Facebook oleh Libyan Airlines.

Fhimah dituduh terlibat dalam pembunuhan 270 orang dalam serangan terhadap Pan Am Flight 103 yang terjadi pada Desember 1988. Pada persidangan, ia dinyatakan tidak bersalah, sementara satu warga Libya lainnya, Abdulbasset Al Megrahi, justru dinyatakan bersalah dan dihukum karena perannya dalam pemboman tersebut.

Menurut pengumuman yang beredar, Libyan Airlines menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Fhimah. Perusahaan juga menyebut bahwa Fhimah pernah bekerja untuk maskapai itu di Malta sebelum peristiwa Pan Am 103 terjadi.

Rencana pemakaman Fhimah disebut akan berlangsung pada hari Rabu di Tripoli, ibu kota Libya. Langkah itu sekaligus mengakhiri penantian keluarga dan pihak-pihak yang selama ini mengikuti perkembangan kasus Lockerbie.

Perkara terhadap Fhimah dan Megrahi awalnya diumumkan pada 1991 oleh otoritas di Skotlandia dan Amerika Serikat. Seiring adanya sanksi yang dijatuhkan Perserikatan Bangsa-Bangsa kepada Libya, kedua pria kemudian diserahkan untuk menjalani proses hukum di sebuah pengadilan Skotlandia yang bersidang di Belanda.

Pada 2001, tiga hakim menjatuhkan vonis kepada Megrahi. Ia dinyatakan bersalah atas pembunuhan massal dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, sementara Fhimah justru dinyatakan tidak bersalah pada perkara yang sama.

Megrahi kemudian meninggal dunia akibat kanker pada 2012. Ia sempat dibebaskan pada tahun itu setelah keputusan pemerintah Skotlandia berdasarkan pertimbangan belas kasihan (compassionate grounds). Dalam berbagai perkembangan selanjutnya, Fhimah tetap menolak keterlibatan apa pun dalam serangan tersebut.

Fhimah juga disebut mendapat sambutan saat kembali ke Libya, termasuk oleh pemimpin Libya yang telah wafat, Muammar Gaddafi. Di sisi lain, namanya kembali menjadi sorotan setelah muncul informasi baru terkait dugaan keterlibatannya.

Pada 2022, FBI mengungkap bahwa Fhimah dikaitkan lagi dengan kasus tersebut melalui sebuah pengakuan yang diduga disampaikan oleh seorang warga Libya lain yang sedang menghadapi proses hukum di Amerika Serikat. Orang tersebut disebut bernama Abu Agila Mohammad Masud Kheir Al-Marimi.

Al-Marimi disebut menuturkan kepada seorang petugas polisi Libya bahwa ia ikut dalam rencana untuk membom pesawat, bersama Fhimah dan Megrahi. Dalam narasi yang muncul, ketiganya disebut sama-sama menjadi bagian dari layanan intelijen Libya.

Namun, Al-Marimi membantah membuat bom yang menjatuhkan pesawat jumbo itu. Ia juga menyatakan bahwa pengakuan tersebut tidak benar dan dibuat di bawah tekanan (duress). Konteks inilah yang kemudian memunculkan spekulasi bahwa Fhimah berpotensi menghadapi proses hukum lanjutan.

Indikasi tersebut berkaitan dengan fakta bahwa dakwaan terhadap Fhimah yang diumumkan pemerintah Amerika Serikat pada 1991 disebut masih belum dicabut atau belum dinyatakan selesai. Menurut kerangka hukum Skotlandia, aturan yang dikenal sebagai larangan peradilan ganda (Double Jeopardy) dapat dibuka untuk sidang kedua apabila ada bukti baru yang secara substantif memperkuat perkara dan tidak tersedia saat pengadilan awal berlangsung.

Dalam pengertian itu, penyelidik dan penuntut dari Skotlandia maupun Amerika Serikat disebut berpotensi meninjau kemungkinan langkah baru apabila Al-Marimi benar-benar dijatuhi putusan di Washington. Meski demikian, upaya tersebut dinilai akan menghadapi tantangan hukum dan sensitivitas politik, terutama karena Fhimah telah dinyatakan bebas bersalah pada sidang tahun 2001.

Peristiwa yang menjadi pusat kasus ini terjadi pada 21 Desember 1988, ketika sebuah pesawat meledak di wilayah Lockerbie, Skotlandia, hingga menewaskan 270 orang. Hampir empat dekade setelah peristiwa itu, proses hukum di Amerika Serikat terus bergulir seiring munculnya bukti yang disebut “baru ditemukan”.

Al-Marimi dijadwalkan menjalani persidangan di Washington pada Januari, setelah sebuah hakim federal memutuskan menunda perkara untuk kali ketiga. Penundaan itu disebut diminta oleh pihak pembela, mengikuti munculnya bukti yang diklaim baru, dan penundaan tersebut disebut tidak berkaitan dengan informasi meninggalnya Fhimah.