jurnalistik.co.id – Erin Patterson, perempuan asal Australia yang dijuluki “pembunuh beracun jamur”, mengajukan upaya pembatalan vonis setelah setahun menjalani proses persidangan besar. Pengajuan ini ditujukan untuk membatalkan putusan bersalahnya, sementara pihak penuntut juga menempuh langkah hukum terkait lamanya masa hukuman.
Erin Patterson (51) divonis penjara seumur hidup pada September lalu. Ia dinyatakan bersalah karena membunuh tiga kerabat dan berupaya membunuh orang keempat melalui hidangan makan yang mengandung jamur beracun yang ia sajikan di rumahnya di Leongatha, Victoria, pada 2023.
Menurut dakwaan yang mendasari putusan, Patterson menghabisi Don dan Gail Patterson (keduanya berusia 70 tahun), serta Heather Wilkinson (66). Ketiganya disebut meninggal setelah menyantap porsi masing-masing berupa beef Wellington yang mengandung death cap mushrooms di rumah Patterson di wilayah pedesaan Victoria.
Suami Heather Wilkinson, Ian Wilkinson, selamat dari santapan itu meski dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Dalam persidangan, juga terungkap bahwa Patterson pernah berencana mengundang suaminya yang terasing, Simon Patterson, namun Simon membatalkan kehadiran pada menit-menit terakhir.
Simon Patterson, yang pada beberapa tahun sebelumnya sempat jatuh sakit berat setelah mengonsumsi sejumlah makanan buatan Erin, akhirnya pernah berada dalam kondisi koma. Sebagian besar ususnya juga harus menjalani tindakan bedah, dan keluarganya diminta untuk berpamitan kepadanya dua kali karena Simon tidak diperkirakan akan bertahan.
Di sepanjang persidangan, Patterson mempertahankan bahwa ia tidak berniat membunuh. Ia mengatakan kematian tersebut merupakan “kecelakaan” yang tragis, serta mengaku kebohongan dan upaya menghilangkan barang bukti setelah jamuan itu dilakukan karena kepanikan bahwa ia akan disalahkan atas kematian para kerabatnya.
Argumen pembelaan dan perkara yang dibawa ke pengadilan
Patterson tidak hadir secara langsung saat sidang banding. Ia memilih mengikuti proses melalui tautan video dari Dame Phyllis Frost Centre, penjara keamanan maksimum di pinggiran Melbourne, tempat ia menjalani hukumannya.
Pada November tahun lalu, tim hukumnya mengajukan dokumen setebal tiga halaman yang memuat sejumlah alasan untuk menggugat putusan. Dalam pengajuan itu terdapat tujuh dasar permohonan, yang akan didengar oleh tiga hakim.
Salah satu poin yang diajukan adalah adanya bagian bukti yang menurut tim pembela “tidak seharusnya” dilihat para juri. Contohnya, data pelacakan ponsel yang menunjukkan Patterson bepergian ke tempat-tempat di mana death cap mushrooms baru saja ditemukan.
Tim pembela juga menilai bahwa bukti yang bersumber dari “Facebook friends” seharusnya tidak diperbolehkan. Bukti tersebut mencakup pesan daring di mana Patterson meluapkan kekesalan terhadap keluarga mertuanya dan juga Simon Patterson, termasuk saat ia menyebut Simon sebagai “deadbeat”. Menurut pembelaan, bukti semacam itu tidak relevan dan bersifat merugikan sehingga memicu “miscarriage of justice” yang substansial.
Berita Terkait
Di sisi lain, pembela menyatakan ada bukti lain yang justru dapat membantu Patterson di pengadilan tetapi tidak dimasukkan. Mereka menyebut foto dan gambar yang berkaitan dengan hobi Patterson sebagai peminat jamur (mushroom forager) yang lama, yang menurut pembela mendukung narasi bahwa kematian terjadi sebagai kecelakaan tragis.
Tim Patterson juga mengkritik sikap penuntut terkait motif. Mereka menyatakan penuntut memulai persidangan dengan mengatakan tidak akan berargumen mengenai motif tertentu, tetapi kemudian pada akhirnya justru menyiratkan adanya motif. Pembelaan juga menyoroti pemeriksaan silang Patterson selama lima hari oleh pengacara Nannette Rogers, yang menurut Patterson berlangsung dengan suasana menegangkan—Rogers menuduh Patterson berulang kali berbohong. Patterson menilai pemeriksaan itu “unfair and oppressive”.
Aspek yang dianggap paling “menarik” dalam dokumen banding berkaitan dengan proses musyawarah juri. Tim Patterson menyebut ada “fundamental irregularity” yang “fatally undermined” integritas putusan, terkait kondisi ruang di sekitar pengadilan dan dampak keributan media.
Dalam banding disebutkan bahwa kekurangan kamar di kota-kota regional di sekitar lokasi sidang membuat juri akhirnya berbagi hotel dengan anggota penuntut, seorang saksi polisi kunci, serta jurnalis. Walau juri memiliki seluruh satu lantai hotel untuk mereka sendiri, hakim sebelumnya menyatakan tidak ada bukti bahwa juri berinteraksi dengan pihak yang terhubung dengan perkara.
Tim Patterson mengaku tidak mengangkat keberatan selama persidangan berlangsung. Namun, dalam berkas banding mereka menuliskan: “[This] requires the quashing of the convictions and an order for a re-trial so that justice cannot only be done but be seen to be done.”
Upaya penuntut dan kemungkinan yang menanti setelah sidang
Sementara itu, pihak penuntut juga mengajukan banding terkait panjang vonis Patterson. Departemen Public Prosecutions (DPP) menolak pertimbangan yang digunakan hakim saat memutuskan masa parol.
Justice Christopher Beale pada putusan sebelumnya menyatakan kejahatan Patterson adalah yang terburuk dalam jenisnya. Tetapi keputusan untuk mengizinkan parol setelah 33 tahun, menurut Beale, dipengaruhi oleh “harsh prison conditions” yang harus dijalani Patterson.
Beale juga mencatat bahwa saat vonis dijatuhkan, Patterson telah menghabiskan 15 bulan dalam isolasi sel. Di penjara isolasi, narapidana tidak dapat bergaul dengan sesama, dan makanan disajikan melalui bukaan kecil pada pintu sel. Beale menambahkan bahwa ada “substantial chance” Patterson akan ditempatkan di sayap isolasi “for years to come”, terutama karena ketenaran perkara tersebut.
Hasil sidang banding tidak dipastikan segera setelah proses ini selesai, karena keputusan bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan. Bila pengadilan banding memutuskan untuk membatalkan putusan bersalah, ada dua kemungkinan: persidangan ulang atau pembebasan (acquittal).
Jika banding penuntut berhasil, Patterson bisa menghadapi perpanjangan masa parol melewati 33 tahun. Atau, ia bahkan dapat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa peluang parol (life without parole).












