jurnalistik.co.id – Sejumlah sopir angkot di Tangerang mengaku, sepi penumpang kini tak lagi semata bersumber dari persaingan harga dengan angkutan online atau moda modern ber-AC. Maraknya pencopetan di dalam armada membuat warga merasa waswas, sehingga mereka makin enggan naik angkot.
Dalam keseharian, kehadiran aksi kriminal itu terasa seperti beban tambahan yang menekan para pengemudi. Bukan hanya mengganggu ritme layanan, tindakan tersebut juga meninggalkan rasa takut yang perlahan merusak kepercayaan publik terhadap angkutan tradisional.
Para sopir menggambarkan teror yang muncul di tengah perjalanan. Ketika komplotan copet beraksi, fokus pengemudi dan penumpang bisa ikut terpecah, sementara citra angkot ikut menurun di mata calon penumpang.
“Ada beban berat lain yang bertengger di pundak mereka,” demikian yang mereka rasakan setelah pencopetan menjadi pemandangan yang makin sering dibicarakan.
Salah satu sopir, Sapri (50), yang melayani angkot rute Cikokol-Kalideres, menyebut pencopetan menjadi alasan penting armada tradisional ditinggalkan. Ia mengatakan komplotan biasanya bekerja dengan pembagian peran dan modus yang dibuat terencana untuk memicu kepanikan.
Sapri menceritakan variasi cara pelaku mendekati calon korban. “Banyak modusnya. Ada yang pura-pura kejepit lah tangannya,” kata Sapri saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
Menurut Sapri, ada pula strategi yang lebih mengandalkan kepura-puraan agar korban lengah. “Ada yang pura-pura muntah… ada yang pura-pura mijitin, terapi,” tambahnya.
Dalam praktiknya, korban umumnya baru menyadari barang berharga hilang setelah pelaku turun dari angkot. Saat situasi sudah mereda, barulah muncul keluhan kehilangan dompet, ponsel, atau barang lain yang sebelumnya dibawa.
“Tahu-tahu pencopetnya udah pergi, tahu-tahunya penumpang saya, ‘ aduh kehilangan, dompet saya enggak ada. Aduh, HP saya enggak ada,’ ” ujar Sapri.
Berita Terkait
Ia menilai, pola seperti itu membuat korban sulit bereaksi saat kejadian berlangsung karena pelaku tampak seperti penumpang biasa atau menampilkan tindakan yang membuat orang lain terfokus pada skenario yang dibuat.
Hal serupa disampaikan Yudi (37), sopir angkot biru rute Pasar Serpong-Pasar Anyar. Ia menjelaskan, para pelaku copet biasanya menyamar sebagai penumpang yang tampak wajar, lalu membangun percakapan intens untuk memecah konsentrasi calon korban.
“Biasanya modus mereka itu pura-pura jadi penumpang biasa, nanya-nanya jalan atau ngajak ngobrol terus-terusan biar korbannya lengah. Pas fokusnya pecah, baru temannya yang lain beraksi,” ungkap Yudi.
Yudi menggambarkan kerja sama yang rapi di dalam angkot: satu pihak berperan menciptakan situasi percakapan dan mengalihkan perhatian, sementara pihak lain memanfaatkan momen ketika korban tidak lagi menaruh kewaspadaan.
Berbeda pendekatan, Iqbal (33) memilih untuk memaksimalkan kewaspadaan dari posisi mengemudi. Ia mengatakan mengandalkan pengamatan terhadap gerak-gerik penumpang lewat kaca spion tengah sebagai langkah antisipasi terhadap beragam modus.
“Ada aja modusnya, kadang pura-pura jadi orang gila atau ngamuk enggak jelas di dalam mobil. Penumpang kan jadi takut dan hilang fokus tuh, nah di situ biasanya barang-barang langsung disikat,” tutur Iqbal.
Ia menekankan bahwa kepanikan dan rasa takut pada penumpang dapat langsung berdampak pada kelengahan, sehingga kesempatan pencurian muncul pada saat yang singkat.
Secara keseluruhan, para sopir memandang pencopetan bukan sekadar kejadian kriminal sesaat, melainkan masalah yang berkelanjutan karena efeknya terasa langsung pada perilaku masyarakat. Seiring rasa takut menguat, penumpang cenderung menghindari angkot dan memilih opsi lain yang dianggap lebih aman.
Akibatnya, para pengemudi harus menghadapi penurunan jumlah penumpang sekaligus tantangan menjaga setoran harian. Mereka berharap, penanganan dari pihak berwenang dapat berjalan dengan lebih tegas dan terukur.
Para sopir menginginkan adanya penataan serta pengawasan ketat agar angkot kembali menjadi moda transportasi harian yang aman, ramah, dan bebas dari teror kejahatan jalanan.












