Hukum & Kriminal

Dua petugas polisi diselidiki terkait penanganan pelaku pelecehan seksual yang membunuh dua perempuan

×

Dua petugas polisi diselidiki terkait penanganan pelaku pelecehan seksual yang membunuh dua perempuan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Two police officers investigated over handling of sex offender who murdered two women

jurnalistik.co.id – Pengawas kepolisian di Inggris tengah menelusuri bagaimana dua petugas di Metropolitan Police menangani Simon Levy, seorang residivis pelecehan seksual yang belakangan membunuh dua perempuan.

Investigasi itu mengarah pada dugaan kegagalan dalam pengelolaan Levy, mulai dari masa sebelum ia melakukan kekerasan lanjutan hingga proses penahanan dan pengawasan setelah ia berada dalam status hukum tertentu.

Vonis terhadap Simon Levy

Di Old Bailey, Simon Levy yang berusia 40 tahun—berasal dari Tottenham, London utara—dinyatakan bersalah atas dua dakwaan pembunuhan, dua dakwaan pemerkosaan, serta dakwaan lain termasuk grievous bodily harm with intent dan non-fatal suffocation.

Ia dijadwalkan menjalani penahanan lebih lanjut setelah vonis, karena saat itu ia reman ke tahanan menjelang proses penjatuhan hukuman pada 12 Agustus.

Putusan tersebut terkait serangkaian tindakan kekerasan yang dilakukan pada 2025. Penyidik menyebut Levy melakukan perkosaan kekerasan pada Januari 2025, ketika ia sedang berada di jaminan (bail) dan dipantau polisi.

Selanjutnya, pada Maret 2025, Levy membunuh Carmenza Valencia-Trujillo yang berusia 53 tahun, dan lima bulan setelahnya ia juga membunuh Sheryl Wilkins yang berusia 39 tahun.

Pengadilan juga mendengar bahwa Levy memiliki rangkaian keyakinan sebelumnya terhadap perempuan, yang jejaknya kembali hingga Juli 2018. Di antaranya, ia pernah melakukan tindakan yang melibatkan seorang petugas penjara pada 2022.

Selain itu, juri—yang menerima arahan mayoritas selama persidangan—menyatakan Levy bersalah dalam seluruh tuduhan, termasuk terkait tindakan terhadap korban yang masih hidup.

Pemeriksaan watchdog dan ruang lingkup penyelidikan

Independent Office of Police Conduct (IOPC) menyatakan investigasinya dimulai pada Januari setelah Metropolitan Police melakukan rujukan sukarela terkait perilaku. Watchdog itu menegaskan pemeriksaan berlangsung dan masih berjalan.

Menurut IOPC, sebuah pemberitahuan pelanggaran dengan kategori misconduct atau gross misconduct tidak otomatis berarti proses disiplin pasti akan dilanjutkan.

IOPC menyampaikan bahwa seorang polisi pangkat constable sedang diperiksa dalam skema gross misconduct, sedangkan seorang detective sergeant diperiksa dalam skema misconduct, yang berhubungan dengan pengelolaan Levy.

Dalam perkembangan lain, pihak Metropolitan Police, British Transport Police, dan Crown Prosecution Service (CPS) mengakui adanya kekurangan yang “significant shortcomings”.

Watchdog menelusuri manajemen Levy dalam rentang empat tahun, sejak keyakinan pertamanya pada September 2021 terkait tuduhan penyerangan seksual hingga penangkapannya pada September 2025.

Periode itu juga mencakup beberapa fase status hukum Levy: ia dibebaskan dari penjara atas lisensi pada Februari 2023, lalu sempat dikembalikan ke penjara pada Mei 2024 setelah dituduh melakukan pemerkosaan sekaligus melanggar syarat lisensi—tetapi tanpa didakwa dalam perkara tersebut.

Juru bicara IOPC menyatakan: “We are examining whether action could or should have been taken to prevent his reoffending, and if all officers involved in his management followed policies, procedures, and training. “We are also assessing whether any learning, whether individual, force-wide, or nationally, or other changes should be implemented in light of the events under investigation.”

Respons aparat penegak hukum setelah putusan

Usai persidangan, Det Ch Insp Neil John yang memimpin penyelidikan menyampaikan penghormatan kepada Carmenza Valencia-Trujillo dan Sheryl Wilkins. Ia menggambarkan kedua korban sebagai “much-loved women” dan memuji keluarga mereka karena menunjukkan “incredible dignity and remarkable resolve”.

John juga menyebut korban yang selamat menunjukkan “commendable bravery” ketika menghadirkan “vital evidence” di pengadilan, sebelum kemudian ia menyerukan agar korban lain yang mengalami kekerasan terkait Levy berani maju.

John menegaskan: “Although we are proud of the work that has gone into securing this verdict, we remain relentless in pursuing offenders who perpetrate violence against women and girls and are appealing to anyone who is yet to report offences relating to Levy to come forward,” he added.

Assistant Chief Constable Charlie Doyle dari British Transport Police turut mendorong para penyintas yang mungkin memiliki informasi untuk tampil ke depan. Dalam saat yang sama, otoritas menyampaikan perhatian pada kegagalan proses penanganan yang memberi ruang bagi Levy melakukan serangan berikutnya.

Met Deputy Assistant Commissioner Kevin Southworth mengakui adanya kegagalan untuk menahan Levy dalam tahanan selama persidangan pengadilan pada Mei dan Juni 2025. Ia menilai kekosongan penahanan itulah yang membuat Levy bebas melakukan kejahatan lanjutan.

British Transport Police juga menyatakan dua petugas telah dipindahkan ke peran lain karena “incompetence” dalam menangani penyelidikan terhadap serangan Levy di wilayah transportasi.

Reaksi pejabat dan kritik atas proses bail

Menteri bidang kejahatan dan kepolisian, Sarah Jones, menyebut kondisi tersebut “raises serious questions”. Ia menambahkan: “The fact that Levy was able to inflict such devastating harm after being freed by police and the courts is deeply concerning.”

Dari sisi kejaksaan, Lisa Ramsarran selaku chief crown prosecutor untuk CPS mengatakan: “Our actions fell short of the standards that victims, families and the public are entitled to expect. “In particular, there were points where we could and should have taken a more robust approach to representations about bail, based on the information available.”

Dengan putusan bersalah yang menutup proses persidangan atas Levy, perhatian publik kini bergeser pada penyelidikan oleh IOPC untuk menilai apakah langkah pencegahan seharusnya bisa diambil lebih awal, serta apakah prosedur, pelatihan, dan kepatuhan kebijakan telah dijalankan secara memadai oleh seluruh petugas yang terlibat.

Proses pengawasan tersebut menekankan pelajaran yang dapat diterapkan, baik secara individu, di tingkat kepolisian, maupun pada level kebijakan yang lebih luas, agar kasus serupa tidak terulang dengan korban baru.