Hukum & Kriminal

Wes Streeting merasa “absolutely sickened” atas laporan pelecehan seksual di Army Foundation College (AFC)

×

Wes Streeting merasa “absolutely sickened” atas laporan pelecehan seksual di Army Foundation College (AFC)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Streeting 'sickened' by sex abuse claims at Army college

jurnalistik.co.id – Menteri pertahanan Inggris, Wes Streeting, menyatakan rasa “absolutely sickened” terhadap laporan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang menimpa perempuan muda yang menjalani pendidikan di Army Foundation College (AFC) di Harrogate, North Yorkshire.

Dalam pernyataannya, Streeting berjanji menelusuri apa yang “gone wrong” di kamp pelatihan tersebut, sekaligus menilai perubahan budaya yang perlu diterapkan di lingkungan angkatan bersenjata.

Ia menyampaikan bahwa penyelidikan tidak hanya diarahkan pada situasi di Harrogate, tetapi juga pada cara program perubahan budaya dijalankan di seluruh pertahanan.

Pengaduan para perempuan dan gambaran budaya kekerasan

Laporan yang diangkat menyebut ada empat perempuan yang mengaku mengalami kekerasan seksual serta pelecehan saat mengikuti pendidikan di AFC. Mereka menyampaikan adanya suasana yang mereka gambarkan mengarah pada misogini dan kekerasan seksual.

Para perempuan itu, yang identitasnya disamarkan untuk melindungi diri, mengikuti pendidikan di AFC dalam lima tahun terakhir. Streeting menyatakan ia juga berempati pada para korban yang, menurutnya, “badly failed”.

Menurut keterangan salah satu korban yang disamarkan sebagai Tilly, ia berusia 17 tahun ketika mengalami pemerkosaan di AFC. Ia menyebut pelaku merupakan beberapa rekan sesama prajurit yang mengundangnya ke kamar mereka.

Dalam kutipannya, Tilly menjelaskan: “They started taking my clothes off and then this led to them doing stuff I didn’t consent to.” Ia menambahkan: “And then I was raped… by multiple junior soldiers, same age as me. It went on for hours. I felt like a piece of meat.”

Streeting mengatakan ia memahami beban yang dialami para perempuan dan memuji mereka karena berani bersuara. Ia menegaskan pentingnya standar tertinggi bagi siapa pun yang mengenakan seragam.

Ia menyatakan: “We have a duty to uphold the very highest standards in uniform and to treat every woman with the dignity and respect she deserves.” Streeting juga menekankan bahwa niat dan kemampuan untuk bergabung tidak boleh padam akibat kegagalan sistem.

Ia menambahkan: “I don’t want anyone who has the ambition and talent to join our armed forces to be deterred, so it’s contingent on us to make sure that we’ve got our act together.”

Janji menelusuri “what’s gone wrong” di Harrogate

Streeting menjelaskan rencananya untuk melihat persoalan secara rinci. Ia mengatakan: “We have a duty to uphold the very highest standards in uniform and to treat every woman with the dignity and respect she deserves.” Pernyataan lain yang menegaskan fokusnya pada akar masalah disampaikan dengan kalimat: “I would be ‘looking in detail specifically at what’s gone wrong at Harrogate, but also looking more broadly at how we lead a programme of culture change across our armed forces and across defence.’”

Sementara itu, pihak Angkatan Darat menyatakan bahwa pelanggaran tidak dapat diterima dalam bentuk apa pun. Dalam keterangan yang disampaikan, mereka menegaskan: “unacceptable and criminal behaviour has absolutely no place in our armed forces” dan mendorong korban maupun saksi untuk maju.

Data laporan: dari pengaduan polisi hingga temuan Kementerian Pertahanan

North Yorkshire Police menyampaikan kepada BBC bahwa berdasarkan permintaan informasi melalui Freedom of Information Act, pihaknya menerima 16 laporan tindak pidana seksual yang terkait dengan kamp pelatihan tersebut sepanjang tahun hingga Juni. Laporan-laporan itu mencakup dugaan pemaparan tubuh, voyeurism, dan serangan seksual.

Dalam informasi yang sama, disebutkan tidak ada keterangan apakah seluruh laporan tersebut berujung pada penuntutan.

Selain itu, Kementerian Pertahanan (MoD) menyebut ada total 176 pengaduan terkait perilaku seksual yang tidak pantas di AFC sejak Januari 2018 hingga Juni 2025. Para perempuan yang menjadi narasumber mengaku mengikuti pendidikan di AFC selama periode lima tahun terakhir.

Kisah korban dan pengaruh sikap misoginis

Dalam salah satu cerita lain yang disampaikan kepada BBC, ibu dari seorang perempuan yang disamarkan sebagai Amy mengatakan putrinya mengalami serangan seksual serta pelecehan seksual hampir setiap hari selama masa pelatihan.

Ia menjelaskan bahwa karena kunci kamar Amy tidak berfungsi, ia mengatakan: “she found herself sleeping across the door to stop male soldiers coming in”.

Keterangan dari perempuan lain yang juga mengaku mengalami kekerasan seksual dan pelecehan di AFC menyinggung perilaku serta sikap staf yang, menurutnya, kemudian “rubbed off” pada sebagian remaja laki-laki.

Ia mengingat adanya pernyataan dari seorang instruktur: “It’s all about the pussy and how much of it you can get.”

Peran AFC dalam rekrutmen usia di bawah 19 tahun

AFC disebut sebagai fasilitas pelatihan militer terbesar untuk peserta di bawah 19 tahun di Inggris. Kamp ini juga menerima seluruh rekrutan Angkatan Darat yang berusia 16 tahun.

Respons MoD dan dorongan pengawasan eksternal

MoD menyampaikan bahwa kamp tersebut “welcomes external scrutiny and challenge”. Mereka menambahkan bahwa dalam setahun terakhir, AFC telah menjadi tuan rumah pertemuan dengan berbagai pihak safeguarding, anggota parlemen, kantor Children Commissioner, serta Armed Forces Commissioner.

MoD juga menyebut bahwa AFC menerima laporan “outstanding” dari Ofsted dalam periode yang dimaksud.

Seruan penyelidikan independen

Pekan ini, Sarah Atherton—mantan anggota parlemen untuk Wrexham—menyampaikan bahwa kepercayaan publik terhadap kamp tersebut hanya dapat dipulihkan melalui penyelidikan independen. Atherton sebelumnya pernah memimpin tinjauan pemerintah pada 2021 mengenai pengalaman perempuan di angkatan bersenjata.

Emma Lewell MP juga menilai bahwa apabila kasus serupa terjadi di sekolah atau lingkungan hunian lain untuk anak-anak, fasilitas itu “would have been closed down.”

Dame Rachel de Souza, Children Commissioner for England, mengatakan ia akan memastikan “appalling attacks” tersebut diselidiki. Ia menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab, termasuk atas kegagalan dalam melindungi para gadis, harus dimintai pertanggungjawaban.

Ia menambahkan bahwa semua anak yang tinggal jauh dari rumah berhak menghubungi timnya untuk memperoleh dukungan. Rachel de Souza juga menyatakan ia akan memastikan seluruh gadis di AFC dapat mengakses jalur bantuan tersebut.

Ke depan, janji Streeting untuk menelaah secara rinci apa yang terjadi di Harrogate diharapkan menjadi titik awal bagi evaluasi menyeluruh atas cara kebijakan perubahan budaya dijalankan di dalam lingkungan pertahanan.