jurnalistik.co.id – Del Somerville, 42 tahun, divonis penjara setelah mengaku bersalah atas violent disorder terkait aksi protes anti-migran di Portsmouth. Putusan ini menyusul pengakuan terdakwa atas perbuatannya berupa melempar botol plastik kecil dan kata-kata umpatan kepada polisi.
Somerville disebut menjadi pria pertama yang dipenjara dalam rangkaian proses hukum yang muncul dari aksi protes terhadap kedatangan migran di wilayah Eastney. Pengadilan menerima pengakuan bersalahnya setelah ia mengajukan plea guilty di Crown Court Portsmouth atas tuduhan violent disorder.
Sidang tersebut berkaitan dengan protes yang berlangsung semalam pada 6 September, tepat di sekitar Eastney Marina. Pada malam itu, ratusan orang berkumpul di area sekitar, menyusul kedatangan sebuah kapal yang membawa sekitar 120 migran dan kemudian dibawa ke darat di dekat Eastney Beach.
Migran yang dibawa ke darat tersebut dijemput di Channel dan selanjutnya disandarkan melalui layanan RNLI. Setelah proses penjemputan dan pendaratan berlangsung, sejumlah anggota kru sukarela RNLI dilaporkan menerima serangan pelecehan di dunia maya.
Pihak penuntut menjelaskan bahwa Somerville berada di antara kerumunan besar yang menyampaikan protes di Ferry Road. Edward Warren, jaksa penuntut, menyatakan bahwa awalnya pertemuan itu bersifat damai dan legal, meski kemudian situasi berubah.
Menurut keterangan di persidangan, sekitar sebelum pukul 23.30 waktu setempat, Somerville berada bersama kelompok pria yang saat itu ditahan oleh barikade polisi. Pengadilan juga mendengar bahwa terdakwa teridentifikasi melalui rekaman video yang diambil kamera tubuh petugas (body-worn video) saat melemparkan botol kecil serta mengumpat kepada polisi.
Somerville kemudian memberi penjelasan saat diwawancarai. Ia mengaku menemukan botol tersebut di tanah dan berniat melemparkannya ke semak terdekat, tetapi ia mengaku marah sehingga akhirnya melempar botol itu ke udara.
Berita Terkait
Penasihat hukum Somerville, Helen Easterbrook, menekankan bahwa kliennya “terseret” ke dalam situasi yang berlangsung pada malam kejadian. Ia menyampaikan bahwa Somerville berupaya menjadi “penenang” bagi kerumunan, namun pada akhirnya tetap melempar botol itu karena frustrasi.
Selain kasus violent disorder yang berujung pengakuan bersalah, Somerville juga menghadapi dakwaan terpisah terkait penyerangan kepada seorang petugas polisi. Untuk tuduhan assault tersebut, ia tidak mengaku bersalah, dan perkara itu akan dilanjutkan melalui persidangan di Portsmouth Magistrates Court pada tanggal yang akan ditetapkan kemudian. Dakwaan penyerangan tersebut dikaitkan dengan insiden pada 11 September.
Saat membacakan putusan, hakim Daniel Sawyer menyampaikan bahwa hukuman yang dijatuhkan dimaksudkan sebagai efek jera bagi pihak lain yang melakukan protes serupa di wilayah tersebut setelah kejadian pertama. Hakim menilai pentingnya mengingatkan bahwa tindakan terhadap aparat tidak dapat dibiarkan.
Dalam pertimbangan, Sawyer juga menyebut Somerville sebagai “thug”. Ia menyampaikan bahwa petugas kepolisian mengabdikan hidupnya untuk melindungi masyarakat, terlepas dari pandangan pribadi, dan bahwa hal minimum yang dapat diharapkan dari peserta protes adalah sikap hormat.
Hakim menegaskan bahwa pengadilan akan menghukum mereka yang melakukan penyerangan terhadap polisi. Pernyataan itu sekaligus menjadi peringatan atas perilaku yang mengarah pada kekerasan saat kerumunan menghadapi pengamanan.
Di luar Somerville, masih terdapat empat pria lain yang menunggu putusan. Keempatnya juga didakwa dengan violent disorder yang berasal dari aksi protes di Eastney pada periode yang sama.
Kasus ini menunjukkan bahwa pengadilan memandang serius tindakan yang melibatkan barang yang dapat melukai, terutama ketika terjadi dalam konteks protes yang dihadapkan pada garis pengamanan polisi. Dengan vonis terhadap Somerville, proses hukum atas kerumunan pada malam 6 September bergerak ke tahap yang lebih lanjut, sementara perkara lain tetap menunggu persidangan sesuai jadwal.












