jurnalistik.co.id – Di Hemlington Boxing Club, suara sarung tinju memecah waktu latihan. Di luar pusat itu, sebagian pemuda Middlesbrough justru menghadapi situasi yang mereka anggap makin sulit dihentikan.
Dylan, 20 tahun, mengatakan ia melihat pola yang sama berulang kali. Ia menilai polisi tidak punya ruang gerak yang cukup menghadapi kejahatan terorganisir.
“You see it all the time,” katanya. “But I just can’t see it stopping. The police can’t really do much against it.”
Perhatian publik menguat setelah kecelakaan A66 bulan lalu menewaskan tujuh orang, termasuk dua polisi. Menurut laporan, sebuah Volkswagen Passat yang dikejar aparat bergerak ke arah yang salah lalu bertabrakan dengan mobil patroli.
Bagi Dylan dan sejumlah remaja yang pernah mengenal salah satu korban, persoalannya bukan hanya pada tragedi tersebut, tetapi juga pada betapa mudahnya seseorang terseret ke kehidupan kriminal. Ia menggambarkan situasi itu hadir dekat dengan rutinitas sehari-hari.
“You could walk around the corner and there’s just a gang of lads stood there and they shout you over,” ujarnya. Ia menyebut banyak orang pada akhirnya dibuat merasa “tak punya pilihan”.
Di tengah kekhawatiran itu, Dylan dan para petinju lain menunjuk olahraga tinju sebagai alternatif yang membuat mereka tidak terjun ke jalan yang salah. Mereka mengatakan aktivitas terstruktur membantu menjaga fokus dan membatasi godaan untuk mencari sensasi di luar aturan.
“It stops you going down these bad tracks of crime, drugs, and what most of the lads my age are doing,” kata Dylan. “It’s just not something I want to be involved in, really,” tambahnya, seraya menilai ada juga yang justru “dipaksa” mengikuti arus tersebut.
Selain urusan kedekatan dengan geng, Dylan mengaitkan masalah dengan minimnya kegiatan aman bagi anak muda. Ia merujuk laporan yang dipublikasikan bulan lalu oleh Centre for Social Justice, yang menilai wilayah timur laut Inggris memiliki tingkat NEET tertinggi di negara itu.
Dalam laporan tersebut disebutkan sekitar “one in five 16 to 24-year olds” di wilayah itu tidak berada dalam pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan. Dylan, yang bekerja sebagai tukang bangunan/joiner, mengatakan ia beruntung menemukan pekerjaan yang tetap membuatnya sibuk.
“I think that’s where it’s going wrong, because people haven’t got anything to do,” ujarnya. Ia menilai ketika pilihan terasa sempit, sebagian orang lantas masuk ke kejahatan dan situasinya “spirals from there”.
Di hadapan kenyataan itu, Dylan tetap berharap masalah bisa berakhir, namun pesimis karena tidak melihat jalan keluar yang jelas. “I wish it would all stop, but it’s not going to because no-one’s got the answer for it,” katanya.
Korban, konten perayaan, dan rasa takut di lingkungan
Kecelakaan A66 menyebut nama-nama korban: Michael Cahill (23), Jakub Matusiak (23), Makai Saddington (18), Theo Rae dan Cole Worthy (keduanya 17), serta PC Matthew Blades (37) dan PC Tom Clough (38). Dari para lelaki di mobil Passat, hanya Michael Cahill yang tidak memiliki catatan penghukuman, sementara empat lainnya tercatat memiliki total 30 kasus terkait kejahatan seperti pencurian mobil, kepemilikan narkoba, penyerangan terhadap polisi, dan pelanggaran mengemudi.
Setelah kejadian tersebut, Perdana Menteri juga menyerukan agar perusahaan media sosial menurunkan unggahan yang merayakan tindakan mengemudi berbahaya. Dalam konteks ini, TikTok dari akun yang diduga milik Makai Saddington disebut menampilkan jenis konten yang sama.
Berita Terkait
Louis, 16 tahun, yang juga berlatih di Hemlington, menyebut klip serupa tampak berulang di beranda media sosialnya. Ia mengaku pernah melihat video mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
“I’ve seen quite a few videos on driving cars at high speeds,” katanya. “I just don’t think it’s cool.”
Louis mengatakan ia sudah mengenal Theo Rae sejak sekolah dasar dan terkejut ketika mendengar kabar kecelakaan fatal itu. Ia memandang gym tinju memberinya tempat yang aman untuk menghabiskan waktu, alih-alih mengejar sensasi lewat pelanggaran hukum.
Ia juga berharap lebih banyak orang mendapat akses pada olahraga atau aktivitas yang mereka nikmati tanpa harus mengarah pada tindakan berbahaya. “sports, or something they enjoy which isn’t doing dangerous stuff,” ujarnya.
Alex, 21 tahun, menyebut reputasi Middlesbrough semakin buruk di mata keluarganya. Ia menuturkan, “If I wasn’t here I’d just be out with my mates, or I’d just be sat at home doing nothing,” sebelum menjelaskan betapa sulitnya mencari kegiatan di malam hari.
“Realistically, what are you going to do on a night?” kata Alex. “There’s nothing to do. Everyone’s just out and about, especially the kids.”
Menurutnya, kejahatan terasa “normal” karena sulit dihindari. “You can’t hide from it,” ujarnya, termasuk ketika orang merekam aktivitas untuk TikTok dengan gaya “catch me if you can”.
Sejak kecelakaan A66, keluarga Alex juga mendesaknya untuk keluar dari kawasan tersebut. “You hear nothing good from Middlesbrough any more,” ujarnya, dan ia menambahkan, “I wouldn’t want to bring my kids up round here with all the stuff that’s going on”.
Trust pada polisi dan kebutuhan membangun kedekatan
James, 24 tahun, baru-baru ini pindah ke Peterlee, sekitar satu jam perjalanan bus ke utara. Meski sudah tidak tinggal di sana, ia mengatakan dulu ia sering melihat aktivitas geng.
“It might be drugs or knife crime or little petty things,” katanya. Ia juga mengingat bahwa beberapa warga sempat melontarkan kritik pada Cleveland Police, bahkan menyatakan mereka “rather die” daripada menelepon 999 karena rendahnya kepercayaan pada aparat.
James menilai hubungan antara warga dan polisi tidak harus dilihat secara hitam-putih. Ia mengatakan tetap ada kebutuhan untuk memperbaiki kerja sama agar kepercayaan tumbuh.
“The authorities need to ‘get to know the people more, understand the people more’ to build trust,” katanya. Ia menekankan bahwa kepercayaan dapat dibuka lewat kedekatan, “I think the moment you relate to people, that’s the moment you’ve opened the door to getting people’s trust.”
Dari pihak kepolisian, Chief Constable Victoria Fuller menyampaikan duka yang dirasakan pascakejadian itu. Ia menyebut “an incredible amount of grief” bagi dua polisi yang meninggal, sambil mengatakan bagaimana wilayah itu digambarkan di media nasional tidak sepenuhnya sesuai dengan yang mereka kenal.
Fuller juga menyatakan ada isu yang memang perlu ditangani. Ia menambahkan bahwa “a ‘minority’ intent on causing harm” bisa memberi dampak besar pada komunitas, dan ia mendorong warga untuk melapor ketika melihat persoalan.
Ia berharap masyarakat dapat saling menjaga, mengenali tanda-tanda ketika seseorang mulai terseret ke kejahatan, lalu melaporkan agar bantuan bisa diberikan. “We hope that people will look out for each other, spot signs of when people are getting drawn into crime and report it to us so that we can help people,” pungkasnya.












