jurnalistik.co.id – Ritual duka dan doa bersama digelar di Afrika Selatan untuk mengenang Elizabeth Moselakgomo, setelah jasadnya ditemukan di bagian timur Johannesburg. Warga dan pelari berkumpul untuk memberi penghormatan sekaligus menegaskan keprihatinan mereka terhadap meningkatnya kekerasan terhadap perempuan.
Elizabeth Moselakgomo disebut sebagai salah satu dari sembilan perempuan yang ditemukan di wilayah Kempton Park sejak bulan Juli. Ia dikenal sebagai pelari yang sering melakukan aktivitas di luar ruang, termasuk saat ia dinyatakan hilang setelah menjalani lari rutin.
Dalam narasi yang beredar di kalangan pelari, Elizabeth kemudian disebut dengan nama panggilan “Tsontso”. Saat menjalankan rutinitas lari, ia dilaporkan menghilang, sebelum akhirnya ditemukan tewas. Temuan ini mendorong banyak orang untuk mencari cara memeluk duka secara kolektif.
Pertemuan pelari juga diselenggarakan di kota Centurion. Acara tersebut dipakai sebagai bentuk penghormatan langsung kepada Elizabeth, sekaligus penegasan sikap agar perempuan dapat berlari dan beraktivitas tanpa rasa takut yang berlebihan. Bagi para penyelenggara, kegiatan itu bukan sekadar pertemuan, tetapi juga ruang untuk menyuarakan hak yang selama ini dianggap kerap diabaikan.
Nonhle Mpohlo menyampaikan pesan yang menekankan harapan agar aktivitas berlari bisa dilakukan dengan aman. Ia mengatakan, “This is for her – we just want to live and go running and come back home without having to think that it may be one of us”.
Kegiatan serupa juga bergema di Cape Town, tempat warga berkumpul dalam sebuah vigili untuk para korban. Di sana, sejumlah peserta menyerukan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata, menyusul ketakutan yang muncul setelah kasus-kasus ini terhubung dengan kematian perempuan.
Keprihatinan publik tidak berhenti pada doa bersama. Polisi menyatakan telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Langkah ini diambil setelah serangkaian temuan yang menimpa perempuan di area Kempton Park.
Berita Terkait
Dalam imbauannya, aparat meminta perempuan di wilayah Kempton Park untuk tidak berjalan atau berlari sendirian, terutama ketika berada di lokasi yang terpencil. Pesan peringatan itu menegaskan bahwa situasi di lapangan dinilai masih rawan, sehingga orang-orang disarankan lebih berhati-hati saat beraktivitas.
Vigili yang digelar oleh pelari dan warga memperlihatkan dua kebutuhan yang berjalan bersamaan: menghormati mereka yang meninggal, serta memperjuangkan keselamatan agar aktivitas sehari-hari tidak lagi berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Bagi para peserta, rasa takut yang timbul juga berhubungan dengan kemungkinan bahwa seseorang bisa menjadi korban berikutnya.
Rangkaian doa dan pengumpulan massa itu mencerminkan bahwa kehilangan Elizabeth Moselakgomo tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh komunitas pelari yang berusaha melindungi anggota mereka dan memperkuat solidaritas. Di tengah duka, mereka ingin pesan keselamatan sampai pada lebih banyak orang, termasuk perempuan yang masih memilih untuk berolahraga di ruang terbuka.
Dengan jasad yang ditemukan di wilayah timur Johannesburg dan kaitan kasus yang melibatkan sembilan perempuan di Kempton Park sejak Juli, perhatian publik kemudian menguat pada wilayah-wilayah tempat aktivitas rutin dilakukan. Para peserta vigili berharap penyelidikan dapat menjawab pertanyaan yang selama ini membayangi komunitas.
Melalui doa bersama, pengorganisasian acara di Centurion, dan imbauan resmi dari polisi, narasi yang terbentuk menekankan bahwa tindakan pencegahan harus berjalan bersama dengan proses penegakan hukum. Sementara tim penyelidik bekerja, warga terus mengingat nama Elizabeth Moselakgomo sebagai korban, sekaligus sebagai pengingat bahwa keselamatan perempuan perlu menjadi prioritas.
Langkah berjaga yang diminta polisi—untuk tidak beraktivitas sendirian, khususnya di area yang terpencil—menjadi salah satu bentuk respons segera yang dapat dilakukan masyarakat. Namun, vigili di Cape Town dan inisiatif pelari di Centurion menunjukkan bahwa harapan warga juga tertuju pada keberanian pemerintah dan aparat untuk bertindak lebih cepat dan lebih tegas.
Di akhir kegiatan, yang tersisa adalah tekad untuk tetap hidup dan kembali berlari dengan rasa aman. Para penyelenggara memandang perjuangan ini sebagai cara untuk menghormati Elizabeth sekaligus memastikan bahwa ketakutan tidak berubah menjadi alasan untuk menyerah pada kehidupan sehari-hari.












