Internasional

PM Yunani Mitsotakis mendesak Andy Burnham mengembalikan Elgin Marbles secara permanen

×

PM Yunani Mitsotakis mendesak Andy Burnham mengembalikan Elgin Marbles secara permanen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Greek PM Mitsotakis urges Burnham to return Elgin Marbles

jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis mendesak Andy Burnham agar mengambil langkah tegas untuk mengembalikan Elgin Marbles secara permanen ke Yunani. Ia menilai, soal ini membutuhkan “political will” dan keberanian.

Mitsotakis menyampaikan desakan tersebut dalam tulisan di Guardian, menekankan bahwa pengembalian warisan klasik yang dikenal sebagai Elgin Marbles—seni-seni Parthenon yang kini berada di British Museum—akan “send a powerful signal” namun menuntut “courage”.

Elgin Marbles telah dipamerkan di British Museum sejak abad ke-19. Selama puluhan tahun, pemerintah dan otoritas Yunani mempertanyakan legalitas pengambilan patung-patung tersebut dari Athena dan terus mengupayakan pemulangan permanen.

Dalam pidato dan upaya diplomatiknya, Mitsotakis dan pemerintahan Yunani sebelumnya telah berdiskusi dengan British Museum. Namun, perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Otoritas Yunani tetap menginginkan pengembalian permanen, bukan skema lain yang hanya bersifat sementara.

Perdana Menteri Yunani juga mengaitkan seru-seruan politik terbaru yang muncul setelah peminjaman Bayeux Tapestry ke British Museum. Ia menggunakan momen itu untuk mengulang tuntutan negaranya atas Elgin Marbles.

Ia menulis, “Nobody would seriously contemplate cutting what survives of the tapestry in two and displaying half in London and half in Bayeux, and claiming this was an adequate way to understand it.” Menurut Mitsotakis, “Yet that is exactly what happened to the Parthenon sculptures.”

Komentar Mitsotakis muncul setelah Direktur British Museum, Nicholas Cullinan, menyebut pengaturan terbaru antara Inggris dan Prancis—dengan mengacu pada puluhan tahun permintaan pinjaman yang selama ini ditolak—membuka harapan adanya kesepakatan dengan Yunani terkait Elgin Marbles.

Namun, Mitsotakis menyatakan ia “surprised” dengan saran tersebut. Ia menyatakan: “I do not believe it does.” Ia menilai, penyelesaian semacam itu tidak sejalan dengan posisi Yunani.

Dalam tulisan yang sama, Mitsotakis menegaskan, “Greece cannot accept any arrangement that would require it to recognise the British Museum’s ownership of the sculptures, or a scheme that would mean we ‘borrow’ parts of our own monument.”

Karena itu, ia mengimbau Burnham untuk konsisten dengan pernyataan sebelumnya mengenai Elgin Marbles, sembari mencari cara agar pengembalian bisa dilakukan untuk selamanya. Baginya, langkah seperti itu akan menjadi titik balik yang menentukan.

Mitsotakis menyebut pengembalian permanen sebagai “decisive step” yang dapat “reunite the sculptures and transform a historic dispute into a unique act of cultural friendship”.

Menariknya, pada 2023—beberapa tahun sebelum ia kembali ke pemerintahan dan kemudian menjadi perdana menteri—Burnham pernah mengatakan bahwa Elgin Marbles harus dikembalikan ke Yunani dengan “no strings attached”. Ia juga selama bertahun-tahun mendukung perubahan aturan hukum agar pengembalian tanpa syarat menjadi mungkin.

Namun, bulan lalu Burnham memberi penjelasan berbeda dalam wawancara yang dikutip dari Financial Times. Ia menyatakan bahwa “ultimately it’s an issue for the British Museum”, dan menambahkan bahwa “legally that’s where that issue rests”.

Perbedaan penekanan inilah yang kemudian mencuat lagi belakangan, seiring meningkatnya perbincangan dan retorika seputar isu yang lama diperselisihkan itu.

Secara historis, Baron Inggris yang dikenal sebagai Lord Elgin memperoleh izin dari Kekaisaran Ottoman—otoritas yang saat itu berkuasa di Athena—untuk menghapus sebagian patung marmer pada awal abad ke-19. Patung-patung tersebut dibuat antara 447BC dan 432BC untuk menghiasi Temple of Athena, yang sekarang dikenal sebagai Parthenon, di kawasan Acropolis Athena.

Kemudian, pada 1816, sebuah komite pemilihan parlementer menilai tindakan Elgin legal. Setelah itu, patung-patung tersebut masuk ke koleksi British Museum melalui sebuah tindakan parlemen.

Yunani tetap memperselisihkan bahwa pengambilan itu sah. Permintaan untuk mengembalikan patung-patung tersebut telah menjadi tuntutan yang vokal selama bertahun-tahun. Di museum Parthenon, Acropolis Museum di ibu kota Yunani, ruang pamer dirancang dengan sengaja menyisakan tempat bagi patung-patung yang saat ini berada di British Museum.

Pada periode yang relevan, George Osborne—yang saat itu menjadi ketua museum—pernah menyatakan kepada BBC bahwa ia mencari “more co-operative arrangement” setelah “quite a bitter disagreement” dengan Yunani yang berlangsung lebih dari 200 tahun.

Komentar terbaru Mitsotakis juga dibaca sebagai tanda bahwa retorika terkait isu Elgin Marbles kembali diperkuat. Bulan lalu, Menteri kesehatan Yunani menyatakan kepada Breitbart News bahwa ia ingin agar Presiden AS Donald Trump memberi tekanan kepada Inggris untuk mengembalikan potongan Parthenon.

Sementara itu, British Museum—dan pemerintah Inggris—berpegang pada posisi bahwa hukum yang berlaku membatasi pengembalian permanen atas benda-benda yang disimpan dalam koleksi mereka. Meski demikian, skema peminjaman tetap dianggap umum dalam praktik museum.

Para pendukung pengembalian permanen juga menyoroti kemungkinan amandemen British Museum Act. Meski demikian, hingga kini pemerintah Inggris tidak menunjukkan bahwa perubahan tersebut menjadi prioritas.

Di tengah tarik-menarik hukum dan diplomasi, Mitsotakis menutup desakannya dengan menawarkan kerangka penyelesaian yang tegas: pengembalian permanen yang tidak mensyaratkan pengakuan kepemilikan British Museum, sekaligus memulihkan kesatuan karya yang—menurut narasi Yunani—merupakan milik monumen mereka sendiri.