jurnalistik.co.id – Empat perempuan yang kini bersuara kepada BBC menggambarkan pengalaman saat mereka masih remaja: dibujuk, dieksploitasi secara seksual, lalu laporan mereka dinilai tidak serius oleh aparat. Dalam dokumenter Britain’s Forgotten Girls, mereka menguraikan pola serupa—meski detail kejadiannya berbeda—dari rentang waktu sekitar 2002 hingga tahun terakhir.
Christine adalah salah satu yang memilih mengungkap identitasnya. Ia mulai berkomunikasi lewat pesan daring ketika berusia 13 tahun dengan seseorang yang diyakininya masih remaja, hingga pada pertemuan pertama ia mengetahui bahwa lawannya adalah pria dewasa yang berjarak 10 tahun lebih tua.
Menurut Christine, pria itu juga mengaku terlibat dengan geng dan bisnis narkoba. Christine kemudian berkata bahwa ia memang merasa “OK, he’s probably hurt someone, but in terms of hurting me, I didn’t think it would get to that point,” menyiratkan bahwa ia tidak menyangka kekerasan bisa sampai pada titik tersebut.
Seiring waktu, pria itu menggunakan Christine untuk mengantar barang terlarang. Ia juga mengalami eksploitasi seksual yang ekstrem dan serangan yang begitu kejam hingga Christine sempat takut bisa meninggal.
Christine menceritakan bahwa kedekatan awalnya dibangun dari sensasi merasa “diinginkan.” Ia kemudian menemukan bahwa hubungan yang semula terasa seperti kencan berubah menjadi situasi paksaan. Ia juga mengingat bahwa saat ia terbuka bahwa usianya 13 tahun, pria tersebut menjawab, “that doesn’t change anything. I still want to be with you,” sehingga mereka pun mulai “going out,” dalam penuturan Christine.
Bagi Annie, yang berasal dari London tenggara, daya tarik awal juga datang dari perhatian. Ia menggambarkan rasa “quite in awe, quite excited to have the attention” dari tiga remaja laki-laki yang lebih tua, yang berniat berteman dengannya, meski Annie sadar mereka terlibat narkoba.
Namun, bagi Annie dan Christine, yang bermula sebagai perhatian atau kedekatan berubah perlahan menjadi kontrol, paksaan, dan eksploitasi. Dalam kisah Annie, pada suatu malam ia mengaku para pelaku membuatnya mabuk, lalu melakukan pemerkosaan berulang sambil mengambil foto.
Annie menambahkan bahwa mereka mengancam akan menyebarkan foto-foto itu bila Annie tidak menyetujui “more sex, with more people.” Ia juga mengatakan, “The abuse went on for years,” dan kemudian menegaskan, “They would just use me. Just rape me again and again.”
Christine mengisahkan bahwa kekerasan meningkat saat ulang tahun ke-14. Saat itu, pacarnya meminta Christine tidur dengan teman-temannya untuk “help him out.” Christine mengaku, “And I did it. I felt disgusting, but he made it out like it was something he really needed,” sebelum akhirnya hubungan tersebut berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai tuntutan.
Setelah fase itu, Christine mengatakan “it became an expectation” bahwa ia harus berhubungan dengan pria lain. Ia juga menyebut eksploitasi seksual dan kekerasan fisik berlangsung lebih dari delapan tahun, dengan pengulangan pemerkosaan oleh pria yang terhubung dengan geng narkoba pacarnya.
Holly berasal dari Manchester. Ia melukiskan pengalaman tidak hanya sebagai korban kekerasan seksual, tetapi juga sebagai bagian dari eksploitasi kriminal. Menurut Holly, ia direkrut saat masih anak, lalu menjual narkoba di pusat kota.
Holly kemudian mengatakan ia di kemudian hari mengantar narkoba ke berbagai lokasi di seluruh Inggris, bahkan sejauh Carlisle dan London. Ia juga mengaitkan alasan perekrutan dengan pandangan bahwa perempuan akan lebih kecil kemungkinannya untuk dicurigai atau dihentikan serta diperiksa saat berhadapan dengan aktivitas penjualan narkoba.
Dalam penuturan yang dikutip dari National Crime Agency, terdapat keyakinan bahwa “women are less likely to be suspected of, or stopped and searched for, dealing drugs.” Holly juga menyampaikan bahwa kekerasan seksual dari anggota geng berulang kali ia alami sampai ia merasa semuanya menjadi normal baginya: “After a while it just became normal to me.”
Holly menilai dirinya sempat meyakini bahwa ia sedang “diinginkan” dan menjadi bagian dari keluarga yang peduli. Ia merujuk pada pola serupa yang menurut Centre for Young Lives telah ditemukan oleh pekerja sosial dan para ahli di lapangan.
Connie Muttock dari Centre for Young Lives menjelaskan perbedaan tujuan yang sering luput dari pembahasan publik. Ia mengatakan, “For grooming gangs, the primary purpose is often the sexual exploitation of those girls, but the primary purpose of a drug gang is to make money off selling drugs and other criminal activity.”
Muttock menambahkan bahwa perempuan dibawa agar menghasilkan uang, namun banyak juga yang mengalami pelecehan seksual oleh anggota geng. Ia juga mengacu pada audit pemerintah baru-baru ini mengenai pelecehan dan eksploitasi seksual berbasis kelompok di Inggris dan Wales, yang menyebut aparat sering gagal melindungi para korban.
BBC memahami bahwa isu geng narkoba akan dibahas dalam penyelidikan independen yang dibentuk sebagai respons terhadap audit tersebut. Muttock juga mengatakan hal yang senada tentang kekerasan yang berulang dalam sejarah geng: “As long as we’ve had drug gangs in [the UK] we have had girls being abused and coerced within them.”
Kisah para perempuan ini, menurut narasi BBC, juga ditemukan dalam laporan pada 2012, meski mereka yang terlibat menyatakan laporan itu tidak mendapat respons yang layak. Selain itu, Children’s Commission for England melakukan penyelidikan tentang eksploitasi seksual anak dalam geng dan kelompok, dengan rekomendasi perkiraan 16.500 anak berisiko mengalami pelecehan dari grooming groups atau kriminal gang.
Berita Terkait
Pada bagian ini, Sue Berelowitz—yang saat itu menjabat deputy Children’s Commissioner for England dan memimpin penyelidikan—mengingat bahwa sejumlah pihak sulit menerima skala sebenarnya. Ia berkata bahwa “Some people, including people in senior positions… found it very difficult to accept the real scale of what was going on.”
BBC juga menyinggung riset Prof Carlene Firmin dari Durham University yang menyatakan bahwa berita mengenai grooming seksual, meskipun serius, merupakan isu yang berbeda. Firmin menyebut hal tersebut “complicated things” dalam cara publik memandang kekerasan berbasis geng.
Dari sisi kebijakan, audit 2025 menempatkan Baroness Louise Casey untuk menetapkan skala kejahatan pelecehan seksual anak berbasis kelompok di Inggris dan Wales. Dalam laporan yang diacu, isu eksploitasi anak perempuan oleh geng narkoba disebut tidak menjadi bagian penting, tetapi audit tersebut menyatakan perhatian pada kegagalan aparat mengenali ketika seorang anak mengalami eksploitasi ganda—kriminal sekaligus seksual.
BBC menyebut Yvette Cooper, saat itu menteri dalam Kabinet, menyoroti topik tersebut di parlemen. Ia mengatakan, “I do not believe that this kind of exploitation has been sufficiently investigated.”
BBC juga melaporkan bahwa persoalan eksploitasi seksual sekaligus kriminal oleh geng narkoba di Inggris dan Wales kini akan diperiksa dalam Independent Inquiry into Grooming Gangs yang dibentuk pemerintah sebagai respons terhadap laporan Baroness Casey.
Menjelang bagian kesimpulan, BBC memuat pernyataan dari National Police Chiefs’ Council. Acting Chief Constable Rebecca Riggs menggambarkan pengalaman para perempuan sebagai “devastating” dan menyatakan penyesalan apabila ada pihak yang merasa tidak didengarkan, tidak dipercaya, atau tidak mendapatkan respons yang mereka butuhkan. Riggs juga mengatakan, “We did not always get it right, and where we failed victims, we continue to acknowledge it and learn from it,” kepada BBC.
Dalam pengalaman langsung, Christine mengatakan otoritas sebenarnya sempat diberi tahu melalui layanan sosial ketika ia berusia 15 tahun. Namun ia mengaku investigasi lebih fokus pada pelanggaran narkoba yang dilakukan anggota geng dibandingkan kekerasan yang dilaporkannya.
Christine menuturkan bahwa ia “sat for hours and hours in interviews…” tetapi ketika ia mulai menceritakan soal narkoba dan rumah-rumah terkait, “everything shifted.” Ia menjelaskan detektif justru meminta informasi tambahan mengenai penjualan narkoba: “Little old me coming and saying, ‘this is the abuse I’m going through’, wasn’t enough.”
Violet memiliki cerita yang selaras. Ia mengaku terlibat geng narkoba di London selatan sejak usia 13 tahun, kemudian melaporkan bahwa ia mengalami pemerkosaan berulang dan eksploitasi seksual oleh anggota geng.
Menurut Violet, pria-pria itu ditangkap karena perkara narkoba. Namun saat Violet kemudian menanyakan perkembangan kasus terkait pemerkosaan, ia diberitahu bahwa aparat memiliki “bigger fish to fry.”
Violet akhirnya menerima kompensasi menurut skema Criminal Injuries Compensation Board, tetapi ia mengetahui lewat surat bahwa kasusnya ditutup tanpa dibawa ke pengadilan. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai “pretty shocking, pretty offensive, pretty insensitive.”
Di saat Violet mencari bantuan setelah mengalami kekerasan seksual, ia mengaku pernah dituduh mencari “a ‘free lift home’” ketika ia berada di mobil polisi dalam kondisi terluka. Annie, di tempat lain, juga diberi tahu bahwa penuntutan tidak akan dilakukan karena kecilnya peluang putusan bersalah.
Annie menyatakan bahwa ia merasakan dampak dari sikap polisi dalam cara pandangnya sendiri: “I felt the fact [the police] did nothing really made me feel like it wasn’t abuse,” dan kemudian menambahkan, “It made me feel like it was my fault.”
BBC menuliskan bahwa tidak ada satu pun dari perempuan yang diwawancarai melihat adanya pelaku yang diproses melalui pengadilan atas kekerasan yang mereka sebutkan dialami.
Selain kisah personal, BBC menempatkan liputan ini dalam konteks yang lebih luas melalui dokumenter Britain’s Forgotten Girls. Dalam narasi yang disajikan, film ini menelusuri mengapa kegagalan perlindungan terus berulang selama dua dekade, termasuk melalui kesaksian penyintas dan pelapor.
BBC juga menyebut bahwa publikasi terkait bertepatan dengan keyakinan bersalah atas sembilan pria Asia karena grooming anak perempuan untuk tujuan seksual di Rochdale. Berita tentang grooming seksual, menurut Firmin, membuat konteks menjadi lebih kompleks ketika dibedakan dengan bentuk eksploitasi lain.
Pada penutup, BBC menggambarkan bahwa kini Violet, Holly, Annie, dan Christine telah membangun kembali kehidupan. Violet bekerja di layanan kesehatan reproduksi. Annie menjalankan Hear Her Collective yang berupaya memperbaiki dukungan bagi anak perempuan dan perempuan muda.
Holly kini meneliti eksploitasi kriminal anak serta sistem perawatan di University of Sheffield. Christine menyelesaikan studi di universitas dan kemudian menikah, serta menyatakan penting baginya untuk berbicara tentang masa lalu melalui buku yang ia tulis berdasarkan pengalaman sendiri.
Christine menutup dengan kalimat yang menunjukkan perubahan arah hidup: “I’ve learned to turn my pain into purpose,” dan ia menambahkan bahwa proses itu tidak mudah: “It’s not been an easy journey.”












