jurnalistik.co.id – Max Verstappen mengawali pembahasan musim 2026 dengan nada tegas. Ia menyinggung perpanjangan kontrak Red Bull, obrolannya dengan McLaren, serta keluhan tentang mobil yang terasa “numb” di balik setir.
Wawancara eksklusif itu berlangsung menjelang akhir pekan Grand Prix Italia. Verstappen datang setelah kontrak dua tahun dengan Red Bull resmi ditandatangani di Monza, dengan klaim “secara teori” masa berlaku hingga akhir 2030, meski klausul performa tetap menjadi penentu.
Dalam praktiknya, perubahan itu tidak menghilangkan bayang-bayang bagi keduanya. Verstappen menerima tambahan pendapatan, tetapi jika daya saing Red Bull tetap sulit bersaing tahun depan, peluang untuk mencari opsi lain tetap terbuka.
Musim yang belum sesuai target, fokus belajar untuk 2027
Menjawab posisi tim sejauh ini, Verstappen menegaskan bahwa kondisi belum berada di tempat yang ia inginkan. Ia menyatakan, “Of course it’s not where I want to be, but as a team we’re trying to just learn and understand a lot of things for next year.”
Ia juga menekankan bahwa tim tidak sedang berjuang langsung memperebutkan gelar. Menurut Verstappen, prioritas saat ini adalah menemukan tambahan performa, karena “Changes need to happen to the car for next year” dan perubahan tersebut tidak bisa dipasang untuk musim berjalan.
Bagian yang dipersoalkan, kata Verstappen, bukan sekadar kecil-menengah. Ia menyebut masalahnya mencakup performa secara keseluruhan dan rasa mobil yang tidak sesuai, terutama pada keseimbangan saat melewati tikungan yang terasa “hit and miss” di entry, mid, hingga exit.
Versi lengkap penilaiannya adalah, “Overall we’re just lacking a bit of performance. The car is not where I want it to be feeling-wise, and the through-corner balance is too hit and miss between entry, mid and exit.” Ia menambahkan bahwa secara mendasar mobil perlu dikerjakan ulang untuk tahun berikutnya.
Verstappen juga mengakui bahwa pola masalah itu sudah jadi tema lebih lama. Ketika ditanya tentang kekhawatannya karena terjadi lintas regulasi, ia menjawab, “That’s exactly that.” Ia lalu menyinggung dinamika internal tim: ada orang yang keluar dan orang baru yang masuk, dan diskusinya mengarah pada bagaimana memperbaiki keadaan itu serta apakah ini terkait perubahan filosofi.
Alasan memperpanjang: “second family” dan kepercayaan membangun ulang
Jika ditanya mengapa akhirnya menandatangani kontrak baru, Verstappen menempatkan keyakinan tim sebagai fondasi. Ia menyebut Red Bull adalah “This is like a second family to me,” serta percaya bahwa tim bisa membalik keadaan dan menumbuhkan masa depan yang lebih baik bersama orang-orang baru.
Ia menegaskan perpanjangan kontrak juga sejalan dengan agenda di luar Formula 1. Verstappen menyatakan ada banyak hal yang ia lakukan tahun depan yang tetap melibatkan Red Bull, sehingga ia merasa tempat itu adalah “the right place to be.”
Proses meyakinkannya, menurut Verstappen, tidak berlangsung dengan drama panjang. Ia mengulang pesan yang ia sampaikan kepada tim, “Don’t stress about it, just work on the car.” Ia memahami kemungkinan tim sempat khawatir, tetapi dari sudut pandangnya ia lebih memikirkan hal yang sedang terjadi di dalam mobil dan performa yang mereka hadapi.
Ia juga menyoroti kesibukannya di luar Formula 1 pada periode itu. Karena jadwal di berbagai urusan, ia tidak banyak waktu untuk membahas hal lain atau mempertimbangkan pindah tempat secara aktif.
Obrolan dengan Mercedes, McLaren, dan posisi bertahan
Dalam konteks pembicaraan lintas tim, Verstappen menyebut ia pernah mengobrol dengan Mercedes tahun lalu dan dengan McLaren tahun ini. Ia menegaskan semua obrolan itu “Of course, any kind of chat you take seriously,” sambil menambahkan bahwa pertemuan-pertemuan tersebut tetap penuh rasa hormat.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa ia merasa bertahan adalah pilihan yang tepat. Ia berkata, “I felt that staying was, for me, the right choice. You have to follow your heart,” serta mengungkap bahwa ia bisa saja pergi lebih cepat dari karier Red Bull, namun ia menganggap kesabaran yang pada akhirnya membawa kemenangan.
Ia menolak gagasan untuk segera membuktikan diri lewat mobil tercepat lain. Menurutnya, ia tidak ingin bersikap seperti “captain of the ship” yang begitu ada sesuatu tidak berjalan langsung meninggalkan kapal, karena baginya membangun ulang adalah bagian dari tantangan itu sendiri.
Verstappen merangkum pemikirannya dengan nada serupa, “It’s easy to run to the fastest car and then do it all again. But it’s not how I am. You cannot be the captain of the ship and as soon as there is something not working, you jump off the ship.”
Berita Terkait
Nürburgring 24 Jam jadi momen paling berkesan
Ketika ditanya balapan mana yang paling ia nikmati musim ini, Verstappen memilih Nordschleife di Nurburgring 24 Hours. Ia menyebut pengalaman itu terasa “super-cool” karena ia bisa menjalani event endurance bersama rekan setim yang memenangi balapan sepanjang musim utama.
Ia mengatakan mereka menargetkan performa tinggi dan merasa “We peaked at the right time,” tetapi hasil berakhir tidak seperti yang diharapkan karena mobil mereka mengalami pensiun akibat masalah. Meski demikian, ia menilai itu “an incredible experience” dan menyebutnya sebagai “Pure motorsport.”
Verstappen juga menyoroti stint pertamanya yang melejit dari posisi 10 ke posisi 1. Ia menggambarkan kondisi yang tidak mudah, termasuk mulai gerimis, lintasan licin, kecelakaan, serta kemunculan Code 60s setelah insiden.
Ia menyatakan bahwa ada pihak yang meragukan apakah ia mampu tampil dalam tekanan dengan berbagai skenario baru. Namun Verstappen menekankan ia sudah berlatih di simulator berkali-kali dan melakukan banyak putaran serta balapan 24 jam di sana, sehingga ia merasa “fully zoned in” dan menikmati prosesnya.
Ia menambahkan bahwa ketika balapan benar-benar dimulai, fokusnya berubah ke tingkat yang berbeda. “Once I was in the race, you switch to another level,” katanya, dan pengalaman itu membuatnya merasa sangat menyenangkan.
Rencana ke depan: endurance, Hypercar, dan kemungkinan Le Mans
Ia mengaku ingin kembali ke Nurburgring untuk meraih kemenangan. Setelah itu, ia menempatkan semua balapan endurance sebagai prioritas dalam daftar impian, lalu menyebut Hypercar sebagai bagian berikutnya.
Verstappen menyatakan ia tidak ingin terburu-buru. Ia ingin melakukannya “in the right environment,” “on my terms,” dan tetap berada dalam kondisi yang kompetitif.
Terkait Le Mans dan Fernando Alonso, Verstappen mengakui mereka sudah membicarakannya. Ia menilai Alonso yang berusia 45 tahun masih tampil cepat, dan menganggap Le Mans bisa menjadi opsi yang baik, dengan syarat jadwal sesuai, masuk akal, sesuai caranya, serta masih ada peluang nyata untuk menang.
Keluhan soal regulasi mesin baru: “unnatural” karena mobil terasa “numb”
Verstappen juga membahas kekecewaannya terhadap aturan mesin baru Formula 1. Ia mengingat bahwa di Grand Prix Jepang ia sempat bertanya, “Is it worth it?” dan menyebut apa yang membuatnya bisa menerima situasi itu adalah harapan bahwa semuanya akan membaik ke depan.
Ia mengakui saat ini ia menerima keadaan yang ada, sambil menegaskan masih ada cinta pada olahraga tersebut. Namun ia membedakan antara cinta pada sport dan ketidaknyamanan dalam cara berkendara, dengan mengatakan, “Not at the moment the driving. But the love for the sport.”
Ia berharap dalam beberapa tahun mendekati 2030, aturan tersebut justru membuat kompetisi semakin baik. Ia juga menekankan bahwa aturan ini berlaku untuk “the next four or five years,” sehingga tim dan pembalap harus menyesuaikan diri sambil menunggu dampak jangka panjangnya.
Dalam penjelasan tentang mengapa pembalap bisa frustrasi, Verstappen menilai format baru membuat tugas mengemudi terasa lebih “unnatural.” Ia membandingkan dengan sejarah olahraga: biasanya pembalap yang paling berkomitmen—melesat lebih akhir saat mengerem, lebih awal membuka throttle, dan agresif di kecepatan tinggi—akan dihargai karena memperoleh waktu melalui tikungan.
Namun kini, menurut Verstappen, pembalap terus memikirkan kompensasi. Ia menjelaskan bahwa di situasi tertentu pengemudi harus menahan sedikit, kemudian “Go later on throttle,” mengerem lebih awal, atau mengangkat gas agar mendapatkan top speed.
Verstappen menegaskan bahwa mobil baru kehilangan karakter respons alami. Ia menyebutnya “It’s so unnatural. It’s so not how it should be,” lalu mencontohkan perubahan cepat pada pembalap yang baru masuk mobil tertentu: Yuki Tsunoda saat melompat ke mobil Racing Bulls di Dutch Grand Prix langsung terlihat kompetitif, dan Liam Lawson saat naik dari Racing Bulls ke Red Bull juga langsung mampu bersaing.
Ia menyimpulkan alasan itu dengan kalimat yang menyinggung rasa pedal dan respons setir. “It’s because these cars are numb to your driver inputs,” kata Verstappen, sambil tetap menegaskan bahwa tetap perlu putaran yang bagus.
“Of course, yes, you still have to do a good lap.”












