Olahraga

Real Madrid, PSG, Liverpool: Peta Peringkat Dinasti Terhebat Eropa

×

Real Madrid, PSG, Liverpool: Peta Peringkat Dinasti Terhebat Eropa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Real Madrid, PSG, Liverpool: Ranking Europe's greatest dynasties

jurnalistik.co.id – Di Eropa, keberhasilan bisa datang cepat, tetapi ada klub-klub yang mengubah kemenangan berulang menjadi warisan. Menjelang kampanye Liga Champions, Paris St-Germain tampil dengan ambisi menulis bab baru—sekali lagi—mencari mahkota kontinental untuk musim ketiga berturut-turut.

Debat tentang “dinasti” memang selalu bisa memicu perdebatan. Sepak bola sudah lebih dulu ada sebelum European Champion Clubs’ Cup dimulai pada 1955, dan begitu pula turnamen-turnamen awal seperti Mitropa Cup. Namun, daftar peringkat ini memusatkan perhatian pada satu metrik paling dicari: pencapaian di turnamen Eropa paling bergengsi.

Berikut gambaran bagaimana PSG ditempatkan di antara klub-klub yang pernah menjalani era dominan—mulai dari posisi 10 hingga 2.

10. Paris St-Germain (2024)

PSG langsung diletakkan di posisi terbawah daftar, tetapi dengan alasan yang jelas: mereka dianggap sedang membangun dinasti yang masih berjalan. Musim mereka berawal dengan performa yang kurang meyakinkan, meski pola semacam itu kerap muncul. Di sisi lain, keberlanjutan ambisi Eropa sangat mungkin tetap berujung pada target besar di musim panas berikutnya.

Ketika Qatar Sports Investments mengambil alih era modern PSG sekitar 15 tahun lalu, klub tumbuh menjadi kekuatan paling menonjol di Prancis. Namun, “sukses besar” di level kontinental membutuhkan perubahan pendekatan. Setelah masa belanja yang gemerlap, Nasser Al-Khelaifi pernah menegaskan, “It’s the end of the glitter,” yang diikuti dengan pengakhiran era “flashy, bling-bling”.

Perombakan berikutnya terasa lebih terarah ketika Luis Enrique datang pada 2023. Investasi tetap ada, tetapi fokusnya beralih pada pemain yang lebih muda—dibentuk lewat filosofi dan disiplin Enrique, sekaligus diberi ruang untuk berkembang. Dari proses itulah dua kemenangan Liga Champions yang meyakinkan akhirnya menjadi bagian dari narasi mereka.

9. Inter Milan (1963–65)

Jika PSG sedang membangun, Inter menggambarkan format dinasti yang lahir dari disiplin taktik. Heleneio Herrera—pelatih yang berakar dari pengalaman sebagai bek dan meniti karier di berbagai klub sebelum mendarat di Milan pada 1960—membawa pendekatan yang dikenal dengan disiplin catenaccio.

Di San Siro, Herrera mengembangkan “Grande Inter”, sebuah tim yang mampu menghukum lawan lewat serangan balik yang tajam. Inter meraih Scudetto pada 1962–63, lalu pada musim berikutnya menjadi tim pertama yang menjuarai European Cup tanpa kalah saat musim itu, saat Sandro Mazzola mencetak dua gol melawan Real Madrid di final.

Setelah mempertahankan mahkota setahun kemudian, Inter kembali menghadapi ujian besar: mereka kalah terlebih dahulu di leg pertama semifinal saat melawat ke Anfield, tetapi tetap mampu mengamankan tiket final dan menyingkirkan Benfica. Final yang mereka menangkan sekaligus menjadi penanda bahwa Benfica harus menelan kekalahan kedua dalam dua kesempatan dalam tiga musim.

8. Benfica (1960–62)

Era Benfica digambarkan sebagai kisah transformasi yang dimulai dari keputusan berani. Bela Guttmann, setelah menjuarai bersama Porto, datang ke Benfica dan langsung melakukan pembenahan: ia memecat pemain-pemain senior, lalu memberi panggung kepada skuad muda.

Dari langkah itu, Benfica bukan hanya meraih gelar liga, tetapi juga melangkah jauh hingga European Cup. Pada 1961, mereka mengalahkan Barcelona di final. Musim berikutnya, Eusebio—yang bergabung sebagai remaja—membantu Benfica mencapai kejayaan Eropa untuk kali kedua, kali ini dengan menyingkirkan Tottenham Hotspur di semifinal sebelum menghadapi Real Madrid.

Di final 1962, Ferenc Puskas mencetak hat-trick di babak pertama, tetapi Eusebio kemudian membalas dengan dua gol setelah jeda. Hasilnya, Benfica mengunci trofi kedua secara beruntun. Meski cerita tentang “kutukan” Guttmann—yang dipercaya membuat Benfica tak lagi meraih trofi Eropa selama 100 tahun—sering diperdebatkan, yang jelas mereka belum menemukan kembali trofi yang sama dan bahkan menelan delapan kekalahan final Eropa, termasuk tiga kekalahan pada dekade 1960-an.

7. Bayern Munich (1973–76)

Bayern pada 1970-an diposisikan sebagai masa “dewasa” yang mengangkat mereka dari kompetisi domestik Jerman Barat ke status elit Eropa. Klub ini memang baru promosi ke Bundesliga kurang dari satu dekade sebelumnya, tetapi mampu menancapkan diri sebagai kekuatan yang sulit ditandingi.

Dengan fondasi dari Sepp Maier di bawah mistar, Franz Beckenbauer sebagai sweeper yang agresif, dan Gerd Muller yang produktif, Bayern memulai fase puncak mereka tepat setelah West Germany meraih Piala Dunia 1974. Mereka kemudian meraih tiga trofi beruntun di Eropa, meski performa liga sempat menurun.

Beckenbauer bahkan pernah menyatakan bahwa Bayern telah melewati puncaknya setelah kemenangan European Cup pertama atas Atletico Madrid, tetapi pengalaman tetap menjadi penopang di pertandingan-pertandingan besar. Mereka mengalahkan Leeds di final Paris yang dipandang kontroversial, lalu mengamankan trofi berikutnya saat menghadapi Saint-Etienne pada tahun sesudahnya.

6. Barcelona (2008–12)

Kekuatan dinasti di daftar ini tidak selalu berarti satu tumpukan trofi. Barcelona era Pep Guardiola memperlihatkan bahwa warisan bisa menjadi mesin dominasi yang berlanjut. Walau Guardiola hanya menghabiskan empat musim di klub, periode itu justru menjadi masa yang membentuk identitas sepak bola modern.

Barcelona menjadi juara Eropa dua kali dalam tiga tahun, termasuk rentang yang diwarnai kekalahan kepada Inter besutan Jose Mourinho yang saat itu menjuarai treble. Meski demikian, yang paling bertahan dari Barcelona bukan sekadar hasil, melainkan gaya bermain yang dipelopori—terutama yang lahir dari La Masia—dengan Xavi, Andres Iniesta, Sergio Busquets, dan tentu saja Lionel Messi.

Dalam narasi yang sama, pengaruh gaya tiki-taka Guardiola itu disebut tetap terasa lebih dari satu dekade setelah Messi meninggalkan klub. Dinasti di sini dipahami sebagai sesuatu yang “resonansinya” bertahan, bukan hanya terhenti di masa kejayaan.

5. AC Milan (1988–1995)

Milan dalam daftar ini dilukiskan sebagai dinasti yang dibentuk oleh manajemen dan eksekusi yang konsisten. Peran Silvio Berlusconi disebut sebagai fondasi awal, ketika ia menyelamatkan klub dari kebangkrutan pada 1986 dan menunjuk Arrigo Sacchi ketika tim sedang naik.

Bisa diperdebatkan di mana “era” Milan dimulai dan diakhiri, tetapi rentang yang dibahas mencakup keberhasilan memenangkan back-to-back European Cups pada 1989 dan 1990. Pada 1994, Milan juga menghancurkan Barcelona yang saat itu dikenal sebagai “Dream Team” usai sebelumnya menelan kekalahan di final musim sebelumnya.

Menariknya, ada kampanye yang tidak berujung final karena insiden: pada 1991, babak perempat final leg kedua terpaksa dihentikan akibat kegagalan lampu stadion, padahal Milan saat itu masih tertinggal dari Marseille. Penolakan Milan untuk kembali bertanding pada menit-menit akhir juga berujung sanksi, karena mereka diban pada tahun berikutnya.

Dari Sacchi hingga Fabio Capello, lalu melalui trio Belanda Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard, termasuk pemain-pemain lokal seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, dan Alessandro Costacurta, tim inti yang bertahan dari kemenangan 1989 hingga kekalahan dari Ajax enam tahun kemudian menjadi simbol kekuatan Milan pada era itu.

4. Liverpool (1976–1984)

Dalam periode ketika dominasi Liga Eropa sempat dimiliki tim-tim Inggris, Liverpool menonjol melalui rangkaian kemenangan yang mengubah mereka menjadi rujukan. Di antara 1977 hingga 1984, Liverpool memenangkan tujuh dari delapan European Cups, dan “Boot Room” disebut memimpin langkah pada masa itu.

Reds merebut empat trofi di rentang tersebut. Saat itu, Nottingham Forest juga mencatat back-to-back European Cups, dan Aston Villa turut melengkapi perolehan Inggris. Namun perjalanan Liverpool di Eropa menurut narasi ini mulai benar-benar melejit ketika Bill Shankly memenangkan UEFA Cup pada 1973, lalu keberhasilan itu diulang tiga tahun setelahnya di bawah kendali Bob Paisley yang merupakan asisten Shankly.

Puncak berikutnya datang ketika Paisley membawa Liverpool meraih trofi terbesar di Roma. Setelah kedatangan Kenny Dalglish untuk menggantikan Kevin Keegan yang akan menuju Hamburg, Liverpool mempertahankan European Cup di Wembley melawan Club Brugge pada 1978, dengan Dalglish mencetak gol penentu. Tiga tahun kemudian, Liverpool kembali menjadi juara Eropa lagi setelah Alan Kennedy menaklukkan Real Madrid di Paris.

Yang dianggap paling mengesankan adalah kemampuan mempertahankan sukses melalui pergantian manajer. Dari Shankly ke Paisley, lalu ke Joe Fagan yang memimpin saat Liverpool mengalahkan Roma di Roma pada 1984. Narasi itu kemudian menyinggung kekacauan Heysel dan kekalahan oleh Juventus pada tahun berikutnya.

3. Real Madrid (2013–18)

Untuk Atletico fans, awal era ini terasa pahit: dua final dalam tiga tahun, dan dua kali mereka harus bertemu rival dari Madrid dengan hasil yang sama-sama menyakitkan. Real Madrid mengalahkan Atletico dalam final yang membuat Diego Simeone merasakan kegagalan tipis pada 2014 dan 2016.

Namun, kekalahan itu juga menandai perubahan pola: Real Madrid kemudian menjalani periode tiga tahun yang berujung pada dominasi paling sukses dalam sejarah European Cup. Formula yang digambarkan sederhana: membangun skuad dari pemain terbaik dunia, dengan Cristiano Ronaldo sebagai ujung tombak, serta menempatkan sosok legenda mantan pemain sebagai pelatih.

Dengan kedatangan Zinedine Zidane, era “galacticos” terasa semakin tak terelakkan. Real Madrid menjadi klub pertama di era Liga Champions yang tidak hanya mempertahankan trofi, tetapi juga mengangkatnya tiga kali beruntun. Setelah menyingkirkan Atletico pada bagian awal tiga-peat, mereka lalu mengalahkan Juventus dan kemudian Liverpool—dengan Liverpool yang diingat dalam final itu, termasuk peran Gareth Bale, blunder Loris Karius, dan jejak Sergio Ramos bersama momen-momen penting ketika Mohamed Salah disebut dalam narasi pertandingan.

2. Ajax (1968–73)

Seperti pengaruh Barcelona dalam era Guardiola, Ajax juga meninggalkan jejak yang lebih jauh dari koleksi trofi. Garis filosofi mereka—melalui Johan Cruyff—disebut bertahan dan terlihat pada klub-klub lain, bahkan sampai daftar ini sendiri mencantumkan keterkaitan yang melintasi masa dan tempat.

Rinus Michels digambarkan sebagai pelopor yang membawa Ajax dari ancaman degradasi menuju dominasi Eropa, meski pada final 1969 mereka kalah dari AC Milan. Dua tahun berselang, mereka kembali menjuarai untuk pertama kalinya dengan gaya permainan yang percaya diri dalam Total Football. Michels kemudian pindah ke Barcelona setelah sukses itu.

Walau demikian, Ajax tetap menjaga momentum. Stefan Kovacs mampu mempertahankan trofi pada tahun berikutnya, lalu menambah mahkota ketiga secara beruntun. Perjalanan mereka disebut memuat rentetan eliminasi besar, termasuk menyingkirkan Bayern Munich, Real Madrid, dan kemudian Juventus pada final.