Hukum & Kriminal

Juri Lindsay Clancy angkat bicara soal kebuntuan yang berujung mistrial

×

Juri Lindsay Clancy angkat bicara soal kebuntuan yang berujung mistrial

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lindsay Clancy jurors speak out on what led to mistrial

jurnalistik.co.id – Juri dalam persidangan Lindsay Clancy akhirnya membuat pernyataan publik pertama mengenai musyawarah yang berujung kebuntuan hingga dinyatakan mistrial. Mereka menggambarkan proses itu penuh kesulitan emosional, sekaligus menyoroti satu juror yang menolak mengikuti arah putusan.

Menurut tiga juror perempuan yang berbicara kepada NBC, panel sebenarnya sudah sangat dekat menuju kesepakatan. Namun keputusan tidak pernah bisa menjadi bulat, karena satu juror pria tetap tidak menyetujui vonis tidak bersalah karena alasan gangguan jiwa.

Dalam wawancara yang disiarkan oleh afiliasi NBC setempat, NBC10 Boston, ketua juri menyebut bahwa tidak mampu mencapai putusan adalah pengalaman yang “awful” dan seperti “emotional roller coaster”. Ketua juri berprofesi sebagai guru sekolah dasar yang telah pensiun.

Ia menggambarkan deliberasi berlangsung berat, dengan suasana yang ia sebut sarat tangis, air mata, hingga pelukan. “I was so sad, so sad that we couldn’t come up with a verdict for Lindsay. It was so heartbreaking,” ujarnya dalam kutipan yang disampaikan dalam wawancara.

Hampir sepakat, tetapi satu juror membelok

Tiga juror menyatakan bahwa mayoritas hampir sepakat untuk masuk ke tahap putusan. Targetnya adalah menyatakan Clancy tidak bersalah karena alasan gangguan jiwa terkait pembunuhan tiga anaknya.

Ketua juri mengatakan juror pria itu “admitted he had reasonable doubt” terkait tanggung jawab pidana, dan ia mulai mengisi formulir dengan rasa antusias. Ia bahkan menyebut proses pengisian itu sudah berjalan setengah jalan sebelum kebuntuan kembali terjadi.

Ketika pengisian formulir sudah berlangsung, juror pria tersebut kembali menyampaikan keberatan. Ia mengatakan bahwa juror pria itu menyatakan, “But I’m still not going to say that she’s not guilty by reason of insanity,” kepada panel saat persiapan putusan.

Terkait posisi tersebut, pihak yang disebut sebagai juror pria yang menjadi penghambat tidak muncul untuk menanggapi komentar-komentar itu. Dalam pernyataan tiga juror, suasana musyawarah juga sampai memicu pertengkaran dan teriakan yang pada beberapa momen terdengar “through the walls”.

Kerangka hukum di Massachusetts dan fokus pembuktian

Di bawah hukum negara bagian Massachusetts, Clancy tidak dibebani untuk membuktikan bahwa ia mengalami gangguan mental, maupun bahwa ia tidak memiliki tanggung jawab pidana. Sebaliknya, penuntutan harus membuktikan “beyond reasonable doubt” bahwa Clancy tetap bertanggung jawab pidana ketika membunuh anak-anaknya.

Ketua juri menekankan bahwa tujuan deliberasi bukan untuk menilai apakah Clancy membunuh anak-anaknya, karena ia mengakui perbuatannya. Ia menjelaskan, “We weren’t trying to figure out if she murdered the children. She did and she’s admitted that.”

Ia melanjutkan bahwa yang hendak dipahami adalah apakah pada waktu kejadian Clancy mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. “We’re trying to figure out – did she know right from wrong at that time,” kata ketua juri dalam wawancara.

Tiga juror juga mengatakan mereka tidak merasa terdorong oleh argumen penuntutan. Ketua juri menyebut, “Everything proved that she loved her children so she had to have snapped and not known what she was doing,” dalam penjelasan mereka tentang cara mereka memandang bukti di persidangan.

Juror lain yang bekerja untuk perusahaan penyedia layanan pertahanan pemerintah menyatakan bahwa juror yang menjadi penahan memiliki pertanyaan mengenai obat yang dikonsumsi Clancy. Ia menyebut keberadaan laporan toksikologi di ruang juri, termasuk kemampuan melihat “exactly the amounts,” beserta keterlibatan para perawat di antara anggota juri yang membahasnya.

Ia menambahkan bahwa juror penahan “completely disregarded the information that they gave,” sehingga, menurut mereka, informasi yang sudah ada tidak mendapat pertimbangan yang sesuai.

Juror ketiga berprofesi sebagai koki di pusat layanan senior. Ia mengatakan penuntut dalam perkara ini terasa “very, very harsh”, dan menyoroti bahwa penuntutan tidak menghadirkan saksi yang bisa menggambarkan karakter Lindsay sebagai sosok “a bad mother”.

Kronologi kebuntuan: musyawarah hampir 40 jam hingga perintah hakim

Selama persidangan, penuntut memanggil puluhan saksi, termasuk beberapa dokter, untuk mendukung tesis bahwa Clancy membuat keputusan yang diperhitungkan untuk membunuh anak-anaknya di ruang bawah tanah rumah mereka di Massachusetts. Perkara ini berisi rangkaian perubahan dramatis ketika juri bermusyawarah untuk menentukan nasib Clancy.

Juri memerlukan waktu hampir 40 jam selama tujuh hari sebelum menyatakan mereka berhadapan dengan kebuntuan. Dalam beberapa kesempatan, mereka juga memberi kabar kepada hakim bahwa ada satu anggota panel yang tidak mengikuti instruksi hakim terkait konsep “reasonable doubt”.

Atas perkembangan itu, pengacara pihak Clancy meminta agar juror penahan dikeluarkan dari panel, tetapi permintaan tersebut ditolak. Setelah itu, panel kembali menyatakan mereka tidak dapat mencapai keputusan yang bulat.

Hakim William Sullivan kemudian menyatakan mistrial pada hari Jumat. Dengan status tersebut, baik perkara maupun masa depan Clancy menjadi tidak pasti, karena penuntut memutuskan apakah mereka ingin menggelar persidangan kedua dengan juri baru.

Pengacara Clancy, Kevin Reddington, setelah mistrial mengatakan ia berharap tercapai kesepakatan dengan penuntut agar tidak perlu ada sidang kedua. Tiga juror yang berbicara kepada NBC juga menyatakan harapan yang sama, meski bila persidangan kedua tetap terjadi, mereka menyebut akan datang untuk mendukung Clancy.