Hukum & Kriminal

Muhammad Nur Fadly (22) Akui Jadi Sasaran Tembakan di Terminal Kampung Baru Tengah, Tak Lapor Polisi

×

Muhammad Nur Fadly (22) Akui Jadi Sasaran Tembakan di Terminal Kampung Baru Tengah, Tak Lapor Polisi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sempat Jadi Sasaran Tembakan di Balikpapan, Korban Tak Lapor Polisi: Yang Berlalu Biarlah Berlalu

jurnalistik.co.id – Muhammad Nur Fadly (22), tukang speedboat yang beraktivitas di Terminal Kampung Baru Tengah, Balikpapan Barat, mengaku sempat menjadi sasaran tembakan dalam sebuah insiden yang sempat viral di media sosial.

Fadly menyampaikan bahwa ia berada di lokasi saat kejadian berlangsung pada Rabu (12/8/2026) sore. Menurut pengakuannya, tembakan diarahkan tepat kepadanya, sehingga ia memilih menundukkan kepala secara spontan.

Ia mengatakan bahwa tindakannya menyelamatkannya dari kemungkinan terkena peluru saat situasi mulai mengarah pada kekerasan. Fadly menyebut dirinya beruntung tidak mengalami luka dalam insiden tersebut.

“Saya nunduk. Kalau saya tidak nunduk, pasti kena,” ujar Fadly, seperti dikutip dari pernyataan yang disampaikan kepada Tribun Kaltim, Kamis (13/8/2026).

Dalam keterangan yang sama, Fadly mengaku tidak membuat laporan polisi terkait kejadian yang dialaminya. Ia menyatakan hingga setelah peristiwa itu terjadi, belum pernah mengajukan laporan apa pun kepada pihak kepolisian.

Fadly juga memilih untuk menganggap persoalan tersebut telah berlalu. “Belum pernah saya bikin laporan. Anggap sudah, yang berlalu biarlah berlalu,” tuturnya.

Fadly menuturkan bahwa ia tidak mengenal pria yang diduga mengarahkan tembakan kepadanya. Ia mengaku tidak memiliki hubungan ataupun riwayat komunikasi dengan pria tersebut sebelum insiden terjadi.

“Tidak pernah saya berbicara sama dia. Baru sekali ini saja,” ungkap Fadly.

Meski demikian, Fadly mengaku menyimpan pertanyaan terkait alasan dirinya menjadi target tembakan. Ia menyatakan tidak mengetahui adanya kesalahan atau persoalan tertentu yang membuat dirinya dipilih sebagai sasaran.

“Yang saya pertanyakan, kenapa kamu arahkan ke saya? Padahal saya tidak ada salah apa-apa, tidak tahu apa-apa,” kata Fadly.

Awal keributan di lokasi

Fadly menyampaikan bahwa ia berada di area ketika keributan muncul di antara sebuah mobil berwarna hitam dan taksi bandara. Ia menyebut warga sempat berusaha menegur dengan cara yang baik-baik saat situasi mulai memanas.

Menurut penuturannya, proses saling tegur itu terjadi sebelum insiden berkembang lebih jauh dan berujung pada tembakan. Ia menempatkan dirinya sebagai pihak yang awalnya berada di lokasi ketika suasana berangsur memanas.

Fadly tidak menyebutkan adanya peristiwa komunikasi sebelumnya dengan pihak yang diduga melakukan penembakan. Ia justru menegaskan bahwa insiden tersebut merupakan pertemuan pertama yang ia alami dengan orang yang diduga menjadi pelaku.

Dalam pengakuannya, momen yang paling menentukan baginya adalah saat tembakan diarahkan. Ia mengatakan menundukkan kepala menjadi respons langsung yang ia lakukan agar tidak terkena tembakan.

Fadly kemudian memilih tidak melanjutkan persoalan tersebut ke jalur pelaporan. Ia menyatakan keputusan itu diambil dengan pertimbangan untuk menganggap kejadian telah selesai dan tidak meneruskan ke proses resmi.

Pengakuan Fadly juga menggambarkan bahwa meski ia mengaku menjadi sasaran tembakan, ia tetap tidak merasa persoalan tersebut perlu dibawa ke ranah laporan polisi. Namun, ia masih memegang pertanyaan mengenai motif serta alasan orang tersebut mengarahkan tembakan kepadanya.

Dalam penuturannya, Fadly menggambarkan situasi di lokasi berjalan cepat dan berubah menjadi tidak terkendali. Ia menyatakan responnya muncul seketika karena perhatian saat itu terpusat pada keselamatan pribadinya.

Ia menuturkan bahwa sebelum tembakan terjadi, suasana lebih dulu dipenuhi adu tegur yang dilakukan warga secara berupaya menjaga keadaan. Namun, kata-kata penengah tersebut tidak cukup untuk meredakan ketegangan yang makin mengarah.

Fadly juga menekankan bahwa ia tidak pernah mendapat penjelasan dari siapa pun setelah kejadian. Hingga kini, ia mengaku belum mengetahui apakah ada salah paham atau alasan tertentu yang membuat dirinya dipandang sebagai sasaran.

Meski memilih untuk tidak menindaklanjuti dengan pelaporan, Fadly mengaku tetap menyimpan kegelisahan atas kejadian itu, terutama terkait pertanyaan seputar tujuan tembakan. Ia menyatakan peristiwa tersebut menjadi pengalaman pertamanya bertemu pihak yang diduga melakukan penembakan.