Hukum & Kriminal

Perdana Menteri Thailand Berjanji Perketat Aturan Senjata Setelah Penembakan yang Menewaskan 8 Orang

×

Perdana Menteri Thailand Berjanji Perketat Aturan Senjata Setelah Penembakan yang Menewaskan 8 Orang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Thai PM vows to introduce stricter gun laws after eight killed in shooting

jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul berjanji memperketat aturan kepemilikan dan pembawaan senjata setelah penembakan yang dilakukan seorang remaja berusia 14 tahun menewaskan delapan orang dan melukai 22 lainnya. Dalam pernyataannya setelah insiden, ia menyatakan tragedi tersebut “seharusnya tidak terjadi” dan menyebut pemerintah akan menyiapkan regulasi yang membatasi penggunaan senjata api di ruang publik.

Penembakan terjadi di wilayah pinggiran Bangkok pada Jumat pagi waktu setempat. Remaja itu membunuh kedua kakek-neneknya di rumah yang mereka tinggali, lalu berangkat ke Debsirin School di Nonthaburi sebagai siswa di sekolah tersebut. Di lokasi sekolah, ia kemudian menyerang hingga akhirnya menembak dirinya sendiri.

Menurut laporan kepolisian, delapan korban termasuk korban yang meninggal di tempat kejadian dan satu korban tambahan yang kemudian dinyatakan meninggal akibat luka. Pada tahap awal, lima orang langsung meninggal dan setidaknya 23 orang dilaporkan mengalami luka, sebelum informasi terbaru menyebut ada korban kedelapan yang turut meninggal.

Anutin mengatakan rancangan undang-undang baru akan membatasi pembawaaan senjata api di ruang publik. Ia menegaskan bahwa aturan baru hanya akan memungkinkan pejabat pemerintah yang sedang bertugas untuk membawa senjata.

Kapolisi Kolonel Thadsakorn Konthong menyebut senjata dan peluru yang digunakan berasal dari kakek remaja pelaku. Pemeriksaan awal, menurutnya, menemukan indikasi bahwa senjata itu sempat dicari atau ditelusuri di kamar tidur sang kakek. Meski demikian, berbagai media internasional dan lokal melaporkan bahwa senjata tersebut terdaftar secara legal dan memiliki izin.

Thailand dikenal memiliki angka kepemilikan senjata sipil yang tinggi di Asia Tenggara. Diperkirakan terdapat sekitar 10,3 juta senjata api pada tangan warga sipil, dan sekitar empat juta di antaranya diyakini dimiliki secara ilegal. Negara itu memiliki aturan ketat yang memberi hukuman hingga 10 tahun penjara bagi pelanggaran kepemilikan senjata secara ilegal, tetapi penegakan hukum menghadapi persoalan.

Ketika menjabat sebagai menteri dalam negeri, Anutin memperkenalkan sejumlah kebijakan terkait pengendalian senjata. Langkah yang disebut mencakup larangan sementara untuk penerbitan lisensi senjata baru serta pembatasan impor. Saat konferensi setelah serangan, ia menyatakan, “Saya tidak hanya merasa sedih terhadap para korban, saya juga merasa sedih karena ini bisa terjadi di negara kita,” sebelum menambahkan pertanyaan tentang bagaimana tragedi seperti itu dapat terjadi.

Secara kronologi, remaja pelaku diyakini melakukan penembakan terhadap kakek dan neneknya yang masing-masing berusia 73 dan 74 tahun sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Keduanya meninggal akibat satu tembakan ke kepala. Setelah membunuh kedua orang tersebut, ia naik bus sekolah yang membawa senjata api dan puluhan peluru, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.

Pelaku lalu mengikuti pelajaran pertamanya pada pukul 08.30 dan pelajaran kedua pada 09.20. Sekitar setengah jam setelah masuk kelas kedua, ia mengeluarkan senjata dan mulai menembak. Serangan awal terjadi di lantai enam sekolah, ketika tiga guru dilaporkan tewas. Setelah itu, pelaku turun dari tangga dan bertemu wakil kepala sekolah serta sekretaris direktur yang sedang naik melalui tangga untuk memeriksa situasi. Keduanya ditembak hingga meninggal di tangga, menurut keterangan Mayor Jenderal Dejrapee Kongdee kepada Reuters.

Petugas dikerahkan selama penembakan masih berlangsung. Dejrappée menyebut bahwa pelaku ditemukan sekitar pukul 10.40 dalam kondisi telah menembak dirinya sendiri. Ia juga mengatakan lima orang meninggal segera di lokasi dan setidaknya 23 lainnya mengalami luka, sebelum kemudian dilaporkan ada korban tambahan yang meninggal.

Dalam penjelasan lanjutan, Kepala kepolisian nasional Jenderal Kittiratt Phanphet menyatakan hasil forensik menunjukkan tembakan pelaku cukup akurat, dengan beberapa tembakan mengenai bagian vital tubuh. Perdana Menteri menilai serangan itu “terencana dengan baik”, disertai “langkah-langkah yang jelas dan tujuan yang jelas”. Berdasarkan pemberitaan media lokal, polisi memeriksa perangkat milik remaja pelaku dan menemukan sejumlah video terkait penembakan di sekolah yang terjadi di Amerika Serikat.

Dari keterangan keluarga dan sejumlah laporan media lokal, pelaku digambarkan sebagai remaja yang pendiam dan berperilaku baik. Pihak keluarga menyebut ia banyak menghabiskan waktu di dalam rumah untuk bermain permainan video bertema kekerasan, jarang keluar, serta tidak ada indikasi bahwa ia merencanakan serangan tersebut. Pelaku tinggal bersama kakek-neneknya karena orang tuanya berpisah.

Sementara itu, Debsirin School didirikan di Bangkok pada 1885 dan disebut sebagai salah satu sekolah menengah atas terkemuka di Thailand, dengan cabang di berbagai wilayah. Alumni sekolah ini mencakup tokoh-tokoh penting Thailand, mulai dari diplomat, atlet, hingga beberapa perdana menteri.