jurnalistik.co.id – Sepuluh tahun setelah Corrie Mckeague hilang pada 24 September 2016, ibunya, Nicola Urquhart, kembali berbicara kepada BBC dan menyatakan bahwa ia telah berusaha “menutup” luka yang belum pernah benar-benar selesai.
Corrie Mckeague, seorang anggota RAF berusia 23 tahun, menghilang setelah menikmati malam di Bury St Edmunds, Suffolk. Meski tubuhnya tidak pernah ditemukan, pada 2022 ia secara resmi dinyatakan meninggal setelah sebuah inquest menyimpulkan penyebab kematian.
Dalam kesempatan yang berdekatan dengan peringatan 10 tahun penghilangan putranya serta momen yang akan menjadi ulang tahun ke-33 Corrie, Nicola menuturkan bahwa ia kini mencoba menata hidup dengan penerimaan atas vonis akhir tersebut. Ia menyampaikan, “I’ve given myself closure; my son is dead.”
Nicola menggambarkan masa-masa awal kehilangan sebagai periode yang panjang dan melelahkan, namun ia menegaskan bahwa keteguhannya selama bertahun-tahun berangkat dari kebutuhan untuk menemukan kebenaran. Ia juga menjelaskan bahwa dalam kepalanya, sosok Corrie tetap hadir, meski ia telah berupaya memberi ruang bagi “penutupan” yang selama ini sulit dicapai.
Ia mengingat momen terakhir sebelum Corrie menghilang. Menurut Nicola, ia melihat putranya untuk terakhir kalinya saat makan bersama untuk perayaan ulang tahun di Cheers, Bury St Edmunds. Corrie, kata Nicola, adalah pribadi yang penuh energi: “social hand grenade” yang “really did live every moment at a hundred miles an hour”.
Ketika kehilangan terjadi, Nicola menyebut dirinya masih merasakan dampak yang sama dalam rutinitas sehari-hari. “Every time I drive up a road, as I’m driving I still look at the verges, I can’t stop myself,” katanya, menggambarkan bagaimana kebiasaan menoleh ke pinggir jalan seolah kembali dipicu setiap kali ia melewati tempat-tempat yang mengingatkannya pada malam itu.
Upaya menjaga diri agar tetap “baik”
Nicola juga menyinggung bagaimana hari peringatan selalu membawa kesulitan. Ia mengakui, “The anniversary is difficult, but we will still try to be positive about it and the universe makes us remember it and generally in a really nice way.”
Di balik upaya untuk tetap menjalani hari, ia menegaskan bahwa kondisi “baik-baik saja” bukan sesuatu yang datang otomatis. Ia menyebut itu sebagai pilihan sadar: “We are fine, but that is a conscious, deliberate effort to be fine because it would be a disservice to his memory if we just shut down and didn’t make the best of our lives.”
Ia menambahkan bahwa tidak ada hari yang benar-benar berjalan tanpa Corrie menjadi pusat perhatian dalam pikirannya. “In every single way that you can think, there is not one day, one decision, that doesn’t go by without Corrie being at the forefront of it,” ujarnya.
Menurut Nicola, penutupan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan dari luar. “No one thing externally can give me closure. The only thing that can give me closure is myself saying, have I done everything I can?” katanya, sebelum menegaskan keyakinannya bahwa tidak ada langkah yang dilewatkan. Ia menyampaikan pula, “We definitely did all we could and I can honestly sleep at night knowing there was nothing I physically could have done any different.”
Dalam narasi yang ia bagikan, kehilangan Corrie juga membawa perubahan besar bagi keluarga, termasuk bagaimana mereka memandang masa depan. Nicola menyebut bahwa putranya tetap hidup dalam diri cucunya—sebuah cara yang ia anggap membantu bertahan sambil tetap menghormati memori Corrie.
Jejak malam terakhir: dari klub hingga “Horseshoe”
Menurut keterangan yang sebelumnya terungkap dalam rangkaian penyelidikan, Corrie Mckeague berbasis di RAF Honington, Suffolk. Malam itu, ia menikmati waktu keluar dengan minum, lalu dilempar keluar dari sebuah klub malam dan berpisah dari teman-temannya.
Setelah itu, ia pergi membeli makanan seperti burger, kebab, dan kentang goreng. Rekaman CCTV pada pukul 01:20 BST memperlihatkannya menggenggam makanan siap saji saat berjalan tertatih melalui kota.
Corrie kemudian tidur selama sekitar satu jam di depan pintu toko, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan kamera di Brentgovel Street pada pukul 03:25 BST. Ia disebut masuk ke wilayah yang dikenal sebagai “Horseshoe”, area yang dikelilingi sejumlah tempat makan seperti Greggs dan McDonald’s.
Tak ada kabar lanjutan setelah momen tersebut. Pencarian dan penyelamatan besar kemudian dilakukan, menelan biaya lebih dari ÂŁ2 juta menurut Suffolk Police, serta menyita perhatian publik dan turut memicu beragam teori. Proses panjang itu berakhir dengan penggalian di tempat pembuangan sampah di Milton, Cambridgeshire, yang berlangsung beberapa bulan namun tidak menemukan apa pun.
Kesimpulan inquest pada 2022
Berita Terkait
Pada 22 Maret 2022, setelah hampir enam tahun spekulasi, juri inquest memberikan penjelasan terkait hilangnya Corrie. Mereka menyatakan Corrie meninggal sekitar pukul 04:20 BST akibat “compression asphyxia in association with multiple injuries”.
Dalam penilaian tersebut, luka-luka yang dialami Corrie dikaitkan dengan kejadian ketika ia—berasal dari Dunfermline, Fife—memanjat ke dalam sebuah tempat pembuangan sampah komersial. Inquest menyebut bahwa ia sebelumnya pernah menggunakan bin tersebut sebagai tempat untuk tidur, sebelum bin dituang ke sebuah truk limbah.
Selama persidangan, Suffolk Coroner’s Court mendengar bahwa sekitar 30 ton gaya dikeluarkan pada setiap siklus pemadatan di bagian belakang truk bin. Dengan kondisi itu, peluang untuk bertahan dinilai “slim”.
Ellie, cucu yang membawa pengingat
Nicola juga menceritakan bahwa putranya memiliki seorang putri, Ellie, yang lahir sembilan bulan setelah Corrie menghilang. Ia menyebut Ellie sebagai berkah dan bagian yang membuat keluarga terus menemukan cara untuk mengingat Corrie dengan damai.
Nicola menggambarkan Ellie sebagai sosok yang “lovely, happy and well-behaved”. Ia mengatakan cucunya mirip Corrie dalam banyak aspek: “She’s just like her dad, it’s frightening; she looks so much like him, she’s got his mannerisms, she’s adorable, athletic, sporty.”
Ia menambahkan, “It’s so lovely having a little mini Corrie to remind us of him, she is the very best of him, and she’s a very lucky little girl, in some respects, with the family that she’s got.” Nicola juga menyimpulkan, “It is fantastic having Ellie in our lives – it genuinely is just a little bit of Corrie.”
Menurut Nicola, keluarganya menjalankan beragam “little things” agar Ellie selalu merasakan ayahnya dalam cara yang ia anggap positif. Misalnya, mereka berkunjung ke Cenotaph di London setiap tahun pada Remembrance Day, serta menikmati aktivitas favorit Corrie, seperti menonton Wicked the Musical.
Ia juga menuturkan bahwa kelak Ellie akan menerima hadiah khusus dari mobil Corrie yang sempat berada di pangkalan. Nicola menjelaskan bahwa kakak Corrie, Darroch, mendapatkan MG mobil yang ada di base dan menghabiskan waktu untuk membuatnya kembali berjalan. “The car is going to Ellie,” katanya, seraya menambahkan, “whether it will still be running when she can drive, I do not know, but she’s going to be the one that has his car.”
Nicola menyebut Ellie memiliki figur ayah yang nyata dalam memori keluarga, tetapi tetap memahami siapa Corrie dan siapa keluarga Corrie. “She’s got a father figure, who is her dad, and he’s fantastic, but she also knows exactly who Corrie is and who Corrie’s family are,” ujarnya.
Permintaan maaf aparat—dan kritik atas perusahaan pengelola sampah
Dalam tahun-tahun setelah Corrie menghilang, Nicola pernah bersikap kritis terhadap cara Suffolk Police menangani penyelidikan awal. Ia menilai pihak kepolisian tidak menindaklanjuti lini informasi dengan cukup, menahan informasi dari keluarga, serta terlalu cepat menutup kemungkinan keterlibatan pihak ketiga.
Namun setelah inquest, Nicola mengakui adanya perubahan sikap dari petugas. Ia mengatakan polisi “genuinely privately apologised to each and every” anggota keluarga dengan “tears in their eyes”, lalu kemudian menyatakan bahwa mereka “got it right”.
Nicola menyatakan hal yang berbeda terkait Biffa, perusahaan pengelola sampah yang memiliki bin tempat Corrie diyakini berada. Ia menyoroti perbedaan data terkait berat bin: awalnya perusahaan memberi tahu polisi bahwa bin tersebut berbobot 11kg (1st 10lbs), namun kemudian tercatat 116kg (18st 3lbs).
Ia juga menilai Biffa belum belajar dari pelajaran yang seharusnya diambil. Nicola mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi bin yang masih terbuka ketika ia kembali ke Bury St Edmunds. Ia mempertanyakan kemungkinan nasib Corrie: “Is it possible he went in the back of a bin and ended up in the landfill? Because of Biffa, we will never know what happened to Corrie and that upsets me.”
Status penyelidikan yang dinyatakan selesai
Sementara itu, Suffolk Police menyampaikan bahwa perhatian mereka tetap tertuju pada keluarga dan teman Corrie pada peringatan 10 tahun penghilangan. Juru bicara menyatakan bahwa penyelidikan aktif mengenai hilangnya Corrie Mckeague sekarang ditutup, dan kecuali ada informasi baru yang realistis serta kredibel, maka penyelidikan dinilai lengkap. Ia menambahkan, saat ini tidak ada informasi yang mengubah status penyelidikan.
RAF juga menyampaikan “thoughts and sympathies” kepada keluarga, teman, dan rekan Corrie Mckeague. Di sisi lain, Biffa menyebut keselamatan publik dan karyawan sebagai prioritas utama, menjalankan pelatihan rutin dan program penyegaran, serta memperkenalkan papan peringatan tambahan untuk mencegah orang masuk ke dalam bin.
Biffa menambahkan bahwa walau tidak ada tindakan yang bisa menghapus tragedi yang dialami keluarga Corrie, perusahaan berkomitmen untuk belajar dari temuan inquest dan bekerja sama lintas sektor pengelolaan sampah demi meningkatkan keselamatan.












