Hukum & Kriminal

Dokumen Bocor BBC: Pengelola Lapas Inggris-Wales Diminta Tak Pakai Sel Tak Layak Saat Overcrowding

×

Dokumen Bocor BBC: Pengelola Lapas Inggris-Wales Diminta Tak Pakai Sel Tak Layak Saat Overcrowding

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Prison staff told not to use inadequate cells as overcrowding worsens

jurnalistik.co.id – Staf lapas di Inggris dan Wales diberi peringatan agar tidak menggunakan sel yang tidak memadai ketika kapasitas penjara terus menipis. Peringatan itu muncul dalam dokumen yang bocor ke BBC, berisi panduan mengenai “operational capacity guidance” untuk mengatur berapa banyak narapidana yang boleh ditempatkan di setiap penjara.

Dalam surat berdurasi enam halaman yang dikirim kepada anggota Prison Governors’ Association (PGA), pengurus penjara diminta mematuhi hukum saat memakai sel. Dokumen tersebut menekankan agar setiap sel memenuhi standar kesehatan dan keselamatan, serta layak digunakan sesuai jumlah penghuni yang ditampung.

Menurut staf lapas, praktik penempatan dua narapidana di sel yang seharusnya hanya untuk satu orang menjadi makin sering terjadi ketika penumpukan kapasitas memburuk di layanan penjara pria dewasa. Mereka menyebut kendala fisik fasilitas menjadi persoalan utama, bukan sekadar persoalan administrasi.

Seorang gubernur mengatakan kondisi itu “keeping two prisoners in cells built for one isn’t ideal”, namun tekanan terhadap pengoperasian dianggap membuat pilihan lain semakin sempit. Ia menambahkan bahwa “We don’t have the space”, serta menyebut sejumlah sel mengalami masalah pemanas atau pipa sehingga pada dasarnya para narapidana tidak seharusnya ditempatkan di sana.

Dalam penjelasan lain, gubernur tersebut menyoroti kegagalan infrastruktur, khususnya pada fasilitas yang lebih tua. Ia menegaskan bahwa “The infrastructure is failing, especially in the older establishments, and cramming people into cells isn’t going to help”, dan menambahkan bahwa situasi makin tidak tepat bila toilet atau wastafel tidak berfungsi.

Kementerian Kehakiman menyampaikan posisi bahwa “Cells are only doubled up where it is safe to do so.” Pernyataan itu menyertai rujukan aturan hukum dalam dokumen yang bocor, yang menegaskan batasan penggunaan sel berdasarkan sertifikasi inspeksi.

Operational Capacity Guidance menyatakan: “It is a legal requirement under the Prisons Act 1952, the Prison Rules and the Young Offender Institution Rules that no cell shall be used for the confinement of a prisoner or young offender unless it is certified by an inspector that its size, lighting, heating, ventilation and fittings are adequate for health and that it allows the prisoner to communicate at any time with a prison officer.” Dokumen yang sama juga menyebut bahwa jumlah orang di dalam penjara tidak boleh melebihi jumlah ruang yang tersedia.

Sejumlah staf menyatakan ada kekhawatiran bahwa pemerintah menekan manajemen penjara untuk menerima narapidana lebih banyak daripada kapasitas yang benar-benar masuk akal untuk ditampung. Mereka menyebut aturan bisa diregangkan atau bahkan dilanggar demi memberi ruang tambahan, dengan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan.

Bagi sebagian staf, panduan tersebut dianggap sebagai “warning shot” bagi pihak yang menentukan batas maksimum kapasitas operasional penjara. Dalam struktur pengambilan keputusan, penetapan kapasitas operasional menurut dokumen berada bukan di tangan gubernur, melainkan pada atasan mereka, yaitu Prison Group Director (PGD). PGD menetapkan kapasitas berdasarkan penilaian jumlah total narapidana yang bisa ditahan serta mempertimbangkan kontrol dan keamanan.

Seorang petugas lapas menuturkan persoalan yang juga berkaitan dengan kemampuan pengawasan. Ia mengatakan, “We don’t have enough staff to monitor the extra prisoners.” Ia melanjutkan, “We don’t have the infrastructure to house the additional prisoners. So those who make the decisions need to abide by the law or they’re the ones who have to justify why they’re making governors take all these people”.

Situasi kapasitas dilaporkan berada pada tingkat sangat tinggi. Layanan penjara pria dewasa disebut mencapai 98.5% dari kapasitas, sementara beberapa staf menyebut tersisa hanya sejumlah kecil ruang. Sumber-sumber penjara menyatakan ada sedikit lebih dari 1,200 ruang tersisa di estate penjara pria dewasa, dengan total populasi sekitar 83,400 orang.

Karakter setiap fasilitas juga disebut bervariasi. Ada penjara yang dapat menampung lebih dari 1,000 narapidana, termasuk beberapa penjara besar bergaya Victoria. Namun ada pula penjara dengan skala lebih kecil, dengan populasi yang lebih terkonsentrasi pada kisaran ratusan rendah.

Mantan gubernur, John Podmore, menilai beban yang dipikul gubernur menjadi tidak adil karena mereka menghadapi krisis pemenjaraan yang menurutnya tidak mereka ciptakan. Ia menyebut situasi itu “fundamentally unfair”, lalu menegaskan bahwa publik mungkin memiliki sedikit simpati terhadap narapidana, tetapi itu tidak mengubah realitas di lapangan.

Podmore menambahkan bahwa menambah tempat tidur di sel bukan berarti membuatnya aman. Ia menegaskan, “You can put a second bed in a cell and call it capacity but that doesn’t make it sensible or safe.” Ia juga menyoroti bahwa sistem sedang memasukkan ribuan orang kembali ke penjara melalui mekanisme recall.

Dalam penilaian Podmore, bila pemerintah menginginkan ruang tambahan, fokus seharusnya pada alasan mengapa proses “revolving door” berjalan makin cepat, bukan semata-mata menekan kapasitas dengan menempatkan dua orang di sel yang dibangun untuk satu orang. Ia mengatakan, “If ministers want more space, they should look at why the revolving door is getting faster, rather than simply squeezing two people into a cell built for one.”

Langkah penanganan pemerintah juga disebut akan mulai diterapkan melalui skema pelepasan lebih awal. Mulai bulan depan, sekitar 4,500 pelaku dijadwalkan keluar lebih cepat selama periode sepuluh bulan sebagai upaya menciptakan ruang tambahan.

Pada 1 Oktober, sekitar 700 narapidana yang menjalani hukuman hingga 19 bulan akan dilepas lebih awal setelah menjalani sepertiga masa pidana di dalam tahanan. Selanjutnya, pada 13 Oktober, gubernur akan melepaskan gelombang kedua sebanyak 650 narapidana yang menjalani vonis antara 19 bulan hingga dua tahun dan lima bulan.

Seorang juru bicara Kementerian Kehakiman menyatakan pemerintah mewarisi krisis kapasitas setelah penambahan tempat hanya bertambah 500 selama 14 tahun, tetapi mengklaim akan “pulling every lever available” agar negara tidak kehabisan ruang untuk menahan pelaku berbahaya. Ia menyebut, “We’re delivering 14,000 additional places with nearly 3,300 already delivered, converting suitable existing spaces into new cells, securing land for future prisons, and removing foreign national offenders faster.”

Di sisi lain, beberapa staf senior meyakini skema pelepasan lebih awal dapat membantu dalam jangka pendek. Namun mereka juga khawatir tekanan terhadap manajemen penjara untuk mendorong angka kapasitas hingga batas maksimum, atau bahkan melampauinya, tetap akan berlanjut.