Hukum & Kriminal

Simon Levy, pelaku kejahatan seksual berulang, dinyatakan bersalah atas pembunuhan ganda dan pemerkosaan di London

×

Simon Levy, pelaku kejahatan seksual berulang, dinyatakan bersalah atas pembunuhan ganda dan pemerkosaan di London

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Serial sex offender Simon Levy guilty of double murder and rape

jurnalistik.co.id – Simon Levy, pelaku kejahatan seksual berulang yang dipantau Metropolitan Police, dinyatakan bersalah atas pembunuhan ganda dan pemerkosaan di London.

Vonis tersebut dijatuhkan setelah persidangan di Old Bailey. Juri menyatakan Levy bersalah atas seluruh dakwaan.

Levy, 40 tahun, membunuh Carmenza Valencia-Trujillo (53) pada Maret 2025. Lima bulan kemudian, ia juga membunuh Sheryl Wilkins (39).

Sebelum kedua pembunuhan itu, Levy telah memperkosa seorang perempuan lain pada Januari 2025. Peristiwa tersebut terjadi di area parkir mobil Tottenham yang sama ketika Wilkins kemudian ditemukan tewas.

Pada masa persidangan, juri diberi pengarahan soal putusan mayoritas. Mereka membutuhkan 13 jam musyawarah sebelum akhirnya menyatakan Levy bersalah atas semua tuntutan.

Pengadilan mendengar bahwa Levy—berasal dari Tottenham—menargetkan tiga perempuan yang dinilai rentan. Ketiganya terlibat pekerjaan seks jalanan untuk membiayai kecanduan obat.

Levy menolak memberikan keterangan selama persidangan. Ia membantah tuduhan terhadap dua dakwaan pembunuhan dan dua dakwaan pemerkosaan.

Ia juga mengingkari dakwaan kekerasan fisik berat dengan maksud tertentu serta tuduhan penyekapan hingga sesak yang tidak mengakibatkan kematian terhadap korban yang masih selamat.

Hakim menangguhkan penjatuhan hukuman

Setelah putusan dibacakan, keluarga korban terlihat menangis. Sementara itu, Levy tidak menunjukkan reaksi apa pun saat vonis disampaikan.

Hakim Mark Lucraft KC menunda sidang penjatuhan hukuman hingga Rabu, 12 Agustus. Levy juga ditahan selama proses lanjutan.

Sejumlah lembaga mengakui adanya kegagalan penanganan

Metropolitan Police, British Transport Police, dan Crown Prosecution Service (CPS) sama-sama mengakui adanya kekurangan dalam cara mereka menangani Levy. Pengakuan itu muncul dalam konteks ketika serangan Levy berkembang hingga berujung pembunuhan ganda.

Andrea Simon, Komisaris Korban untuk London, menyatakan bahwa ia “appalled by the litany of failures to manage a prolific offender like Levy”. Ia menambahkan, “I’m keen now to see how we can uncover every key moment when there was an opportunity to assess the harm Levy posed to women by every justice agency involved, not just the police, and every critical opportunity there was to intervene.”

Crime and Policing Minister, Sarah Jones, menilai bahwa “The fact that Levy was able to inflict such devastating harm after being freed by police and the courts is deeply concerning.” Ia menambahkan, “It raises serious questions that require urgent answers.”

Selain itu, Sarah Jones mengatakan kegagalan-kegagalan tersebut harus diidentifikasi agar tidak terulang. Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas putusan bersalah yang dianggap menimbulkan dampak serius bagi korban.

Helena Croft, chief executive officer StreetlightUK, menilai kasus ini menegaskan kebutuhan untuk memperlakukan perempuan yang terlibat industri seks sebagai individu yang berisiko mengalami kekerasan serius. Ia menambahkan, “She said there were ‘missed opportunities around listening to frontline services, information sharing, and making full use of specialist organisations that had established relationships with the women most at risk’.”

Metropolitan Police menyampaikan kepada BBC bahwa pihaknya meyakini kematian Wilkins dapat dihindari jika tidak terdapat beberapa titik kegagalan dalam penanganan Levy.

Menurut keterangan, Met gagal memperlakukan kematian Valencia-Trujillo sebagai pembunuhan. Hal itu terjadi meski Levy ditangkap setelah peristiwa tersebut dan ditemukan DNA-nya pada tubuh korban. Perlakuan baru sebagai kasus pembunuhan dilakukan setelah Levy membunuh lagi.

Penyelidikan pidana terkait penanganan berisiko tinggi dan menengah

Setelah putusan, Det Ch Insp Neil John dari Met mengatakan bahwa “Simon Levy is a dangerous and predatory offender.” Ia menegaskan, “His crimes were calculated, cruel and deeply disturbing.”

Neil John juga menyatakan bahwa selama persidangan Levy menunjukkan “complete disregard for the victims and victim-survivor, despite being fully aware of the lasting and devastating impact of his actions.” Ia menggambarkan penyelidikan sebagai “complex and challenging”, namun menyatakan timnya tetap profesional dan berdedikasi.

Di sisi lain, dua petugas Met sedang diperiksa oleh Independent Office of Police Conduct (IOPC) terkait keputusan pada Agustus 2024. Saat itu, Levy diturunkan statusnya dari kategori pelaku seks berisiko tinggi menjadi risiko menengah.

IOPC menyebut terdapat pemberitahuan pelanggaran disiplin kepada seorang polisi berpangkat constable dan pemberitahuan pelanggaran kepada seorang detective sergeant. IOPC menyatakan akan meneliti bagaimana Levy dikelola sejak vonis pertamanya pada September 2021 hingga penangkapannya pada September 2025.

IOPC menekankan bahwa pemeriksaan ini mempertimbangkan apakah tindakan seharusnya dilakukan untuk mencegah Levy melakukan kejahatan ulang, serta apakah seluruh petugas yang terlibat mengikuti kebijakan, prosedur, dan pelatihan yang berlaku.

IOPC juga menegaskan bahwa pemberitahuan disiplin menandakan tindakan petugas sedang dalam pemeriksaan, bukan berarti perkara disipliner pasti akan berlanjut.

British Transport Police (BTP) menyatakan dua anggotanya dipindahkan ke tugas lain karena “incompetence” dalam menangani kasus tersebut. Charlie Doyle, Assistant Chief Constable BTP, menyatakan bahwa “It is clear that opportunities to expedite the investigation were missed”, dan pihaknya telah mengubah prosedur untuk memastikan pelaku berulang ditangani lebih cepat serta pelanggaran terkait diprioritaskan secara lebih efektif.

Doyle juga mengatakan kemungkinan masih ada korban lain yang belum diketahui akibat perbuatan Levy. Ia mengimbau agar mereka yang merasa menjadi korban segera melapor.

CPS melalui Lisa Ramsarran, chief crown prosecutor, menyampaikan bahwa “Our actions fell short of the standards that victims, families and the public are entitled to expect.”

Ia menambahkan, “In particular, there were points where we could and should have taken a more robust approach to representations about bail, based on the information available.”

Ramsarran juga menyatakan CPS tidak dapat memastikan keputusan pengadilan jika terdapat representasi yang berbeda atau lebih tegas. Namun ia mengakui tanggung jawab dan meminta maaf atas kekurangan yang teridentifikasi.

Ramsarran menyoroti bahwa penanganan perkara terjadi di tengah “significant pressure” pada sistem peradilan pidana, termasuk jadwal sidang yang padat, informasi yang terlambat atau tidak lengkap, serta kebutuhan membuat keputusan dengan cepat oleh lembaga-lembaga terkait.

Ia menekankan bahwa meski hal itu tidak mengurangi tanggung jawab atas kegagalan, tetap penting memahami kondisi ketika kegagalan tersebut terjadi. CPS menyatakan akan memperkuat pelatihan, meningkatkan pengawasan terhadap perkara, serta memperbaiki penanganan terkait jaminan (bail) dan penilaian risiko dalam penyelidikan kekerasan seksual yang serius.

Rangkaian serangan sebelumnya dan keterangan korban

Dalam persidangan, turut disinggung bahwa Levy memiliki rangkaian keyakinan (convictions) terkait penyerangan terhadap perempuan yang bermula sejak Juli 2018. Termasuk di antaranya kasus yang dilakukan terhadap seorang petugas penjara pada 2022.

Dalam kasus lain yang membuat Levy dipenjara, ia juga menjalani proses hukum terkait serangan seksual. Pada Februari, Levy dinyatakan bersalah atas penyerangan seksual terhadap 10 perempuan di London melalui kereta bawah tanah dan kereta komuter, serta atas penyerangan terhadap seorang petugas perempuan di HMP Brixton.

Pada persidangan terkait, disebutkan bahwa ia menyerang tiga perempuan ketika berada dalam status bail. Ia juga sempat mengalami gangguan penglihatan di satu mata setelah serangan pada Mei 2024, dan memanfaatkannya untuk menyampaikan klaim bahwa penglihatannya yang sebagian membuatnya tampak tidak stabil saat berjalan, sehingga menurutnya setiap kontak yang terjadi bersifat tidak disengaja.

Levy disebut menggunakan taktik dengan mengikat kaus atau hoodie di bagian pinggang, lalu menahan lengannya, kemudian bergerak kembali ke arah korban dengan tangan yang sepenuhnya atau sebagian tertutup agar ia bisa meraba.

Salah satu korban penyerangan di Tube menyampaikan kepada pengadilan bahwa “It wasn’t long before I learned that my attacker was already known to the police for sexual violence and is a convicted sex offender.” Ia menambahkan, “You could not begin to understand the horror I felt at hearing this. How could a male who does this so often and so brazenly be allowed to repeat his attacks?”

Korban itu juga menyatakan bahwa mengetahui hal tersebut membuatnya merasa lebih tidak aman: “Knowing this made me feel even more unsafe, the possibility that I could encounter Simon Levy again made me fearful and the idea that he would harm more women and that there would be many more victims was unthinkable.”

Dalam sidang pemidanaan pada Juni untuk serangan di Tube, hakim Michael Evans menyampaikan kepada Levy: “You were on the Tube for one purpose only, to sexually assault women.”

Dalam perkara tersebut, Levy dinyatakan bersalah atas 11 dakwaan indecent assault, termasuk tindakan menggenggam penjaga penjara pada 2022. Ia kemudian dijatuhi hukuman perpanjangan yang terdiri dari masa penjara enam tahun serta masa di bawah lisensi selama tiga tahun.