jurnalistik.co.id – Vonis bersalah yang dijatuhkan kepada Duane “Keffe D” Davis di Las Vegas menutup salah satu kasus pembunuhan paling terkenal yang selama puluhan tahun belum terpecahkan. Perkara itu juga memantik pertanyaan baru tentang apakah putusan tersebut dapat mendorong upaya serupa untuk memburu pelaku pembunuhan Notorious B.I.G., atau Biggie Smalls, yang hingga kini masih tanpa tersangka.
Dengan vonis ini, keluarga Tupac Shakur mendapatkan titik akhir atas perkara yang selama ini dipandang “cold case”. Neama Rahmani, mantan jaksa yang diwawancarai BBC, menyebut proses yang berujung vonis itu sebagai pencapaian besar: “This is huge. It was a tough case. It’s a cold case,” katanya. Ia menegaskan jauhnya jarak antara tragedi dan penegakan hukum yang akhirnya terjadi, “We’re talking about the greatest rapper of all time, an icon, and not a single arrest or prosecution for 30 years.”
Tupac Shakur meninggal pada 1996 dalam sebuah penembakan penyerangan kendaraan. Menurut laporan, saat itu mobil BMW berwarna hitam yang ditumpangi Shakur disemprot peluru dalam aksi drive-by shooting.
Namun, yang membuat putusan ini semakin disorot bukan hanya selesainya kasus Shakur. Banyak pengamat kini menyoroti adanya kemiripan situasi dengan pembunuhan Biggie Smalls di Los Angeles, yang juga berakhir tanpa dakwaan apa pun. Wallace, nama hukum Notorious B.I.G., adalah Christopher Wallace.
Di luar kemiripan pola kejadian, ada pula benang merah yang sering dibicarakan. Justin Tinsley—jurnalis ESPN’s Andscape dan penulis “It Was All a Dream: Biggie and the World That Made Him”—menyebut keterkaitan kedua kisah itu sebagai sesuatu yang sulit dipisahkan. Ia mengatakan, “Tupac’s murder and Biggie’s murder are two of the great cultural touchstones of our lives,” serta menambahkan, “Those two men, they were so unique, talented, and impactful, separately,” sebelum menegaskan, “But it’s impossible to tell each of their stories without telling the other’s.”
Menurut Tinsley, keterkaitan tersebut muncul karena banyaknya figur yang saling beririsan: “When you talk about these cases, they’re always going to be connected because there are so many mutual figures involved with them, and ancillary figures,” ujarnya.
Dalam persidangan Tupac, nama Wallace pernah muncul. Duane Davis dan Christopher Wallace, yang pernah berteman dengan Shakur sebelum keduanya menjadi rival, disebut berada di pesta yang sama pada malam ketika Wallace dibunuh. Pada periode itu, polisi juga mewawancarai Davis. Bahkan, penyelidik yang melakukan wawancara tersebut kemudian memberi kesaksian dalam persidangan pembunuhan Tupac.
Kasus Tupac sendiri dibangun dengan serangkaian pembatasan bukti yang membuat proses penuntutan sulit. Di ruang sidang, tidak ada saksi mata yang dapat menempatkan Davis berada di dalam mobil pada malam kejadian. Jaksa juga tidak menghadirkan senjata pembunuh, serta tidak terdapat bukti video atau foto.
Tim pembela Davis bahkan berupaya membantah substansi kehadirannya. Dalam pembelaan, mereka mengajukan argumen bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan Davis berada di Las Vegas pada malam itu, sebuah keberatan yang mewarnai perdebatan sejak awal persidangan.
Meski begitu, “terobosan” penyelesaian kasus Shakur banyak dipusatkan pada pernyataan Davis sendiri. Lewat berbagai saluran bersama media—termasuk dokumenter, memoarnya, podcast, dan bahkan sebuah wawancara polisi yang dirahasiakan—Davis mengakui perannya dalam kematian Shakur.
Davis menyatakan bahwa ia membuang sebuah senjata di bagian belakang mobil, sementara keponakannya, Orlando Anderson, menggunakan senjata tersebut untuk menembak Shakur secara fatal saat kendaraan mereka berhenti sejajar dengan mobil Shakur di Las Vegas pada 7 September 1996. Anderson kemudian ditembak mati pada 1998 setelah sebelumnya menyangkal keterlibatan dalam pembunuhan.
Rahmani menilai keputusan untuk menuntut dan membawa perkara ini ke pengadilan adalah langkah yang “menanjak”. Ia mengingatkan bahwa ketika menjadi penuntut, standar kemenangan selalu dituntut: “Look, when you’re a prosecutor, you’re expected to win every time. They made a difficult decision to charge a case that a lot of people thought might be a loser,” lalu menambahkan, “And they got justice, where other people didn’t even bother trying.”
Di sisi lain, pengacara Davis, Michael Sanft, meminta juri menilai perkara melalui pertanyaan kunci: “what facts do you have?” Ia juga mendorong panel untuk tidak menerima Davis sebagai sosok yang dapat dipercaya, dengan menilai kliennya sebagai pembohong yang menyusun kisah untuk menjual buku dan menghasilkan uang. Sanft berkata, “There’s no proof,” dalam argumen kepada juri.
Berita Terkait
Begitu vonis bersalah dibacakan di pengadilan, suasana emosional langsung meledak di pihak keluarga Shakur. Sebagian menangis dan menyeka air mata dengan tisu, sementara yang lain saling memeluk dan bergandengan tangan. Seorang anggota keluarga bahkan memeluk salah satu jaksa dalam perkara tersebut.
Shaun Kent—pengacara sekaligus pengacara dalam persidangan—menuturkan bahwa dinamika perkara berkembang dari tahap ke tahap seiring setiap wawancara dan momen ketika Davis memilih untuk berbicara. Ia menyampaikan kepada BBC sebelum persidangan, “There are no other witnesses, besides him,” seraya menekankan, “noting that the ‘strongest witness against him, is him’.” Kent menggambarkan bahwa kesaksian dan pengakuan Davis menjadi unsur kunci dalam penyusunan cerita di pengadilan.
Rahmani juga menilai Davis kemungkinan besar tidak akan menghadapi dakwaan seandainya ia memilih diam. “He really would have never faced charges if he had stayed silent,” katanya. Ia menambahkan, “He really couldn’t stop himself,” serta menegaskan bahwa bahkan setelah ditangkap dan berada dalam tahanan, Davis tetap melakukan wawancara.
Persidangan Tupac sendiri memaksa juri menempatkan diri ke suasana awal 1990-an, ketika kekerasan geng merembes ke ekosistem musik hip-hop. Periode itu ditandai oleh kecurigaan mendalam terhadap aparat penegak hukum dan adanya “street code” yang melarang orang untuk melapor kepada otoritas. Bahkan setelah Shakur ditembak beberapa kali dalam drive-by shooting yang akhirnya merenggut nyawanya, ia menolak berbicara dengan polisi.
Dalam laporan disebutkan, ketika seorang petugas mencoba mengajukan pertanyaan kepadanya, Shakur menjawab dengan nada penolakan: “We’ll take care of it,” sebagaimana diucapkan dalam ambulans.
Sunyi yang sama kemudian bergaung pada pembunuhan Shakur beberapa bulan setelahnya, pada kasus kematian Biggie Smalls. Biggie yang merupakan salah satu rapper paling besar dari wilayah East Coast meninggal ketika ia hendak meninggalkan sebuah after-party di Los Angeles menuju Soul Train Music Awards. Saat itu, sebuah Chevrolet berwarna hitam berhenti di dekat mobilnya pada lampu merah, lalu melepaskan tembakan pada 9 Maret 1997.
Peristiwa itu terjadi hampir tepat enam bulan setelah penembakan yang menewaskan Shakur. Keduanya adalah musisi yang bersaing di puncak industri, sama-sama dinominasikan untuk Grammy, menghasilkan uang dalam jumlah besar, serta rutin mendapat putaran radio.
Pertentangan mereka kemudian meluber sampai ke lirik, sekaligus memicu ancaman dan kekerasan fisik. Setelah dua penembakan itu, kekerasan di jalanan Los Angeles meledak karena geng-geng berupaya saling menuntut pertanggungjawaban atas kematian para rapper.
Bertahun-tahun, pembunuhan yang menimpa keduanya tidak berujung pada penangkapan maupun vonis, melainkan berkutat pada rumor dan teori konspirasi. Tinsley menggambarkan mengapa perhatian publik belum surut: “People will search for closure in any way they can get it,” ujarnya. Ia menambahkan, “People are trying to make sense of it for 30 years.”
Dalam konteks Biggie, sejumlah teori dan nama sempat beredar, tetapi pihak Kepolisian Los Angeles (LAPD) tidak pernah membuat penangkapan. Rahmani menyebut kondisi itu sebagai noda yang sulit dibersihkan: “It’s really a stain on the LAPD. The fact that this could happen and not a single arrest was made and no one was prosecuted,” dan ia menyoroti bahwa kejadian Biggie berlangsung di jalan publik, di tengah kota terbesar kedua di Amerika Serikat, sehingga seharusnya peluang penegakan hukum lebih besar.
Rahmani juga mengatakan bahwa penuntut pada dasarnya tidak menyukai kekalahan, lalu membuka kemungkinan perubahan sikap: “Prosecutors don’t like to lose,” katanya. “But, maybe this [Tupac’s conviction] will embolden folks in Los Angeles to maybe take another look at it, a cold case that’s coming up on 30 years.”
Ketika ditanya mengenai keterkaitan dua perkara dan apakah vonis Tupac dapat menghidupkan kembali penyelidikan kematian Biggie, LAPD menyatakan bahwa mereka mengetahui putusan tersebut dan penyelidikan atas kasus Biggie masih aktif. Lt Elpidio Orozco menyampaikan bahwa “The murder of Christopher Wallace remains an open, unsolved case within LAPD’s Robbery-Homicide Division,” serta meminta siapa pun yang memiliki informasi untuk menghubungi otoritas.
Meskipun kasus Wallace sempat “dingin” dari sisi penegakan hukum, minat publik tidak pernah hilang. Tinsley merangkum hal itu dengan kalimat, “They’ve been gone longer than they’ve been alive,” sebelum menutup, “But the enduring mythology around these guys and their deaths will always be a topic of conversation.”
Kayla Epstein berkontribusi dalam laporan ini.












