Hukum & Kriminal

Sidang pembunuhan Tupac: terdakwa mengatakan kepada polisi pada 2008 keponakannya menembak hingga fatal

×

Sidang pembunuhan Tupac: terdakwa mengatakan kepada polisi pada 2008 keponakannya menembak hingga fatal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tupac murder trial: Accused told police in 2008 his nephew fired fatal shots

jurnalistik.co.id – Di Pengadilan Las Vegas, para juri mendengarkan rekaman wawancara polisi yang dilakukan pada 2008, ketika Duane “Keffe D” Davis menyampaikan keterlibatannya terkait penembakan yang menewaskan rapper Tupac Shakur pada 1996. Pernyataan itu kembali menjadi sorotan setelah jaksa memaparkan bahwa Davis diduga mengatur rangkaian aksi penembakan tersebut.

Duane “Keffe D” Davis, 63 tahun, kini diadili dengan dakwaan satu hitungan pembunuhan dengan senjata mematikan atas kematian Shakur. Ia telah menyatakan tidak bersalah. Jaksa menegaskan bahwa meski Davis tidak menjadi penembak yang secara langsung menembakkan senjata, ia diduga memerintahkan penyerangan serta menyediakan senjata untuk mendukung tindak kriminalitas yang terkait dengan kelompok yang membantu dipimpinnya.

Pada persidangan hari Kamis, tim penuntut memutar rekaman wawancara polisi tahun 2008 di hadapan juri. Rekaman tersebut merupakan hasil pemeriksaan petugas terhadap kematian rapper lain, yakni Chris Wallace yang juga dikenal sebagai The Notorious B.I.G., sebelum kasus Shakur kemudian menjadi perhatian lebih lama dalam persidangan ini.

Keterangan Davis dalam wawancara 2008

Dalam rekaman itu, Davis menjelaskan momen ketika mobil Cadillac yang ia tumpangi berhenti di samping kendaraan tempat Shakur berada. Ia juga menyampaikan bahwa jika situasinya terjadi “di sisi” dirinya, ia akan melakukan tembakan. Pernyataan tersebut dicatat dalam transkrip: “Yeah, if we would’ve been on my side, I would’ve blasted,”

Rekaman tersebut juga memuat rangkaian klaim terkait kepemilikan senjata sebelum tembakan dilepaskan. Menurut transkrip, Davis mengatakan ia menyerahkan senjatanya kembali kepada Deandre “Big Dre” Smith, tetapi Smith tidak menginginkan senjata tersebut. Setelah itu, Davis menyebut Orlando Anderson—yang saat itu turut berada di bangku belakang—mengambil senjata dan mulai menembakkan tembakan hingga menyebabkan Shakur tewas.

Anderson, menurut uraian dalam persidangan, meninggal sekitar satu dekade sebelum wawancara dilakukan. Dalam periode sebelum rekaman itu diputar di pengadilan, Anderson telah menyangkal perannya dalam pembunuhan Shakur.

Persoalan kesepakatan informasi juga muncul dalam rekaman. Salah satu detektif, Greg Kading, dikutip memberitahukan Davis mengenai perlindungan terhadap pernyataan yang disampaikan, dengan kalimat: “Nothing you say today can be used against you.” Jaksa berpendapat bahwa kesepakatan semacam itu kemudian tidak lagi berlaku ketika Davis mempublikasikan versi ceritanya beberapa tahun setelah wawancara.

Peran buku memoar dan penilaian jaksa

Jaksa menghubungkan isi memoar yang ditulis Davis dengan kondisi setelah peristiwa penembakan. Ia menyebut bahwa buku itu menggambarkan Davis “mad” setelah Anderson terlibat pertikaian dengan Shakur di sebuah kasino di Las Vegas. Dalam pemaparan jaksa, ditampilkan kutipan yang dikaitkan dengan memoar tersebut: “Them jumping on my nephew gave us the ultimate green light to do something to their ass.”

Dalam memoir yang diberi judul Compton Street Legend, Davis—menurut uraian di persidangan—mengklaim berada di dalam kendaraan saat Tupac ditembak, serta mengatakan ia “tossed” senjata yang digunakan untuk membunuh Shakur ke bagian bangku belakang. Namun, Davis kemudian menjauh dari klaim di buku itu, menyatakan bahwa ia tidak menulis seluruhnya dan sebagian bagian disamarkan atau dibuat fiksi demi menjual lebih banyak eksemplar.

Diskusi Davis soal Sean “Diddy” Combs

Rekaman yang diperdengarkan juga menyentuh klaim Davis soal percakapan dengan Sean “Diddy” Combs. Dalam keterangan yang diputar ke pengadilan, Davis mengatakan ia berulang kali berbicara dengan Combs dan membahas pembunuhan terhadap Shakur.

Para detektif mengajukan pertanyaan kepada Davis mengenai pertemuan dengan Combs pada beberapa pemberhentian tur Bad Boy Records di San Diego, Anaheim, Irvine, dan Las Vegas. Menurut transkrip yang disajikan di pengadilan, Kading menanyakan: “Which of those four is it when you talk to him about murdering Tupac?”

Respon Davis dalam transkrip berbunyi: “It was really about both of them, yeah, either one of them,”

Kading kemudian menyinggung keterkaitan yang disebut oleh Davis, dengan pertanyaan: “Tupac and Suge?” (mengacu pada Marion “Suge” Knight yang berada bersama Shakur dalam kendaraan saat penembakan). Davis menjawab singkat: “Yeah,”

Argumen pihak pembela dan pernyataan soal kredibilitas saksi

Sementara itu, tim pembela menolak agar juri menerima keterlibatan Davis berdasarkan pengakuan-pengakuan yang ia sampaikan sebelumnya. Dalam persidangan, pengacara Davis, Michael Sanft, meminta juri mempertanyakan dasar fakta yang dapat mendukung apa pun yang pernah disampaikan Davis dalam wawancara maupun bukunya.

Dalam permohonan kepada juri, Sanft menyatakan: “What facts do you have to support any of what Keffe D said in any of his interviews or the book?” Ia lalu menambahkan pertimbangan: “You have to ask yourself the question: If I just say things, is that going to end up being one of those things where I’m going to be handed up for a murder by just repeating that fiction? I keep repeating that? The answer is no. You have to corroborate everything I say in order for it to be true. Otherwise, it’s just that.”

Pembela juga mengungkapkan bahwa saksi-saksi yang dipanggil penuntut tidak dapat dipercaya dan investigasi polisi dinilai memiliki banyak masalah. Dalam pembukaan persidangan pekan ini, seorang mantan detektif pembunuhan Las Vegas diberitakan menyampaikan bahwa tidak ada saksi yang mampu mengidentifikasi penembak.

Belakangan, seorang mantan anggota rombongan Shakur, James “Mob James” McDonald, memberikan keterangan yang menekankan adanya komunikasi cepat di dalam lingkaran Shakur. Ia menyebut bahwa meski dirinya tidak berada di lokasi saat penembakan, orang-orang yang ada pada malam kejadian segera saling memberi tahu siapa yang bertanggung jawab. Ia menyatakan: “It was a gang war. People were getting hurt. People were being sought,” lalu menambahkan: “Orlando (Anderson), him and certain other people were being sought because people wanted to kill them.”

Dengan rekaman 2008 dan pembahasan lintas dokumen yang dipakai jaksa untuk mengaitkan peran Davis, persidangan ini kini menempatkan pertentangan utama pada pertanyaan apakah juri dapat menerima keterkaitan cerita versi Davis sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan, dibandingkan penyangkalan dan kritik pembela terhadap kredibilitas serta kualitas investigasi.