jurnalistik.co.id – Pada hari pertama persidangan pembunuhan Tupac Shakur, jaksa menyajikan gambaran bahwa kejahatan itu merupakan aksi balas dendam. Jaksa menyebut Duane “Keffe D” Davis—yang kini didakwa atas kematian rapper tersebut—bertindak sebagai otak di balik penembakan yang berujung pada kematian Shakur.
Dalam pembukaan perkara, tim penuntut menempatkan Davis sebagai figur yang mencari pembalasan sebelum mengatur rangkaian serangan yang dikatakan menewaskan penyanyi ikonik itu. Davis, 63 tahun, menghadapi dakwaan pembunuhan Shakur dan telah membantah tuduhan tersebut serta mengaku tidak bersalah.
Jaksa menekankan bahwa Davis bukan pihak yang langsung menarik pelatuk. Namun, menurut penuntutan, Davis diduga merancang penembakan sebagai balasan setelah serangan terhadap keponakannya terjadi beberapa jam lebih dulu di Las Vegas.
Chief Deputy District Attorney Binu Palal menyatakan kepada juri, “Let’s be clear, Duane Davis did not pull the trigger. But he did plan the shooting in retaliation of the beating of his nephew.” Jaksa menambahkan bahwa hal itu, menurut penuntut, justru akan bisa dipelajari dari keterangan Davis sendiri.
Di sisi lain, tim kuasa hukum Davis menolak jalan cerita tersebut sebagai “fiction”. Mereka menggambarkan perkara ini sebagai hasil dari penyelidikan yang dinilai cacat selama puluhan tahun, serta menilai tuduhan jaksa tidak didukung dasar yang kuat.
Davis tampak hadir mengenakan setelan biru tua dan dasi biru, duduk bersama tim pembela saat pertanyaan diarahkan pada lamanya kasus ini belum berujung pada penangkapan. Pihak pembela juga mempertanyakan mengapa tidak ada seorang pun yang ditangkap dalam kurun waktu hampir tiga dekade.
Selama persidangan, jaksa juga mengaitkan dakwaan mereka dengan sebuah memoar yang ditulis Davis bersama pihak lain. Jaksa mempresentasikan memoar tersebut sebagai bahan yang, menurut penuntutan, memuat uraian detail mengenai malam terjadinya penembakan.
Namun, pembela mengklaim Davis telah menjauh dari klaim dalam memoarnya. Davis disebut menyatakan bahwa ia tidak menulis seluruhnya, serta bagian-bagian tertentu telah dibuat fiktif untuk tujuan penjualan buku.
Sebagai saksi pertama pihak penuntut, Garry Dale—anggota Las Vegas Metropolitan Police Department pada saat kejadian—menceritakan pengalamannya setelah Shakur ditembak pada September 1996. Dale menjelaskan ia sempat menumpang di ambulans bersama Shakur.
Dalam kesaksian tersebut, Dale menyampaikan bahwa Shakur menolak memberikan informasi apa pun mengenai kejadian dan siapa yang menembaknya. Pada saat itu, Dale menyebut Shakur berkata, “We’ll take care of it”.
Jaksa menggambarkan konteks perkara sebagai benturan rivalitas rap di antara kubu East Coast dan West Coast pada era 1990-an. Mereka mengaitkan ketegangan itu dengan perseteruan wilayah serta peran kelompok jalanan seperti Bloods dan Crips.
Penuntut juga menyinggung bahwa polisi selama ini menyatakan kurangnya kerja sama menjadi salah satu penyebab penyelidikan tidak menemukan jalan terang. Dalam uraian di persidangan, tim jaksa menyebut bahwa di dunia senjata dan geng, “silence means survival” menghambat proses penegakan hukum.
Jaksa menyampaikan bahwa sepanjang hari Senin, mereka memperlihatkan kepada juri mengapa perkara tidak segera menghasilkan dakwaan kriminal resmi di masa penembakan. Penuntut juga menegaskan bahwa ada “one person” yang kesulitan untuk tetap diam, merujuk pada Davis yang menurut jaksa memberikan sejumlah pernyataan terkait kasus ini antara 1998 hingga 2003.
Menurut dakwaan jaksa, perencanaan penembakan dilakukan Davis setelah keponakannya, Orlando Anderson, terlibat pertengkaran dengan Shakur di Las Vegas beberapa jam sebelum kejadian. Jaksa berpendapat Davis meyakini serangan terhadap keponakannya tidak bisa dibiarkan tanpa balasan.
Tupac Shakur sendiri saat itu berusia 25 tahun ketika ditembak pada 7 September 1996. Kejadian berlangsung setelah pertandingan tinju Mike Tyson, dan Shakur meninggal enam hari setelah penembakan.
Berita Terkait
Jaksa menyatakan Davis—mantan pemimpin South Side Compton Crips—adalah pengatur di lapangan yang disebut memerintahkan kematian Shakur. Dalam narasi penuntutan, Davis digambarkan sebagai “on-ground, on-site commander” yang mengarahkan serangan tersebut.
Perkara ini sempat meredup dalam waktu lama hingga muncul pernyataan publik dari Davis, termasuk ketika ia menerbitkan memoar pada 2019. Dalam memoar itu, dan sejumlah wawancara, Davis mengklaim bahwa ia berada sebagai penumpang di kendaraan yang menembaki mobil Shakur.
Pembela menunjukkan bahwa menurut mereka, buku tersebut harus diperlakukan sebagai fiksi dan tidak layak dipakai sebagai bukti dalam persidangan pidana untuk kasus yang berlangsung tiga dekade. Meskipun begitu, hakim disebut telah memutuskan bahwa memoar tersebut boleh digunakan di persidangan.
Selain menolak penggunaan memoar sebagai bukti utama, tim pembela juga menyoroti adanya laporan polisi yang disebut tidak lengkap, bukti yang diperdebatkan, serta kualitas kerja penyidikan yang menurut mereka “biased, sloppy and incomplete”.
Pihak pembela juga menegaskan bahwa penuntutan bergantung pada saksi-saksi yang tidak dapat dipercaya, termasuk orang-orang yang memiliki catatan kriminal, motif finansial, dan pernyataan yang dinilai tidak konsisten. Tim pembela menambahkan bahwa saksi-saksi yang mereka sebut relevan pernah mengubah cerita dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh uang, perhatian media, atau informasi yang disuplai oleh penyelidik.
Rangkaian kejadian menurut pembukaan jaksa
Persidangan dimulai Senin setelah satu pekan seleksi juri. Dalam beberapa minggu ke depan, penuntut berencana menghadirkan saksi, ahli, penyelidik, dan kemungkinan juga saksi yang dikenal luas untuk menguraikan apa yang terjadi pada malam penembakan.
Jaksa menyebut bahwa mereka akan menunjukkan Davis memperoleh sebuah senjata dan mengatur dua kendaraan untuk menuju sebuah klub di Las Vegas. Salah satu kendaraan itu adalah Cadillac putih, yang menurut penuntutan memuat tiga pria lain, termasuk Orlando Anderson.
Jaksa menyampaikan bahwa rombongan kemudian memutuskan untuk “get some booze and go back to the Vegas strip and party”. Namun, selama perjalanan, mereka melihat rangkaian mobil lain dan mengenali Shakur serta Marion “Suge” Knight di salah satu kendaraan.
Menurut dakwaan jaksa, Davis bersama orang-orang yang berada di Cadillac memutuskan melakukan putar balik dan kemudian menghadapkan diri untuk berkonfrontasi dengan Shakur dan Knight. Dalam uraian itu, Davis disebut berada di kursi penumpang dan menyerahkan senjata kepada Anderson.
Anderson kemudian disebut menembak ke arah mobil Shakur, yang berujung pada penembakan fatal. Jaksa menempatkan urutan ini sebagai inti dari perencanaan yang, menurut mereka, dilakukan Davis.
Di pihak lain, Ingrid Stokes memberi kesaksian terkait kondisi malam itu. Ia mengatakan ia dan teman-temannya sedang mengemudi di sekitar Las Vegas sebelum bertemu dengan Knight dan Shakur, dengan keterangan bahwa seorang temannya mengenal Knight dan menyarankan agar mereka mengikuti hingga ke sebuah klub.
Stokes menyampaikan bahwa saat mereka mengemudi melewati Las Vegas, ada mobil yang berada di belakang mencoba menyalip dan mendahului mereka. Ia juga menuturkan bahwa pada satu titik, mereka berhenti di lampu lalu lintas dan berpindah pengemudi karena kekhawatiran terhadap kendaraan lain.
Dalam momen ketika penembakan terjadi, Stokes mengatakan mereka baru saja fokus pada aktivitas di dalam mobil—belt pengaman dilepas—ketika mendengar tembakan. Ia menggambarkan suasana itu dengan kalimat, “All hell broke loose.”
Dengan gambaran tersebut, jaksa berharap juri dapat menilai bahwa keterlibatan Davis bukan sekadar berada di sekitar kejadian, melainkan menjadi bagian dari rangkaian balas dendam yang, menurut penuntutan, berujung pada kematian Tupac Shakur.












