jurnalistik.co.id – Kenaikan harga bahan bakar di Inggris kembali terasa di dompet pengendara. RAC melaporkan harga bensin tanpa timbal mengalami lonjakan mingguan sebesar 5 pence per liter, dan tidak ada tanda penurunan dalam waktu dekat.
Menurut data yang disampaikan RAC, kini bensin tanpa timbal berada di angka 167,17 pence per liter. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak April, setelah sebelumnya bergerak lebih stabil selama beberapa pekan.
Pola yang sama juga terlihat pada diesel. RAC menyebut harga diesel naik 5 pence menjadi 188,63 pence per liter, sehingga biaya operasional harian kendaraan turut meningkat.
RAC mengaitkan pergerakan harga tersebut dengan meningkatnya tekanan terhadap pasokan minyak mentah. Perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai pada akhir Februari disebut sudah mengganggu pasokan crude oil di kawasan Timur Tengah, yang kemudian ikut mendorong biaya produksi bensin dan solar.
Di pasar global, acuan minyak Brent menunjukkan pemulihan menuju level yang lebih tinggi. Brent—patokan global minyak—kembali menyentuh 100 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, setelah sebelumnya turun pada periode sebelum konflik memanas.
Meski berada di bawah puncak 120 dolar per barel yang sempat terjadi pada April, harga Brent masih jauh di atas level 70 dolar per barel sebelum konflik dimulai. Dengan kata lain, perbaikan harga yang dibutuhkan konsumen belum terlihat, karena dasar harga minyak global tetap berada pada zona tinggi.
Perkembangan geopolitik juga disebut berkontribusi terhadap tekanan harga. Pada Selasa, pasukan AS menyerang lima kapal tanker Iran setelah Teheran menargetkan salah satu kapal perangnya, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga menyerang fasilitas minyak di Arab Saudi.
Berita Terkait
RAC menilai kondisi ini menunjukkan betapa rentannya pengendara Inggris terhadap peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya. Rod Dennis, petugas kebijakan senior RAC, mengatakan kenaikan terbaru menggambarkan paparan itu dan menegaskan tidak ada ruang bagi pengemudi untuk merasa lebih lega.
“no sign of any relief” menjadi peringatan RAC bagi para pengemudi. Dennis menyatakan bahwa kenaikan 5p per liter berarti biaya mengisi mobil keluarga meningkat sebesar £2,75 sepanjang pekan terakhir.
“Drivers are having to dig ever deeper into their pockets every time they fill up, and there’s no sign of any relief yet,” ujar Dennis. Ia menambahkan bahwa situasi ini didorong oleh harga minyak mentah yang rata-rata mencapai 96 dolar per barel selama pekan terakhir, sehingga harga grosir terus naik.
Dennis juga mengaitkan kenaikan di pasar hulu dengan perembesan yang kemudian terlihat di SPBU. “With the cost of a barrel of oil having averaged $96 for the last week, wholesale prices are surging and that’s already feeding through to prices at the forecourt.” Dengan penjelasan itu, ia menegaskan bahwa lonjakan biaya dari rantai pasokan terjadi lebih cepat saat harga dasar minyak terus menguat.
Dalam rekomendasinya, RAC mengimbau pengendara untuk mengemudi seefisien mungkin. Pengemudi juga diminta mencari SPBU dengan harga termurah, karena variasi harga antar lokasi dapat memberi ruang penghematan meski situasi besar tetap dipengaruhi pasar minyak global.
RAC menyebut angka bensin saat ini mengingatkan pada kondisi terakhir yang terjadi pada September 2022. Sementara itu, untuk diesel, harga yang kini 188,63 pence per liter masih berada di bawah level 191,54 pence yang sempat dicapai pada April.
Dengan demikian, kenaikan 5 pence per liter pada bensin tanpa timbal dan diesel memperpanjang tekanan biaya hidup bagi banyak rumah tangga. Sampai harga minyak global bergerak turun secara nyata, RAC memperkirakan kenaikan di SPBU kemungkinan akan tetap menjadi tantangan utama bagi pengendara.












