jurnalistik.co.id – Delapan perdana menteri negara bagian Jerman yang tergabung dalam CDU menyatakan dukungan kepada kanselir Friedrich Merz di tengah spekulasi yang makin ramai soal kelanjutan kepemimpinannya. Mereka menilai pemulihan kepercayaan terhadap partai perlu diwujudkan lewat langkah politik, bukan perdebatan internal.
Para pemimpin itu menulis bahwa pemulihan kepercayaan partai bergantung pada “listening and taking political action, not in debates over personnel”. Pernyataan tersebut muncul saat Merz—yang baru memegang jabatan 16 bulan—dihadapkan pada elektabilitas yang melemah dan pertanyaan publik tentang kemampuan memimpin CDU sekaligus pemerintahan.
Tekanan politik juga datang dari kenaikan dukungan terhadap AfD, partai sayap kanan yang selama ini mengusung agenda anti-imigran. Dengan AfD terus menguat, muncul kekhawatiran apakah Merz menjadi beban elektoral menjelang dua pemilu negara bagian yang digelar pada Minggu.
Gagasan pergantian “Kanzlertausch” atau “Chancellor swap” telah beredar selama berbulan-bulan, namun makin mendapat sorotan setelah CDU terpuruk di tengah lanskap politik timur. Pada awal September, partai itu kalah jauh di Saxony-Anhalt, sementara AfD melonjak hingga 43,8% dan CDU hanya meraih 17,2%. Hasil tersebut disebut sebagai momen bersejarah sejak Perang Dunia II karena partai sayap kanan nyaris menguasai kendali pemerintahan di tingkat negara bagian.
Meski demikian, AfD masih kurang tiga kursi untuk mencapai mayoritas mutlak. Partai-partai besar menyatakan tidak akan membentuk koalisi dengan AfD, meski partai itu memiliki opsi membangun pemerintahan minoritas. Setelah kekalahan, Merz merespons keras dan menyebut AfD sebagai “destructive force”, dengan mengatakan kebijakan migrasinya setara dengan “ethnic cleansing” terhadap pekerja terampil.
AfD membalas pernyataan tersebut dengan mengumumkan pihaknya akan mengajukan pengaduan fitnah terhadap kanselir atas tuduhan yang digambarkan “baseless” dan “disgusting”. Di saat yang sama, gaya komunikasi Merz dinilai tajam dan popularitas personalnya dikatakan rendah; sebuah jajak pendapat Bild menempatkan angka 14% bagi mereka yang berpendapat ia tepat untuk pekerjaan tersebut.
Berita Terkait
Di tengah ketegangan itu, delapan perdana menteri menekankan kebutuhan stabilitas. Mereka menyatakan “now more than ever, Germany’s political landscape needs stability” dan menyebut Jerman tetap memerlukan pemerintahan federal yang stabil dan efektif dengan mayoritas di Bundestag. Pernyataan itu disampaikan oleh para pemimpin dari Schleswig-Holstein, Saxony, Hesse, Rhineland-Palatinate, Saxony-Anhalt, Thuringia, Berlin, serta North Rhine-Westphalia.
Dukungan tersebut datang setelah Markus Söder, perdana menteri Bavaria sekaligus pemimpin partai saudara CDU, CSU, berdiri di belakang Merz. Menurut satu sumber internal partai yang tidak disebutkan namanya kepada Reuters, pejabat CDU dijadwalkan bertemu pada Minggu untuk menyelaraskan respons partai atas hasil pemilu negara bagian di Berlin dan Mecklenburg-West Pomerania, dua wilayah yang diprediksi tetap menyodorkan tantangan berat.
Di Berlin, persaingan disebut lebih seimbang dibanding Saxony-Anhalt: survei menunjukkan CDU dan Die Linke (The Left) bersaing ketat untuk meraih peringkat pertama, sementara AfD dan Greens berada tak jauh di belakang. Sementara itu, di Mecklenburg-West Pomerania, jajak pendapat menempatkan AfD di depan SPD yang berbasis tengah-kiri, walau diperkirakan tetap jauh dari mayoritas mutlak. Skenario terburuk bagi Merz adalah CDU kehilangan kendali di Berlin dan gagal mengumpulkan cukup suara hingga tidak memiliki kehadiran di parlemen Mecklenburg-West Pomerania.
Berbeda dengan praktik di Inggris, Jerman tidak terbiasa mengganti pemimpin di tengah periode. Namun, Merz secara teoritis bisa menghadapi tekanan untuk mengundurkan diri atau menghadapi mosi tidak percaya, meski banyak pengamat menilai hasil seperti itu kecil kemungkinan. Hingga saat ini, belum ada tokoh di dalam CDU yang secara terbuka menyatakan bersedia menantang Merz, tetapi spekulasi masa depannya telah mengangkat sejumlah nama sebagai kandidat, termasuk Söder, perdana menteri North Rhine-Westphalia Hendrik Wüst, serta Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt.
Di sisi lain, Merz sebelumnya menunjukkan kemampuannya meraih dukungan dalam isu besar: sebelum resmi menjadi kanselir, ia berhasil mengumpulkan dukungan untuk dana infrastruktur pertahanan senilai €500bn ($547bn; £420bn). Gagasan tersebut mendapat pujian internasional karena ketegasan sikap serta fokus pada keamanan Eropa. Meski demikian, perjalanan Merz untuk mencapai posisi puncak di dalam CDU tidak mulus; ia butuh tiga upaya untuk menjadi pemimpin partai dan sebelumnya kalah dalam pemilihan awal menjadi kanselir—meski secara teknis memperoleh cukup suara lewat kesepakatan koalisi dengan SPD. Kejadian itu disebut sebagai yang pertama di Jerman pasca-perang, sekaligus memberi indikasi bahwa ia sebelumnya kesulitan menggaet bahkan kalangan di kubu sendiri.
Dalam konteks itulah, para perdana menteri yang tergabung dalam CDU memilih menegaskan pentingnya stabilitas politik menjelang ujian elektoral berikutnya. Mereka berupaya mengirim pesan bahwa pemerintahan federal yang efektif serta mayoritas di Bundestag tetap menjadi kebutuhan, sementara spekulasi “Kanzlertausch” terus berkembang di ruang publik.












