Entertainment

Earl Spencer Mengklaim Charles Pernah Ucapkan “we’ll forget her soon enough” di Memoar

×

Earl Spencer Mengklaim Charles Pernah Ucapkan “we’ll forget her soon enough” di Memoar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Charles said Diana would be forgotten 'soon enough', Earl Spencer claims in book

jurnalistik.co.id – Klaim baru dari Earl Spencer kembali menarik perhatian publik setelah ia menyampaikan tudingan mengenai percakapan dengan King Charles, yang disebutnya terjadi tak lama setelah kematian Putri Diana. Ucapan itu muncul dalam cuplikan memoar yang akan diterbitkan, sebagaimana dilaporkan Daily Mail.

Dalam bagian yang dipublikasikan lebih dulu, Earl Spencer mengatakan bahwa Charles menyatakan, “we’ll forget her soon enough”. Ia menyebut pernyataan tersebut keluar beberapa hari setelah Diana meninggal.

Menurut Earl Spencer, ia sempat menekankan kepada raja bahwa Diana tidak akan menginginkan Pangeran William dan Pangeran Harry—saat itu masing-masing berusia 15 dan 12 tahun—harus berjalan dalam prosesi pemakaman Diana. Ia menghubungkan saran Charles terkait rencana itu dengan respons yang dinilainya bernada kemarahan.

Earl Spencer juga menuturkan bahwa ketika ia menyampaikan keberatan, Charles mempertanyakan “sense of duty” keluarga Spencer. Ia menyebut Charles kemudian melontarkan “stream of anger” selama panggilan telepon, setelah sebelumnya ia mengajukan penolakan terhadap keterlibatan kedua putra dalam prosesi.

Cuplikan memoar itu memuat narasi mengenai momen Earl Spencer menerima telepon dari Charles tak lama setelah ia berdiskusi soal prosesi pemakaman. Earl Spencer menulis: “He [Charles] unleashed down the phone what I have always taken to be his pent-up contempt for Diana, and his horror that the world was so bowled over by her death. ‘Rest assured,’ he hissed, ‘we’ll forget her soon enough’.”

Earl Spencer menyatakan bahwa ia sempat diberi tahu oleh seorang pembantu senior Istana mengenai rencana agar kedua pangeran muda berjalan di samping peti jenazah Putri Diana. Ia mengatakan, ia tidak setuju dengan langkah tersebut sejak awal, dan keberatan itu kemudian diikuti oleh komunikasi lanjutan melalui telepon.

Daily Mail melaporkan bagian memoar tersebut sebagai salah satu cuplikan yang pertama kali dipublikasikan menjelang rilis penuh. Memoar itu, berjudul “Swan Song: Diana, My Sister”, dijadwalkan terbit minggu depan dan disebut diharapkan memuat penilaian yang tajam terhadap keluarga kerajaan.

Pihak Buckingham Palace juga disebut telah dihubungi untuk memberikan tanggapan, namun belum ada komentar resmi. Dengan demikian, klaim Earl Spencer dalam memoar tersebut sampai saat ini tidak mendapat konfirmasi dari Istana.

Dalam tulisannya, Earl Spencer juga menempatkan peristiwa yang ia ceritakan pada konteks yang lebih luas setelah kematian Diana pada 1997. Ia mengingat suasana saat itu dipenuhi ketegangan, ketika keluarga kerajaan kerap dikritik karena dianggap kurang menunjukkan rasa peduli serta empati, dan tampak jauh dari suasana yang dirasakan publik.

Earl Spencer menyinggung bahwa pidato emosional dan sikap tegasnya di pemakaman Diana ikut menambah gelombang keluhan yang menyelimuti kematian yang terjadi secara mendadak. Baginya, rangkaian peristiwa setelah itu menjadi latar penting bagi hubungan yang kemudian berkembang antara Diana dan institusi kerajaan.

Di bagian lain, sumber yang sama mengaitkan peristiwa prosesi itu dengan pernyataan Pangeran Harry di masa lalu. Ia pernah mengatakan bahwa berjalan di belakang peti jenazah ibunya saat berusia 12 tahun adalah sesuatu yang “no child should be asked to do”.

Lebih lanjut, pada tahun 2017, Pangeran Harry menyampaikan kepada BBC bahwa ia tidak memiliki pendapat apakah hal tersebut benar atau salah, tetapi “looking back on it”, ia justru merasa bersyukur karena telah menjadi bagian dari hari itu. Pernyataan Harry tersebut menjadi rujukan yang melengkapi pembahasan mengenai apakah keterlibatan anak dalam prosesi pemakaman seharusnya terjadi.

Selain isu isi memoar, pemberitaan juga memuat kabar bahwa salinan buku yang belum dirilis diduga dicuri dari sebuah truk di Belanda. BBC menyebut bahwa empat salinan edisi bahasa Belanda diambil dari truk ketika sedang dalam perjalanan dari percetakan penerbit di Belanda menuju gudang.

Kemunculan klaim Earl Spencer mengenai percakapan dengan Charles, sekaligus kabar pencurian salinan, membuat memoar tersebut berpotensi menjadi sorotan besar menjelang terbit. Bagi sebagian pengamat, detail percakapan yang dikutip dalam memoar menjadi bagian dari rangkaian narasi lama yang kembali diperbincangkan sejak era kematian Putri Diana.

Dengan belum adanya respons dari Buckingham Palace, klaim Earl Spencer tetap berada pada posisi sebagai narasi dari pengarang memoar. Namun, kutipan “Rest assured,” he hissed, “we’ll forget her soon enough” memberi kesan kuat tentang cara Charles, menurut Spencer, memandang reaksi publik pada Diana dan dinamika setelah kepergiannya.

Di tengah pembahasan ulang ingatan publik tentang Diana, memoar Earl Spencer kini dipandang bisa membawa kembali pertanyaan yang sudah lama mengemuka: bagaimana keluarga kerajaan menanggapi emosi publik, serta bagaimana keputusan-keputusan di sekitar pemakaman memperlakukan anggota keluarga muda. Semua detail tersebut, sebagaimana dipaparkan dalam cuplikan yang dipublikasikan, akan menjadi fokus perhatian ketika buku itu akhirnya terbit.