jurnalistik.co.id – Daisy Edgar-Jones mengungkap bahwa dirinya merasakan kedekatan yang nyata dengan karakter yang ia mainkan di Sense and Sensibility. Dalam wawancara, ia menyebut sisi Elinor terasa seperti pantulannya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Pemeran Elinor, kakak perempuan yang rasional, itu mengatakan bahwa ketika berbicara soal cinta, ia merasa dirinya lebih banyak “Elinor” dibanding “Marianne”. Ia menyatakan, “When it comes to love, I think I am very much more Elinor in every sort of way,” serta menambahkan, “I definitely lead a lot with my head and try and push aside, bury my emotion.”
Meski demikian, Edgar-Jones juga menekankan bahwa ada bagian dari film yang justru memberi ruang bagi dirinya untuk tumbuh. Salah satu “kegembiraan” baginya adalah menyaksikan Elinor belajar menikmati sisi yang “lebih liar” dan penuh gairah.
“And I feel like I learnt to do that too,” ujarnya. Dengan nada yang sama, ia menggambarkan proses tersebut bukan sekadar transformasi karakter, melainkan pembelajaran yang turut ia rasakan secara pribadi saat menjalani peran.
Pengalaman bermain Elinor dan Marianne
Sense and Sensibility versi terbaru menampilkan perjalanan dua saudari Dashwood setelah kematian ayah mereka. Film yang disutradarai Georgia Oakley itu mengikuti mereka menavigasi cinta, kehilangan, dan ekspektasi sosial yang mengikat.
Edgar-Jones berperan sebagai Elinor, sementara Esmé Creed-Miles, yang berusia 26 tahun, memerankan Marianne. Dalam penjelasan yang menyatukan keduanya, perbedaan cara pandang hidup digambarkan sebagai “sense” (Elinor) dan “sensibility” (Marianne).
Edgar-Jones juga menanggapi gagasan untuk membuat film ini terasa lebih “2026”. Ia menyebut, “It does feel very much like it’s honouring the period,” tetapi menambahkan bahwa ada kesegaran pada cara film itu dibuat, yang baginya sangat indah: “but I think there’s a freshness to the filmmaking that I think is really beautiful”.
Creed-Miles turut memberi komentar yang bernada jujur. Ia mengatakan, “I’m more like Marianne [than Elinor], yeah, which is annoying sometimes,” sambil tertawa.
Alasan tetap relevan bagi generasi muda
Daisy Edgar-Jones dikenal lewat Normal People bersama Paul Mescal. Serial itu muncul sebagai terobosan besar pada 2020, ketika Edgar-Jones meraih ketenaran pada masa pandemi, dengan kisah hubungan on-off remaja Marianne dan Connell—diperankan oleh dirinya dan Mescal.
Setelah itu, ia melanjutkan karier lewat Twisters dan Where The Crawdads Sing. Sementara Mescal muncul dalam Gladiator II, Hamnet, dan akan tampil di film-film tentang The Beatles.
Ketika ditanya mengenai keterkaitan karya Jane Austen dengan generasi muda saat ini, Edgar-Jones menilai hubungan emosionalnya tetap sama. Ia menyebut cara Austen “mengartikulasikan pengalaman perempuan” secara khas, mengatakan, “She has an incredible way of articulating the female experience,” sebelum menambahkan bahwa perenungannya tentang cinta, romansa, cinta antar-saudari, dinamika keluarga, dan dinamika sosial antarindividu adalah bakat yang kuat: “Her ruminations on love, on romance, on sisterly love, on family dynamics, on interpersonal social dynamics – she’s such a talent.”
Berita Terkait
Ia juga mengaitkan relevansi itu dengan cara orang modern mengenali pola relasi. Austen, menurut Edgar-Jones, pernah menulis tentang perilaku kencan yang belakangan dikritik di TikTok—seperti “situationships” dan “ghosting”—meski istilah tersebut bahkan belum ada.
Menanggapi apakah hal itu membantu Gen Z merasa dekat, Edgar-Jones menjawab tegas, “Well, massively,” dan menjelaskan: “We still have the same human heart as we did 200 years ago. Our capacity to love and feel heartbreak, and that early first love feeling, is something that we all experience in various ways.” Ia menutup dengan kesimpulan bahwa lika-liku dua perempuan—Elinor dan Marianne—saat menapaki hidup, cinta, dan semua yang menyertai proses tumbuh dewasa tetap terasa menjangkau banyak generasi: “And so yes, I think definitely the trials and tribulations of the two women [Elinor and Marianne] as they navigate life, love and all that becomes as you grow up, definitely is so relatable to all generations.”
Creed-Miles sepakat dengan pandangannya. “These women are very relatable,” ujarnya. “I don’t know if seeing a movie is going to fix everything, but it might make you feel a little bit less alone in some of the things you’re feeling.”
Sisterhood yang terasa dalam diri para pemeran
Untuk Edgar-Jones, tema sisterhood menjadi salah satu elemen yang paling membekas sejak ia mengenal Sense and Sensibility. Ia mengaku tidak memiliki saudari kandung di kehidupan nyata, tetapi ia tetap merasakan dampak dari kisah tersebut: “I’ve heard a lot of people say that after watching the film, it either makes them want a sister or to ring up their sister and say like, ‘Hey, I love you,’ and I think that’s really special.”
Menurutnya, bagian film yang paling ia banggakan adalah pesan seperti itu. Ia menambahkan, “It’s the part of the film I’m most proud of.”
Edgar-Jones juga menceritakan kedekatan dengan Creed-Miles dalam membangun chemistry di layar. Ia menyebut mereka sudah memiliki pengalaman bekerja bersama saat remaja dalam film 2018 Pond Life, dan Creed-Miles menggambarkan prosesnya penuh tawa: “We had a real laugh,” serta merinci bahwa mereka punya kebiasaan tidur bersama dan menonton Love Island: “We would have sleepovers every night and watch Love Island.”
Perihal film lain, hingga kabar James Bond
Menjelang rilisnya, Edgar-Jones membahas soal kebutuhan film Sense and Sensibility versi lain. Ia menyebut, dengan nada “spoiler” bahwa jawabannya adalah ya, “The more the merrier, in my opinion.”
Ia juga menyatakan bahwa meski ia menyukai adaptasi 1995 yang dibintangi Emma Thompson dan Kate Winslet—yang ia sebut “one of my favourite films of all time”—ia tetap merasa ada ruang untuk menceritakan kembali kisah klasik Austen. Baginya, cerita Austen memang terus memikat hingga hari ini: “Her stories are something that fascinate us still today.”
Keterlibatan Austen di ruang publik juga terlihat, menurut Edgar-Jones. Ia mengingat tahun lalu menjadi penanda 250 tahun kelahiran Austen, sekaligus gelombang karya yang hadir—dari dua serial BBC, Miss Austen dan The Other Bennet Sister, hingga musical West End Clueless yang berbasis adaptasi film remaja 90-an dari Emma, serta adaptasi panggung modern karya Ava Pickett berjudul Emma. Ia juga menyebut adaptasi Pride and Prejudice yang ditulis Dolly Alderton dan dibintangi Emma Corrin akan tayang di Netflix.
Dalam bagian wawancara lain, ia ditanya pula mengenai Paul Mescal sebagai kandidat James Bond berikutnya. Edgar-Jones tidak banyak mengungkap detail, namun ia menyampaikan, “I don’t know, but I think there’s nothing Paul can’t do,” sebelum menambahkan, “So I would be there. Wow, that’s cool.”
Sense and Sensibility dijadwalkan tayang di bioskop Inggris pada 25 September.












