jurnalistik.co.id – Gedung Putih mencabut nominasi Richard Schroyer untuk memimpin Immigration and Customs Enforcement (ICE). Keputusan itu diambil setelah seorang senator dari Partai Republik ikut bergabung dengan kubu Demokrat menentang proses konfirmasi.
Schroyer merupakan nama yang diajukan Presiden Donald Trump untuk memimpin lembaga penegakan imigrasi tersebut. Ia ditunjuk pada bulan Juni, ketika Trump memilihnya mengambil alih posisi di ICE.
Penarikan nominasi dilakukan pada Kamis dengan surat memo singkat dari Gedung Putih. Memo tersebut tidak memuat penjelasan rinci mengenai alasan pencabutan, sehingga detail pertimbangan di balik keputusan tetap tidak diungkapkan secara terbuka.
BBC menyatakan telah menghubungi Gedung Putih untuk meminta keterangan, namun belum ada respons resmi yang menjelaskan langkah pencabutan ini.
Penolakan di Senat dan desakan informasi
Di Senat, penolakan terhadap nominasi Schroyer terjadi setelah Senator Rand Paul menahan pencalonan tersebut. Paul menekan agar informasi lebih lengkap disediakan terkait kasus penembakan oleh aparat ICE dan Border Patrol yang menewaskan dua warga negara Amerika Serikat di Minneapolis pada bulan Januari.
Upaya Paul membuat nominasi itu tidak bergerak ke tahap selanjutnya. Ia menyatakan bahwa pencalonan tidak akan diajukan untuk pemungutan suara penuh sampai Gedung Putih memberikan informasi tambahan seputar insiden Minneapolis tersebut.
Persoalan yang dipersoalkan berakar pada kematian Renee Good dan Alex Pretti di Minneapolis. Keduanya, menurut laporan, adalah warga AS yang tengah melakukan aksi protes saat ditembak mati dalam dua peristiwa terpisah pada Januari, saat terjadi konfrontasi dengan petugas ICE.
Protes publik juga terjadi pada awal tahun ini setelah kedua kematian tersebut. Peristiwa itu menjadi salah satu isu yang menambah resistensi politik terhadap nominasi pejabat ICE.
Latar Schroyer: dari penegakan hukum hingga kemitraan dengan Mullins
Sebelum dipilih memimpin ICE, Schroyer menjabat sebagai penasihat senior untuk sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security). Ia dipandang dekat dengan Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullins, yang departemennya menaungi ICE serta sejumlah lembaga terkait imigrasi dan perbatasan.
Berita Terkait
Schroyer juga memiliki rekam jejak di kepolisian jalan raya negara bagian. Ia bekerja bersama Oklahoma Highway Patrol selama 29 tahun, sebelum menjalani layanan militer di US Marines.
Selain itu, pemilihannya oleh Trump sempat dianggap mengejutkan oleh sejumlah pihak. Salah satu alasan yang disebut adalah karena Schroyer tidak memiliki pengalaman langsung dalam memimpin lembaga penegakan hukum berskala besar seperti ICE.
Dalam struktur politik AS, posisi kepala ICE memerlukan konfirmasi dari Senat. Namun, nominasi Schroyer tidak berhasil mencapai tahap pemungutan suara penuh. Pencalonan itu terhenti di komisi Senat yang membidangi Keamanan Dalam Negeri.
Sejak 2017, ICE tidak lagi dipimpin oleh figur yang dikonfirmasi melalui jalur Senat. Selama periode tersebut, lembaga tersebut menjalankan peran kepemimpinan melalui sejumlah pejabat sementara.
Saat ini, ICE dipimpin oleh David Venturella, yang disebut sebagai mantan eksekutif dari sektor penjara swasta. Ia mengambil peran setelah Todd Lyon mengumumkan pengunduran diri dari jabatan teratas pada bulan April.
Dampak politis bagi agenda deportasi Trump
Pencabutan nominasi pada Kamis dipandang sebagai kemunduran bagi Trump maupun Mullins. Langkah ini terjadi sementara pemerintah tetap melanjutkan janji kampanye Trump untuk mengarahkan upaya deportasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Dengan mandeknya nominasi Schroyer, Gedung Putih harus mencari strategi lain untuk mengisi posisi kepemimpinan ICE. Sementara itu, desakan Paul menegaskan bahwa isu penembakan di Minneapolis masih menjadi batu sandungan politis dalam proses persetujuan jabatan di Senat.
Penarikan nominasi juga menempatkan agenda kebijakan imigrasi dan penegakan di perbatasan pada titik yang lebih sulit. Ketika sebuah pencalonan tidak melaju ke pemungutan suara, proses membentuk kepemimpinan baru menjadi bergantung pada dinamika politik dan kesediaan para senator untuk menerima informasi yang diminta.
Kasus Minneapolisāyang melibatkan Renee Good dan Alex Prettiāberperan sebagai pemantik perhatian publik serta tekanan politik. Dalam laporan, kedua kematian itu terjadi ketika mereka berunjuk rasa dan tewas dalam konfrontasi terpisah dengan aparat ICE pada Januari.
Dalam situasi seperti ini, ketersediaan data dan kejelasan informasi yang diminta senator menjadi faktor penentu kelanjutan nominasi. Karena itulah, pencabutan nominasi Schroyer tidak hanya mengakhiri satu proses pencalonan, tetapi juga menggambarkan bagaimana perselisihan di Senat dapat membelokkan rencana penguatan kepemimpinan ICE.
Ke depan, pemerintahan Trump perlu menata ulang pendekatan untuk menemukan figur yang mampu melewati hambatan politik sekaligus memenuhi tuntutan transparansi yang dikemukakan di parlemen. Sementara itu, kepemimpinan ICE tetap berada di tangan pejabat sementara hingga ada keputusan baru yang disetujui melalui mekanisme politik yang relevan.












