jurnalistik.co.id – Raja Harald dari Norwegia wafat pada Jumat pagi, menutup perjalanan panjangnya di takhta selama 35 tahun. Ia meninggal pada dini hari dan segera diikuti rangkaian penghormatan publik di tengah duka nasional.
Menurut laporan, orang-orang di seluruh Norwegia memberikan penghormatan kepada raja yang wafat pada awal Jumat. Pada usia 89 tahun, Raja Harald dikenal sebagai sosok yang menandai satu era pemerintahan yang panjang, sebelum akhirnya digantikan oleh generasi berikutnya.
Di saat yang sama, putranya, Haakon, secara resmi naik takhta. Haakon VIII menjalani prosesi suksesi dengan penerusannya yang diakui secara kenegaraan, lalu bertemu dengan pemerintah untuk menjalankan langkah awal masa pemerintahannya.
Sejumlah warga hadir di kawasan Istana Kerajaan untuk menyampaikan penghormatan langsung. Mereka menaruh bunga dan berbagi ingatan tentang sosok Harald, sementara suasana duka terasa di ruang publik.
Riwayat perawatan Harald juga menjadi perhatian. Ia menjalani perawatan di rumah sakit nasional di Oslo karena kondisi langka yang berkaitan dengan darah. Perawatan tersebut berlangsung sebelum wafatnya sang raja.
Pada Jumat malam, suasana di sekitar fasilitas kesehatan berubah menjadi lebih ramai. Staf rumah sakit dan kerumunan warga berkumpul ketika peti jenazah dipindahkan dari rumah sakit menuju Istana Kerajaan.
Perpindahan peti jenazah itu sekaligus menandai transisi simbolik dari tahap perawatan menuju prosesi penghormatan kenegaraan. Di sepanjang perpindahan, berbagai pihak menunjukkan kesungguhan dalam menghormati Raja Harald.
Dalam proses duka itu, perhatian tidak hanya datang dari dalam negeri Norwegia. Ucapan belasungkawa juga mengalir dari luar, mencerminkan reputasi Raja Harald yang dikenal melampaui batas wilayah.
Berita Terkait
Salah satu bentuk dukungan internasional berasal dari Raja Charles III, yang menyampaikan “most heartfelt condolences” atau belasungkawa paling tulus. Ucapan tersebut menjadi penegasan bahwa duka Norwegia juga dirasakan dalam jejaring kerajaan lain.
Di dalam Norwegia, penghormatan kepada Harald berlanjut melalui ingatan kolektif yang dibangun selama puluhan tahun pemerintahannya. Banyak warga mengaitkan sosok sang raja dengan momen-momen penting kehidupan bernegara yang berlangsung di bawah kendali kepemimpinan selama 35 tahun tersebut.
Kini, Haakon VIII memulai bab baru setelah penerusan resmi dari ayahnya. Pertemuan Haakon dengan pemerintah menggambarkan bahwa masa jabatan yang baru tidak berhenti pada simbol suksesi, melainkan langsung masuk ke tahap pengelolaan pemerintahan.
Sementara Norwegia menata suasana duka, rangkaian peristiwa sejak kematian Harald—dari kabar wafat pada Jumat pagi hingga pemaknaan publik pada Jumat malam—menjadi satu garis besar yang mempertemukan hukum negara, prosesi, dan perhatian warga.
Secara keseluruhan, kematian Raja Harald pada usia 89 tahun sekaligus menutup masa pemerintahan yang panjang. Penghormatan dari warga di Istana Kerajaan, proses pemindahan peti jenazah, serta ucapan belasungkawa internasional menjadi penanda bahwa peristiwa ini memiliki bobot besar bagi Norwegia dan dunia.
Setelah kabar wafat Raja Harald tersebar pada Jumat pagi, perhatian publik segera mengarah pada proses-proses resmi yang menyertai duka nasional. Pada fase awal itu, penghormatan tidak hanya berbentuk kesedihan pribadi, melainkan juga terlihat sebagai rangkaian langkah kenegaraan yang dijalankan dengan tertib.
Keberadaan Haakon VIII dalam tahapan suksesi turut menjadi titik fokus pada hari yang sama. Seusai penandaan pergantian jabatan secara resmi, pertemuannya dengan pemerintah diposisikan sebagai langkah lanjutan yang memberi arah pada masa pemerintahan berikutnya, sekaligus memastikan transisi berlangsung dari simbol menuju kerja pemerintahan.
Dalam suasana duka tersebut, pemindahan peti jenazah pada Jumat malam memperlihatkan kesinambungan perhatian dari ruang perawatan menuju ruang penghormatan. Keramaian di sekitar fasilitas kesehatan dan suasana di Istana Kerajaan sama-sama menggambarkan bahwa ingatan terhadap Harald dirawat bersama, dari kalangan warga hingga respons dukacita dari luar Norwegia.












