Internasional

Houthi Mengklaim Langkah Besar di Yaman dan Memperketat Kendali Jalur Laut Merah

×

Houthi Mengklaim Langkah Besar di Yaman dan Memperketat Kendali Jalur Laut Merah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Houthis claim major advance in Yemen and tighten grip on Red Sea shipping lane

jurnalistik.co.id – Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim meraih kemajuan besar di pesisir barat Laut Merah, sekaligus mempererat kendali atas jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.

Menurut seorang sumber dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Houthi telah merebut Pulau Perim yang berada di mulut jalur di Selat Bab al-Mandab. Klaim ini disampaikan setelah rangkaian operasi militer yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Penguasaan Pulau Perim disebut muncul sehari setelah Houthi berhasil merebut kota pelabuhan strategis Mokha dari pasukan pro-pemerintah yang didukung Saudi, sebagaimana disampaikan sejumlah sumber militer.

Seorang pejabat militer Yaman kemudian mengatakan kepada AFP bahwa Houthi kini mengendalikan seluruh garis pantai.

Meski sebelumnya Houthi menyatakan tidak mengancam pengiriman internasional, mereka kembali menegaskan ancaman untuk menargetkan kapal milik Arab Saudi.

Perkembangan cepat ini juga memunculkan dorongan dari pihak Arab Saudi agar Washington bertindak lebih tegas. Dua sumber yang mengetahui isu tersebut menyebut, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman—yang disebut menjadi penguasa de facto—telah secara langsung meminta Presiden AS Donald Trump mengambil langkah militer terhadap Houthi.

Namun, hingga saat ini Trump menolak untuk melibatkan militer AS secara langsung. Alih-alih itu, ia menawarkan bantuan berupa dukungan intelijen dan dukungan untuk penentuan sasaran, seperti yang disampaikan kedua sumber kepada CBS News, mitra media BBC di Amerika Utara.

Setelah itu, seorang pejabat senior pemerintahan Trump menyampaikan kepada BBC, “We are in continuous dialogue with Saudi Arabia and the Republic of Yemen government regarding regional stability.”

Pada hari Jumat, pasukan pro-pemerintah menarik diri dari Perim (juga dikenal sebagai Mayyun). Sejumlah saksi dan kantor berita melaporkan pasukan Houthi kemudian bergerak ke pulau tersebut.

Houthi kemudian mengeluarkan pernyataan yang menyebut operasi militer mereka untuk mengusir pasukan yang didukung Saudi sebagai “success”. Dalam pernyataan itu, kelompok tersebut juga menegaskan bahwa “maritime navigation is safe for all companies except for Saudi vessels”.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan operasi berskala “large-scale” itu diluncurkan pada 3 September. Ia mengaitkannya dengan “blatant aggression” Arab Saudi terhadap “our dear people”.

Sarea juga menyatakan Houthi telah mengusir “Saudi enemy” dari enam distrik di wilayah Taiz dan Hodeidah. Ia mengklaim ratusan personel telah tewas, terluka, atau ditawan dalam pertempuran tersebut.

Meski demikian, pernyataan Houthi tidak menyebut secara spesifik Pulau Perim. Sementara itu, Arab Saudi belum memberikan komentar publik atas perkembangan terbaru.

Pulau Perim berada pada titik tersempit Selat Bab al-Mandab. Kawasan ini dinilai semakin penting seiring meningkatnya dampak dari “effective closure of the Strait of Hormuz” yang terjadi dalam konflik antara AS dan Iran, pada saat jalur-jalur air strategis menghadapi tekanan.

Arab Saudi dikatakan bergantung pada Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab untuk pengiriman minyak menuju pelanggan di Asia. Eskalasi konflik antara Houthi, pemerintah Yaman, dan Arab Saudi turut mendorong lonjakan harga minyak.

Sejak Houthi melancarkan ofensif di barat daya sekitar sepekan terakhir, laporan menyebut ratusan orang telah tewas dan ribuan lainnya mengungsi.

Koalisi yang dipimpin Saudi juga melakukan serangan udara ke wilayah yang dikuasai Houthi di bagian barat Yaman guna mendukung pasukan pro-pemerintah. Di sisi lain, Houthi meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke kota-kota serta fasilitas minyak di wilayah selatan Arab Saudi.

Dampak kemanusiaan

Seiring pertempuran yang meningkat, setidaknya 46.000 orang dilaporkan telah mengungsi di Yaman. Angka itu disampaikan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Pada hari Jumat, IOM menyatakan jumlah pengungsi “alarmingly rising by the hour”. Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, menambahkan, “Families are being forced to flee for the second or third time in this conflict, with almost nothing left.”

Konflik di Yaman berawal saat Houthi mengusir pemerintahan yang diakui secara internasional pada 2015, yang kemudian memicu intervensi militer Arab Saudi dalam perang saudara. Kini, kelompok tersebut menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa.

Kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya relatif bertahan lebih dari empat tahun disebut efektif runtuh pada Juli.