jurnalistik.co.id – Oman menyebut pembicaraan dengan Iran terkait pengamanan rute pelayaran lewat Selat Hormuz berjalan positif. Namun, pihak Iran mengingatkan bahwa kesepakatan tidak otomatis berarti jalur vital itu langsung dibuka kembali.
Menurut laporan BBC, kedua negara sama-sama menunjukkan indikasi kemajuan dalam diskusi pada Sabtu. Meski demikian, jadwal kapan kesepakatan akan benar-benar dituntaskan masih belum jelas.
Kementerian luar negeri Oman juga mengingatkan agar tidak ada serangan terhadap kapal-kapal di jalur tersebut. Peringatan ini diarahkan untuk mencegah gangguan yang bisa menghambat proses pembahasan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pembicaraan kini berada pada tahap akhir. Ia menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz tetap “subject to other conditions”, atau bergantung pada persyaratan lain yang harus terpenuhi.
Araghchi menyebut salah satu syaratnya adalah Iran mendapatkan kompensasi dari Amerika Serikat atas pelanggaran yang, menurut Teheran, terjadi dalam periode setelah kesepakatan sebelumnya. Ia mengaitkannya dengan Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani kedua pihak pada bulan Juni untuk menghentikan pertempuran dan sekaligus membuka jalan bagi pembicaraan guna mengakhiri perang.
Namun, MoU tersebut tidak bertahan lama. Diskusi diplomatik kemudian ikut gagal, sementara serangan “saling balas” kembali terjadi hanya beberapa hari setelah MoU ditandatangani.
Terpisah dari keterangan Araghchi, Kepala urusan keamanan Iran Mohammad Baqer Zolqadr menyampaikan kepada kantor berita Tasnim bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai AS “corrects” its behaviour, atau memperbaiki perilakunya. Ia mengatakan AS perlu memenuhi enam tuntutan Iran.
Enam tuntutan itu mencakup penghentian ancaman terhadap Iran, penghapusan blokade angkatan laut yang ditujukan ke pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan. Zolqadr juga mengaitkan situasi blokade lain di kawasan tersebut, yaitu blokade atas pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah yang dikenakan oleh kelompok Houthis yang didukung Iran di Yaman sejak 20 Juli.
Berita Terkait
Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan dengan Iran “could be soon”. Tetapi Wakil Presiden JD Vance tampak lebih skeptis pada Sabtu dan menilai pekerjaan masih belum selesai meski ada sinyal kemajuan.
Vance mengatakan, “We’re really in the middle of the game here,” lalu menambahkan, “This thing is not over.” Ia menyebut pemerintah menerapkan “a whole host of tools – diplomatic, economic [and] military tools – to ensure that we get the best outcome for the American people”.
Ia juga mengklaim “the same amount of oil” akan keluar dari Teluk seperti sebelum operasi militer AS dimulai pada 28 Februari, meski ia tidak merinci detailnya. Menurut Vance, fokus yang sedang dikerjakan adalah bagaimana menyusun skema lalu lintas agar kapal dapat melintas dengan aman.
Selain soal syarat pembukaan, ada pula perbedaan penting yang dilaporkan antara Teheran dan Washington. Dalam pemberitaan Reuters, Teheran disebut berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi selat. Reuters, mengutip pejabat Iran, sebelumnya menuliskan tarif yang dimaksud berada di kisaran 5% sampai 7% dari harga muatan kapal yang melewati jalur tersebut.
Vance kemudian meremehkan pemberitaan itu. Ia menyatakan, “The Iranians have told us they have no plans to toll the Strait of Hormuz.”
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga tercermin dari pernyataan terkait insiden di lapangan. Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) menyebut Iran menargetkan sebuah kapal tanker yang terafiliasi dengan Adnoc saat kapal itu melewati kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya, Kementerian luar negeri UEA menyebut adanya “a hostile Iranian attack” yang menghantam kapal tanker Adnoc menggunakan “a missile”. UEA menegaskan tidak ada korban jiwa. Setelah itu, pada Sabtu, Badan UKMTO melaporkan adanya kapal yang tertabrak “an unknown projectile” di lepas pantai Oman, yang menyebabkan kebakaran namun kemudian dipadamkan dan juga tidak menimbulkan korban jiwa.
Masih belum diketahui apakah laporan UKMTO merujuk pada kapal yang sama dengan yang disebut UEA. Sementara itu, sejak Februari ketika AS dan Israel mulai menyerang wilayah tersebut, Iran telah melakukan blokade efektif terhadap Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia.
Dalam kondisi seperti ini, pembahasan Oman-Iran tampak berada di tengah upaya mencari jalan keluar. Namun, penekanan Iran bahwa pembukaan kembali “subject to other conditions” menandakan bahwa kepastian terobosan dan batas waktu kesepakatan masih menjadi bagian yang belum bisa dipastikan.












