jurnalistik.co.id – Amerika Serikat menandai peringatan 25 tahun serangan 11 September dengan rangkaian upacara khidmat di New York, Pentagon, dan Shanksville, Pennsylvania.
Di Washington, Presiden Donald Trump memimpin acara di Pentagon, sementara Wakil Presiden JD Vance hadir dalam peringatan di lokasi World Trade Center, New York.
Acara itu juga dihadiri semua presiden AS yang masih hidup beserta para first lady mereka, menciptakan suasana penuh duka di tengah peringatan nasional.
Dalam seluruh rangkaian upacara, momenhening digelar untuk menandai waktu tepat terjadinya serangan, lalu nama-nama hampir 3.000 korban dibacakan.
Rangkaian peringatan di New York dan tempat-tempat lain berlangsung berbarengan dengan penegasan ingatan kolektif terhadap mereka yang meninggal setelah pesawat yang dibajak menabrak World Trade Center, Pentagon, dan sebuah area di Pennsylvania.
Upacara di Shanksville, Pennsylvania, juga digelar untuk menghormati penumpang dan awak Flight 93 yang melawan para pembajak sebelum pesawat jatuh.
Di Pentagon, Trump menyampaikan pidato dengan nada reflektif sekaligus menyerukan tekad berkelanjutan menghadapi ancaman teror.
“Today we renew the sacred oath that we first swore in their names a quarter of a century ago,” kata Trump di hadapan hadirin.
Ia menambahkan, “We will never, ever forget. That’s why we fight today.”
Dalam pidatonya, Trump mengaitkan “war on terror” yang bermula setelah 9/11 dengan arah kebijakan keamanan yang kemudian berimbas pada keterlibatan AS di sejumlah konflik di Timur Tengah.
Trump juga menghubungkan peringatannya dengan situasi saat ini terkait Iran, dan menyatakan, “The Islamic Republic ‘will never, ever have a nuclear weapon’.”
Acara di Pentagon diikuti oleh sejumlah pejabat, termasuk para menteri kabinet, serta Condoleezza Rice yang saat kejadian menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS.
Sementara itu, di sela peringatan di New York, Presiden George W. Bush—yang menjabat pada masa serangan—hadir bersama para mantan presiden Joe Biden, Barack Obama, dan Bill Clinton.
Lebih dari sekadar prosesi, peringatan ini juga mengandung catatan tentang dampak jangka panjang yang dialami para penyintas dan keluarga korban.
Berita Terkait
Setiap tanggal 11 September, lonceng dibunyikan untuk menandai waktu tepat saat empat pesawat jatuh dan saat Menara Kembar runtuh.
Enam lonceng dibunyikan, diikuti satu momenhening, sebagai penanda bergantian antara waktu kejadian dan penghormatan.
Pada peringatan tahun ini, lonceng ketujuh dibunyikan untuk mengenang ribuan orang yang meninggal akibat penyakit, termasuk kanker, setelah serangan—sebuah penegasan bahwa duka tidak berakhir pada hari kejadian.
Pejabat kesehatan AS menyebut bahwa penyakit terkait debu dan asap dari runtuhnya menara kemudian merenggut lebih dari tiga kali lipat jumlah nyawa dari hampir 3.000 orang yang meninggal saat serangan berlangsung.
Di tengah pembacaan nama yang berlangsung nyaris empat jam, seorang janda korban juga menyampaikan kritik keras dalam sambungan siaran global.
Terry Strada, janda dari Tom Strada, menyatakan, “You are missed more with each year that passes,” lalu bertanya, “But how can it be 25 years and still we have no justice for the role that Saudi Arabia played in your murder?”
Pernyataan Terry Strada—yang menyebut perannya sebagai ketua nasional 9/11 Families United—mendapat tepuk tangan dari hadirin.
Dalam konteks tuduhan yang ia sampaikan, artikel tersebut menyebut mayoritas para pembajak berasal dari Arab Saudi, dan perencanaan dipimpin oleh pendiri al-Qaeda, Osama bin Laden.
Namun, pejabat Arab Saudi berulang kali membantah keterlibatan mereka, dan laporan Komisi 9/11 pada 2004 juga menyatakan negara itu tidak terlibat.
Selain di AS, peringatan untuk para korban juga digelar di sejumlah negara lain.
Di London, sebuah acara seremonial diadakan di Istana Buckingham dengan kehadiran Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband dan Duta Besar AS Warren Stephens.
Di Kanada, Bursa Efek Toronto juga menggelar acara untuk mengenang rekan-rekan mereka yang meninggal dalam serangan tersebut.
Di Milan, sekelompok pemadam kebakaran dari Italia dan AS ikut serta dalam prosesi menaiki tangga sebagai bentuk penghormatan kepada para petugas tanggap darurat yang gugur.
Mereka mengenakan seragam dan membawa peralatan saat melakukan pendakian menaiki dan menuruni Galfa Tower sebanyak 110 lantai, sebagai pengingat jumlah tingkat yang dimiliki Menara Kembar.
Melalui upacara di banyak lokasi, peringatan 25 tahun 9/11 menegaskan kembali bahwa duka, ingatan, dan pelajaran dari peristiwa itu terus dipelihara dalam ingatan lintas generasi.












