Internasional

Kekalahan Telak Trump di Pemilu Sela AS: Imbas ke Gedung Putih dan Dunia

×

Kekalahan Telak Trump di Pemilu Sela AS: Imbas ke Gedung Putih dan Dunia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gerbong Trump Kalah Telak di Pemilu Sela AS, Apa Dampaknya Bagi Dunia?

jurnalistik.co.id – Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan umum sela di Amerika Serikat bukan hanya mengubah peta kekuasaan di Washington, tetapi juga langsung menimbulkan guncangan politik di lingkungan Gedung Putih. Hasil yang mengejutkan itu menekan Presiden Donald Trump dari arah internal sekaligus memengaruhi berbagai agenda luar negeri AS.

Sejumlah gejolak mulai bermunculan setelah hasil pemilu sela tersebut membuat Demokrat menguasai Kongres. Mengutip Reuters dan AFP, Kamis (5/11/2026), pergeseran ini membuat Trump berada di bawah tekanan tajam dari kubu Partai Republik di dalam negeri.

Para sekutu dan ahli strategis, kata laporan itu, secara terbuka mendorong adanya perombakan besar di Gedung Putih hingga perubahan arah kebijakan. Tuntutan tersebut muncul seiring kemarahan publik yang dipandang menjadi salah satu penyebab utama kekalahan kubu Republik dalam pemilu sela.

Faktor yang disorot publik mencakup perang dengan Iran serta tingginya harga bahan bakar minyak (BBM). Dalam penilaian seorang strategis veteran Republik, kondisi tersebut dinilai makin menyulitkan posisi Trump.

“Dia perlu membersihkan rumah,” tegas Strategis Veteran Republik John Feehery. “Setiap hari dari titik ini ke depan, dia menjadi semakin lemah.”

Namun, Trump menolak mentah-mentah desakan untuk berganti haluan. Ia mengisyaratkan bahwa kekalahan itu bukan alasan baginya untuk memperbarui strategi.

“Saya tidak menganggapnya sebagai pukulan bagi saya,” ungkapnya. “Bagi saya itu menenangkan,” tuturnya menepis kecaman atas waktunya yang dihabiskan untuk proyek renovasi ruang dansa Gedung Putih.

Gedung Putih Hadapi Guncangan Internal

Dengan kendali penuh di tangan Demokrat, partai oposisi kini memiliki ruang yang lebih luas untuk memblokir legislasi Trump, melakukan penyelidikan terhadap pemerintahannya, dan menentang calonnya. Kondisi ini juga diprediksi mendorong Trump untuk makin bergantung pada langkah-langkah sepihak.

Di lingkungan Gedung Putih sendiri, laporan menyebut para staf senior mulai menyiapkan kemungkinan terjadinya pengunduran diri staf hingga perombakan kabinet. Situasi tersebut digambarkan tidak hanya sebagai tekanan politik, tetapi juga persoalan moral internal.

“Sangat menyebalkan berada di sini saat ini,” ucap seorang pejabat senior Gedung Putih anonim. “Moral sedang serendah-rendahnya.”

Pejabat itu juga menyampaikan bahwa jajak pendapat internal sebenarnya sudah memperingatkan potensi kekalahan enam pekan sebelum pemilu. Meski demikian, Trump disebut tetap memilih melanjutkan perang di Iran tanpa terlalu memedulikan konsekuensi yang mungkin muncul.

“Pada akhirnya, dia tidak peduli,” kata pejabat anonim tersebut. “Dia menolak mendengarkan siapapun.”

Dampak Global: Timur Tengah hingga Ukraina

Kemenangan Demokrat turut membawa dampak ke urusan luar negeri AS. Pelemahan kekuasaan Trump disebut menumbuhkan secercah harapan terkait peluang resolusi damai dalam konflik Iran-Israel.

“Jika Teheran menyadari bahwa Trump butuh kesepakatan, tetapi bukan sembarang kesepakatan, peluang nyata dapat muncul untuk mengakhiri perang,” papar Ebtesam al-Ketbi dari Pusat Kebijakan Emirates.

Di sisi lain, analis Saxo Bank Ole Hansen menambahkan bahwa pasar tampaknya makin bertaruh pada kemungkinan Presiden Trump ingin melupakan perang di kawasan Timur Tengah. Perubahan ekspektasi tersebut, menurut gambaran analitis, ikut membentuk cara pelaku menilai risiko-risiko geopolitik.

Selain itu, kemenangan Demokrat dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi usulan pemberian paket bantuan baru yang sebelumnya sempat terhenti ke Ukraina. Hasil ini juga memberikan harapan terhadap perundingan damai antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi oleh AS.

“Seseorang pada akhirnya butuh persetujuan Kongres untuk tindakan perdagangan dan, sejauh itu, dia (Trump) dilemahkan,” tutur Mantan Sekretaris Perdagangan Pemerintah Federal India, Anup Wadhawan, terkait pelemahan otoritas tarif sang presiden.

Nasib Panas Taiwan dan Hubungan AS-China

Perubahan di Kongres juga diproyeksikan akan memengaruhi arah persaingan AS dengan China. Para analis menilai, Kongres yang dikuasai Demokrat dapat membatasi penggunaan tarif secara sewenang-wenang oleh Trump.

“Mereka (Kongres) akan menggunakan setiap kesempatan untuk menggagalkan (kebijakan Trump) selama dua tahun ke depan,” ungkap Drew Thompson, Peneliti Senior di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.

Dalam penilaian tersebut, semakin sulitnya menekan China juga dipandang terkait risiko kenaikan biaya operasional bisnis domestik. Selain tarif, isu dukungan AS untuk Taiwan disebut berpotensi menjadi batu sandungan baru setelah Trump beberapa kali mencoba menahannya.

“Kongres yang dikuasai Demokrat mungkin memaksa Trump melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan tahun depan,” kata Wu Xinbo, Dekan Institut Studi Internasional di Universitas Fudan. “Jika itu terjadi, itu juga akan merusak stabilitas hubungan AS-China.”

Sementara itu, Steve Tsang dari SOAS China Institute menawarkan sudut pandang berbeda. Ia menyebut status Trump yang direndahkan menjadi “bebek lumpuh” akan dimanfaatkan China untuk memberikan tekanan tambahan.

“Status Trump yang direndahkan menjadi ‘bebek lumpuh’ akan digunakan oleh China untuk memberikan lebih banyak tekanan kepadanya.”

Namun, Tsang juga menekankan bahwa China tentu akan mempertimbangkan risiko agar tekanan tidak berujung pada tindakan Trump yang tidak bertanggung jawab. “Namun China tentu juga penuh perhitungan dan tidak akan mau menekan terlalu keras serta memicu Trump bertindak sama sekali tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.

Dengan demikian, kemenangan telak Demokrat dalam pemilu sela tidak berhenti pada pergantian kekuasaan di Kongres. Dampaknya mengalir dari ruang politik domestik menuju keputusan-keputusan luar negeri, termasuk arah kebijakan di Timur Tengah, dinamika Ukraina-Rusia, hingga cara AS menghadapi tantangan di kawasan Asia Timur dan relasi dengan China.