jurnalistik.co.id – Perubahan peta politik di Kongres Amerika Serikat memberi dorongan baru bagi pasar pendapatan tetap global yang sebelumnya sempat tertekan. Sejumlah pelaku pasar membaca hasil pemilu sela sebagai sinyal bahwa pengawasan legislatif terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump akan lebih ketat.
Ekspektasi itu berfokus pada bagaimana pemerintahan mengelola arah kebijakan ekonomi serta perdagangan. Dalam konteks ini, sentimen pasar obligasi menguat karena investor menilai jalannya kebijakan bisa menghadapi batasan yang lebih jelas dari pihak legislatif.
Di tingkat respons kebijakan, mayoritas responden dalam pemilu sela menolak kebijakan tarif yang diusung Trump. Penolakan tersebut disampaikan karena tarif dinilai telah merugikan perekonomian dan ikut mendorong kenaikan harga barang.
Argumentasi lain yang muncul adalah pandangan bahwa beban tarif tidak sepenuhnya “ditanggung pihak asing”. Sejumlah penelitian yang disebut dalam laporan menyatakan dampak tarif pada akhirnya berujung pada rakyat di Negeri Adidaya.
Dengan latar seperti itu, investor global mengatur ulang komposisi portofolio mereka. Alhasil, sebagian dana mengalir ke aset pendapatan tetap, seiring pasar merespons perubahan ekspektasi terhadap prospek kebijakan.
Imbal hasil obligasi turun di sejumlah negara Pergerakan tersebut terlihat dari penurunan yield di pasar obligasi Amerika Serikat. Mengacu data Bloomberg, yield US Treasury tenor 10 tahun pada pagi hari kembali terpangkas sebesar 10,1 basis poin menjadi 4,86%.
Turunnya yield di Amerika Serikat kemudian menular ke pasar obligasi di beberapa negara utama. Pada gilirannya, penurunan yield tercatat pada obligasi pemerintah Prancis, Inggris, dan Jerman.
Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun turun 17,6 basis poin menjadi 4,76%. Selanjutnya, yield obligasi pemerintah Inggris juga melemah, turun 13,1 basis poin menjadi 5,12%.
Berita Terkait
Di Jerman, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun terpangkas 5,8 basis poin hingga mencapai 3,2%. Pergerakan serupa juga terlihat di kawasan Asia, saat yield sejumlah obligasi pemerintah mencatat penurunan.
Yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun turun 3,4 basis poin menjadi 2,76%. Dari sana, Singapura ikut mengalami penurunan yield sebesar 1,9 basis poin menjadi 2,12%.
Sementara itu, Australia dan Selandia Baru menunjukkan penurunan yang lebih tajam dalam basis poin. Yield obligasi Australia turun 8,3 basis poin menjadi 4,9%, sedangkan Selandia Baru turun 6,4 basis poin menjadi 4,6%.
Rangkaian penurunan yield di berbagai negara mencerminkan pola respons pasar terhadap perubahan ekspektasi kebijakan. Ketika sentimen mengarah ke aset berpendapatan tetap, harga obligasi cenderung bergerak mengikuti permintaan yang meningkat, yang pada akhirnya tercermin pada yield yang lebih rendah.
Dalam laporan tersebut, penguatan pasar obligasi global juga dikaitkan dengan perubahan dinamika politik di dalam tubuh Kongres AS. Dengan pengawasan legislatif yang dinilai bisa menjadi lebih ketat, investor mempertimbangkan ulang skenario kebijakan yang berhubungan dengan ekonomi dan perdagangan.
Di saat yang sama, penolakan terhadap kebijakan tarif oleh mayoritas responden turut menjadi komponen pembentuk narasi pasar. Penekanan pada dampak tarif yang pada akhirnya ditanggung rakyat, menurut rujukan penelitian yang disebut, membantu memperkuat arah pergeseran portofolio.
Semua faktor tersebut berkontribusi pada suasana pasar yang lebih kondusif. Dari sisi data, penurunan yield di US Treasury 10 tahun hingga pergerakan yield di Prancis, Inggris, Jerman, Jepang, Singapura, serta Australia dan Selandia Baru menunjukkan konsistensi sentimen pada instrumen pendapatan tetap.
Dengan demikian, kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS menjadi titik awal yang mengubah ekspektasi pasar. Ekspektasi itu kemudian diterjemahkan dalam aksi beli yang mendorong yield turun, sekaligus memberi dukungan pada pasar obligasi global yang pada periode sebelumnya sempat menghadapi tekanan.












