Internasional

Konflik AS–Iran: Tiga ahli memetakan kemungkinan jalan penyelesaian

×

Konflik AS–Iran: Tiga ahli memetakan kemungkinan jalan penyelesaian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How could US-Iran conflict end? Three experts give their views

jurnalistik.co.id – Prospek kesepakatan segera untuk mengakhiri konflik AS dan Iran kembali tampak jauh. Di tengah rentetan serangan yang saling dibalas serta retorika yang keras, kedua pihak belum menunjukkan tanda serius untuk beralih ke meja perundingan.

Langkah terbaru muncul beberapa hari setelah AS mengumumkan fase baru berupa blokade ekonomi yang menyeluruh—ditujukan tidak hanya kepada Iran, tetapi juga negara-negara yang berdagang dengan negara tersebut. Menurut tujuan AS, tekanan ekonomi itu dimaksudkan agar Iran mau bernegosiasi sekaligus menghentikan serangan terhadap pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur komersial utama yang sejak konflik meletus pada Februari dinilai praktis tertutup.

Ketika konflik kini memasuki bulan ketujuh, kesepakatan yang sempat menjadi harapan justru telah lewat batas waktunya. Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani kedua pihak pada Juni—dengan target gencatan senjata permanen dan kesepakatan dalam 60 hari—berakhir tanpa hasil yang disepakati.

Untuk memahami bagaimana situasi bisa berkembang, BBC meminta pandangan tiga ahli mengenai kemungkinan jalan keluar. Mereka menyoroti bahwa kunci perubahannya bukan sekadar intensitas serangan, melainkan arah strategis yang mungkin sedang dipilih AS, serta respons kalkulatif Iran terhadap tekanan militer dan ekonomi.

AS: tekanan militer dan ekonomi, namun arah tujuan strategis masih belum pasti

Jason Campbell, Senior Fellow di Middle East Institute (Washington DC), menilai persoalan awal yang belum jelas adalah tujuan strategis AS secara definitif di Iran. Ia mengatakan pemerintahan AS terus meninjau ulang apa yang dapat “ditoleransi” dari sisi politik. Dalam pandangannya, asumsi bahwa komponen militer akan cukup untuk kemenangan cepat ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Campbell melihat yang tampak sekarang adalah penggunaan berbagai tuas secara bersamaan—militer dan ekonomi—untuk mendorong posisi tawar. Ia menilai administrasi saat ini tampak “puas” dengan bentuk situasi stagnan: mempertahankan blokade, sambil memungkinkan adanya penargetan periodik terhadap kemampuan Iran untuk mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Ia juga menyebut pejabat AS berharap sanksi baru cukup kuat untuk memaksa rezim Iran kembali ke meja perundingan dengan posisi yang lebih lemah. Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan kekuatan AS untuk membantu terjadinya “aliran” yang cukup melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir—agar menghindari kejutan harga minyak atau runtuhnya ekonomi global—bukanlah sasaran utama ketika perang dimulai.

Campbell menyimpulkan kecenderungan lain: Iran kemungkinan akan meminta harga yang tinggi untuk menuju resolusi. Menurutnya, harga politik seperti itu kemungkinan sulit diterima bagi administrasi Trump, sehingga ruang untuk kompromi dapat tetap sempit.

Iran: kesiapan menekan ekonomi, menunggu konsesi AS atau kembalinya MoU

Dr Aniseh Bassiri Tabrizi, Associate Fellow di Chatham House pada Program Timur Tengah dan Afrika Utara (London), menilai serangan terbaru tidak benar-benar mengubah kalkulasi Iran tentang perang. Ia menyatakan Teheran tampaknya sedang menyiapkan kondisi “pemerasan” yang makin ketat terhadap ekonomi, sambil melanjutkan pola serangan yang muncul dan mereda dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut Bassiri Tabrizi, maksudnya adalah membalas serangan dengan cara yang proporsional, supaya tidak terseret ke eskalasi konflik yang lebih besar. Ia menekankan bahwa dari sisi ekonomi, tekanan tersebut memang berpotensi memperburuk kondisi Iran—yang sudah terdampak perang serta memiliki persoalan struktural mendasar, termasuk sebagaimana terlihat dari demonstrasi di Desember dan Januari.

Meski demikian, ia tidak melihat indikasi dari pihak Iran bahwa tekanan ekonomi akan segera mengubah perhitungan mereka, termasuk dalam konteks negosiasi. Ia menambahkan bahwa ini tidak berarti Iran tidak mencari “jalur keluar” (off ramp), tetapi pola yang terlihat adalah menunggu AS kembali pada MoU, atau setidaknya menawarkan bentuk konsesi.

Dalam bacaan Bassiri Tabrizi, Iran tidak ingin tunduk pada tekanan AS atau mengubah pendekatan mereka sebagai respons terhadap sanksi maupun serangan tambahan. Dengan kata lain, harapan pada titik temu lebih bergantung pada apakah AS bersedia merombak posisi negosiasinya, bukan pada seberapa besar intensitas serangan terbaru.

Strategi keluar: kemungkinan masih bergantung pada kesepakatan yang sudah digarisbawahi MoU

Nicholas Hopton, Distinguished Fellow di Royal United Services Institute (RUSI) (London) sekaligus mantan duta besar Inggris untuk Iran, menyatakan bahwa lonjakan aksi militer terbaru tidak akan menghasilkan kapitulasi Iran. Ia menyebutnya lebih seperti “belokan” terbaru dalam dinamika yang sama. Ia juga menilai tekanan ekonomi sulit bekerja, karena China, Rusia, dan banyak negara lain yang bertransaksi dengan Iran tidak akan mendukung sanksi unilateral AS.

Hopton menambahkan bahwa Iran masih bisa mengganggu Selat Hormuz. Dalam pandangannya, Iran memiliki daya “menahan” yang dapat memengaruhi ekonomi global, sehingga dampak tekanan ekonomi AS tidak otomatis menjadi pemicu perubahan cepat di Teheran.

Lalu ia mempertanyakan: apa strategi keluar (exit strategy) yang bisa dijalankan AS? Hopton menyebut bahwa AS sebenarnya sudah memilikinya—yakni kesepakatan dalam MoU Juni. Jika Trump mampu melaksanakan perundingan secara berkelanjutan terhadap kerangka dalam MoU, maka itulah “jalur keluar” yang memungkinkan.

Menurut Hopton, kesepakatan tidak hanya memberi AS semacam kemenangan karena melemahkan kubu hardliner di Republik Islam Iran, tetapi juga memberi jaminan bagi banyak pihak bahwa Iran tidak akan mendapatkan senjata nuklir. Ia menyebut ada “peluru perak” dalam MoU: pengangkatan semua sanksi AS terhadap Iran.

Ia menilai pengangkatan sanksi tersebut, dalam jangka waktu, dapat melemahkan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Keterlibatan ekonomi dunia luar dengan Iran dalam cara baru juga, secara bertahap, diyakini akan mendorong perubahan politik dan sosial yang lebih radikal, sehingga pada akhirnya rezim Islam yang muncul akan bersifat berbeda dari sebelumnya.

Namun Hopton mengakui proses itu tidak mudah. Ia menekankan penetrasi IRGC ke dalam ekonomi Iran membuat perubahan struktural menjadi jauh lebih kompleks. Meski begitu, ia berpendapat skenarionya “seharusnya bisa bekerja” bila diberi waktu dan bila AS serta mitra-mitranya menunjukkan kesabaran strategis—sesuatu yang, menurutnya, saat ini justru langka.

Pada tahap ini, Hopton menyimpulkan bahwa yang paling mungkin terjadi adalah situasi yang “berantakan” dan tidak jelas, yang buruk bagi semua pihak. Dari tiga pandangan tersebut, benang merahnya sama: pergeseran ke resolusi lebih ditentukan oleh kalkulasi politik dan konsesi dalam MoU, bukan semata-mata oleh intensifikasi serangan di lapangan.