Internasional

Bagaimana konflik AS-Iran bisa berakhir? Tiga analis memetakan skenario

×

Bagaimana konflik AS-Iran bisa berakhir? Tiga analis memetakan skenario

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How could US-Iran conflict end? Three experts give their views

jurnalistik.co.id – Sejumlah serangan kembali menghiasi eskalasi konflik AS dan Iran. Di tengah kebuntuan yang sudah berjalan berbulan-bulan, perbincangan publik kini menyoroti apakah jalan damai masih mungkin, atau justru kian jauh dari jangkauan.

Serangan terbaru muncul beberapa hari setelah Washington mengumumkan masuk ke fase baru, yakni blokade ekonomi menyeluruh terhadap Iran serta negara-negara yang berdagang dengan Iran. Langkah ini dipaparkan sebagai cara untuk mendorong Iran berunding sambil menghentikan gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz adalah jalur komersial utama yang disebut efektif tertutup sejak konflik yang melibatkan AS dan Israel dimulai pada Februari. Kondisi itu membuat arus distribusi menjadi faktor menentukan kestabilan ekonomi dan harga.

Namun, kesepakatan yang segera menghentikan pertarungan kembali dinilai tidak mudah. Pasalnya, serangan terus saling dibalas dan retorika kedua pihak tetap keras tanpa tanda kompromi.

Di tengah situasi tersebut, Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani pada Juni ikut menjadi rujukan penting. MoU itu menargetkan gencatan senjata permanen sekaligus kesepakatan dalam tempo 60 hari, tetapi tenggatnya telah kedaluwarsa.

Konflik yang kini memasuki bulan ketujuh itu lantas memunculkan spekulasi tentang arah yang mungkin ditempuh. Tiga analis yang dimintai pendapat memetakan skenario berbeda—mulai dari tujuan strategis AS, dampak tekanan ekonomi terhadap kalkulasi Iran, hingga kemungkinan jalan keluar yang dianggap realistis.

Ketidakpastian tujuan AS dan pilihan “stasis”

Jason Campbell, Senior Fellow di Middle East Institute, Washington DC, menilai masalah awalnya adalah AS belum menjelaskan secara definitif tujuan strategisnya terhadap Iran. Menurutnya, Gedung Putih terus menimbang ulang apa yang bisa diterima dari sisi politik.

Campbell menggarisbawahi bahwa pendekatan semula mengasumsikan komponen militer cukup untuk kemenangan cepat, tetapi tidak menghasilkan efek yang diharapkan. Yang terlihat kemudian adalah penggunaan tuas yang lebih beragam—militer dan ekonomi—yang digerakkan secara bersamaan.

Ia menyimpulkan pemerintahan saat ini tampak nyaman dengan situasi yang cenderung “stasis”. Campbell berpendapat AS seolah mempertahankan blokade sambil memberi ruang untuk penargetan periodik terhadap kemampuan Iran yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran di selat tersebut.

Campbell juga menyebut pejabat AS berharap sanksi baru mampu memaksa rezim Iran kembali ke meja perundingan dalam posisi lebih lemah. Ia menambahkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pasukan AS tampak bisa memfasilitasi arus yang cukup melalui Selat Hormuz untuk mencegah lonjakan harga minyak atau kemungkinan runtuhnya ekonomi global.

Meski begitu, ia menegaskan langkah-langkah itu bukan target yang ingin dicapai sejak AS memulai perang. Karena itu, Campbell memperkirakan Iran kemungkinan akan meminta harga tinggi untuk menuju resolusi, yang ia nilai tetap sulit diterima secara politik oleh pemerintahan Trump.

Tehran melihat tekanan sebagai bagian dari strategi

Dr Aniseh Bassiri Tabrizi, Associate Fellow pada program Middle East and North Africa Chatham House, menilai serangan terbaru tidak mengubah kalkulasi Iran secara mendasar. Menurut Tabrizi, Tehran mempersiapkan kondisi ekonomi yang makin terjepit sekaligus melanjutkan pola serangan “naik-turun” selama beberapa bulan terakhir.

Ia menyatakan respons Tehran kemungkinan akan tetap proporsional supaya tidak meluas menjadi konflik yang lebih besar. Pada sisi ekonomi, ia mengakui tekanan semacam ini akan merugikan, apalagi kondisi perekonomian Iran telah tergerus perang dan sebelumnya juga menghadapi masalah struktural.

Tabrizi merujuk pada demonstrasi di Iran pada Desember dan Januari sebagai contoh latar yang telah ada. Namun, ia tidak melihat tanda dari pihak Iran bahwa squeeze ekonomi akan mengubah perhitungan mereka dalam waktu dekat, termasuk saat menimbang negosiasi.

Ini, menurutnya, tidak berarti Iran sama sekali tidak mencari “jalan keluar”. Hanya saja, Tehran menilai jalan keluar itu bergantung pada kemauan AS untuk kembali ke MoU—atau setidaknya menawarkan konsesi tertentu.

Tabrizi menambahkan bahwa Tehran tidak ingin “kalah” menghadapi tekanan AS atau mengganti pendekatan mereka sebagai reaksi atas sanksi maupun serangan tambahan. Dengan kata lain, strategi Iran lebih tampak sebagai upaya menjaga posisi tawar, bukan mencari kompromi cepat.

Rute keluar yang disambungkan ke MoU

Nicholas Hopton, Distinguished Fellow di Royal United Services Institute dan mantan duta besar Inggris untuk Iran, menyebut lonjakan tindakan militer terbaru tidak otomatis berujung pada kapitulasi Iran. Ia melihatnya lebih sebagai putaran baru dari dinamika yang telah terjadi.

Hopton juga meragukan efektivitas tekanan ekonomi. Dalam pandangannya, China, Rusia, dan banyak negara lain yang berdagang dengan Iran tidak akan mendukung sanksi unilateral AS, sehingga Iran tetap punya kemampuan mengganggu Selat Hormuz.

Ia menggambarkan posisi tersebut sebagai “kendali” atas titik-titik vital ekonomi global. Lalu ia mempertanyakan: seperti apa strategi keluar yang diinginkan Gedung Putih?

Hopton menilai AS sebenarnya sudah menemukan jalurnya. Jika Trump mampu memberi upaya negosiasi yang berkelanjutan terhadap kesepakatan yang tertulis dalam MoU Juni, maka itu menjadi “off-ramp” yang dimaksud.

Menurutnya, kesepakatan itu memberi keuntungan politik bagi AS: melemahkan kelompok garis keras di Republik Islam sekaligus menenangkan pihak lain bahwa Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir. Di dalam MoU, ia menyebut ada satu “peluru perak”, yakni pencabutan semua sanksi AS terhadap Iran.

Hopton menuturkan, pencabutan tersebut—jika berlangsung dari waktu ke waktu—dapat melemahkan Islamic Revolutionary Guard Corp (IRGC). Ia juga menilai keterlibatan ekonomi dengan dunia luar dalam format baru berpeluang mendorong perubahan politik dan sosial secara bertahap, sehingga pada akhirnya yang tersisa adalah rezim Islam, tetapi dengan corak yang sangat berbeda.

Meski begitu, proses itu tidak akan mudah karena tingkat penetrasi IRGC ke dalam ekonomi Iran disebut luas, sehingga perubahan tidak bisa terjadi instan. Hopton tetap berpandangan skenario tersebut dapat bekerja bila AS dan mitra-mitranya memiliki kesabaran strategis dalam durasi yang cukup.

Untuk sementara, ia memperkirakan konflik akan berlanjut dalam kondisi yang berantakan dan belum menunjukkan kesimpulan jelas. Tanpa sinyal kuat bahwa pihak-pihak akan bergerak cepat menuju penyelesaian, dampaknya diperkirakan tetap buruk bagi semua.