jurnalistik.co.id – Seiring peristiwa El Niño terkuat dalam satu generasi mulai berkembang di kawasan Pasifik, Menteri Lingkungan Inggris meminta rumah tangga menyiapkan stok makanan untuk menghadapi kemungkinan cuaca yang jauh lebih ekstrem.
Environment Secretary Dame Angela Eagle menyampaikan hal itu kepada The Guardian, dengan menekankan bahwa El Niño tidak hanya berpengaruh pada pola musim, tetapi juga berpotensi memicu badai yang lebih ganas di negara tersebut.
Dalam keterangannya, ia menyebut, “We’re about to experience probably the largest El Niño that has ever been seen, and that will lead to drier summers, wetter winters, with more extreme storms in this country”.
Dame Angela juga mengatakan bahwa dampaknya dapat menjalar lebih luas. Ia menyatakan bahwa peristiwa tersebut “will do a lot more damage in Asia with flooding, and therefore I think that we need to take it seriously”.
Menurutnya, langkah kesiapsiagaan dapat dimulai dari skala rumah tangga. Ia menegaskan, “If you’ve got a store of a bit of food that can keep you going for a while before the emergency services can get to you, you’re going to be a lot better off than if you haven’t”.
Ia menambahkan bahwa kesiapan semacam itu merupakan bagian dari upaya agar masyarakat lebih tangguh saat terjadi gangguan. Dame Angela menutup penilaiannya dengan kalimat, “So some of it is that kind of preparation for just being a bit more resilient.”
Pernyataan Dame Angela muncul di tengah peringatan National Audit Office (NAO) mengenai kerentanan rantai pasok pangan Inggris. NAO menyebut risiko meningkat seiring ancaman serangan siber dan krisis iklim.
NAO juga menyoroti ketergantungan pemerintah pada sektor swasta untuk menghadapi gangguan rantai pasok makanan. Dalam laporan itu, disebutkan pemerintah terlalu bergantung pada pihak privat untuk menangani disrupsi, sementara kesiapan ketahanan rantai pasok dinilai belum memadai.
NAO menyatakan bahwa kerentanan tidak hanya datang dari cuaca ekstrem, tetapi juga dari kemungkinan wabah penyakit pada tanaman maupun manusia, serta serangan siber. Disrupsi tersebut diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga dan membuat kelompok yang rentan kesulitan membeli makanan.
Laporan itu juga menyebut bahwa Department for Food, the Environment and Rural Affairs (Defra) dinilai terlalu bergantung pada perusahaan swasta dalam menangani gangguan. NAO menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, departemen tersebut tidak melakukan cukup banyak upaya untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok.
Selain menilai kondisi domestik, NAO juga mendorong agar menteri berupaya mengarahkan rumah tangga untuk bersiap menghadapi gangguan rantai pasok, sekaligus belajar dari pendekatan negara lain.
NAO menyebut bahwa kesiapan rumah tangga Inggris untuk menghadapi keadaan darurat dinilai lebih rendah dibanding sejumlah negara lain seperti Finlandia, Swedia, serta negara-negara Uni Eropa.
Berita Terkait
Di sisi lain, pemerintah disebut akan mengumumkan strategi untuk menghadapi keadaan darurat nasional pada tahun ini. Dalam konteks yang sama, BBC mencatat bahwa pada 14 Juli, publik disebut akan diberi tahu cara menyiapkan diri menghadapi serangan siber dan keadaan darurat cuaca.
Sejalan dengan itu, pada bulan Juli, pemerintah juga mengumumkan rencana untuk merinci “small but important steps” yang dapat dilakukan rumah tangga, khususnya untuk menghadapi potensi kekurangan pangan dan air saat cuaca ekstrem atau serangan siber terjadi.
Langkah-langkah tersebut akan menjadi bagian dari strategi yang ditargetkan diumumkan pada akhir 2026, dengan tujuan mendekatkan Inggris pada pendekatan negara-negara Eropa terkait kesiapsiagaan darurat.
NAO turut menilai bahwa risiko jangka panjang yang ditimbulkan perubahan iklim dapat memperbesar kerentanan pasokan pangan. Pada saat yang sama, perubahan sistemik ini membuat tantangan kesiapan menghadapi gangguan menjadi semakin kompleks.
Menanggapi laporan NAO, seorang juru bicara Defra menyatakan bahwa meski bisnis pangan dan supermarket “have continued to feed the nation through significant disruption”, pemerintah akan mempertimbangkan temuan dan rekomendasi laporan tersebut secara saksama sebagai bagian dari pekerjaan berkelanjutan untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan.
Dalam pembahasan yang lebih spesifik terkait distribusi, Phil Pluck, chief executive of the Cold Chain Federation, mengatakan bahwa Inggris berada “pretty close to crisis”.
Ia menyampaikan hal itu dalam program BBC “Wake Up to Money”, dengan menyebut bahwa Inggris menjadi target peretas siber dari Rusia yang “know that there are pinch points in the food supply system”.
Phil Pluck juga menambahkan bahwa El Niño, gangguan pengiriman global, serta ancaman pandemi berarti tidak bisa “just rely on the private sector coming through every single time”.
Ketika ditanya apakah masyarakat sebaiknya menyiapkan stok saat terjadi disrupsi, ia menjawab tegas. Pluck menyatakan, “Yes, we should.”
Ia merinci, “There should be some sensible stocking in each household. And the government in the autumn will be telling all of us to do that.”
Dengan demikian, ajakan menyiapkan stok makanan berangkat dari peringatan yang lebih luas: kombinasi El Niño yang diprediksi makin ekstrem, gangguan rantai pasok, serta kerentanan terhadap serangan siber dan risiko penyakit, semuanya menuntut kesiapsiagaan yang lebih serius di tingkat rumah tangga.
Sementara itu, Met Office disebut memandang El Niño akan menjadi “strongest in living memory”, sehingga rekomendasi kesiapsiagaan—baik untuk cuaca maupun gangguan sistem pangan—menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi musim yang tidak menentu.












