Internasional

Momen ‘Fantastis’: veteran tunanetra Abergavenny, 95 tahun, kembali menyetir

×

Momen ‘Fantastis’: veteran tunanetra Abergavenny, 95 tahun, kembali menyetir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'Fantastic' moment blind Abergavenny veteran, 95, drives again

jurnalistik.co.id – Setelah lima tahun tidak lagi memegang izin mengemudi, Jim Alison akhirnya merasakan kembali sensasi berada di balik kemudi. Visesinya datang bukan sebagai kabar biasa, melainkan momen penuh kegembiraan ketika seorang veteran tunanetra dari Abergavenny kembali mengikuti kesempatan berkendara melalui acara amal.

Alison, yang baru didaftarkan buta pada usia 95 tahun, menceritakan kebahagiaannya saat berpartisipasi dalam kegiatan yang mempertemukan penyandang disabilitas dengan pengalaman mengemudi. Ia menjalani sesi di Llandow Circuit, di Vale of Glamorgan, bersama instruktur yang mengendalikan kendaraan dengan sistem dual controls.

Dalam putaran yang digelar sebagai bagian dari acara amal, Alison sempat berbagi detail kecepatan yang ia capai. “I think I managed to get to 90 km/h (55mph),” ujar Jim.

Ia menambahkan rasa yang dirasakannya selama berada di setir. “You put your life in their hands and it was absolutely fantastic,” katanya, sebelum menjelaskan bahwa instruktur bergantian memberi ruang baginya untuk mengendalikan mobil.

Menurut Alison, ia memperoleh kesempatan mengambil alih kendaraan di bagian lintasan tertentu, terutama ketika mobil melaju lurus. “They let me take over for a while going down the straight because, being sight impaired, I couldn’t see the bends.”

Seiring kondisinya memburuk akibat macular degeneration, Alison juga sempat berpikir masa mengemudinya sudah berakhir. Ia mengaku tidak pernah menyangka dapat kembali mengemudi setelah penglihatannya merosot, namun kali ini ia bisa merasakan pengalaman itu melalui dukungan acara dan instruktur.

Bergabung dalam rombongan dari Blind Veterans UK, Alison mengikuti Speed of Sight, sebuah acara amal yang memungkinkan orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang mencoba sensasi berkendara. Lokasi acara berada di sirkuit dekat Cowbridge, Vale of Glamorgan, dan didesain agar peserta bisa merasakan thrill mengemudi dengan pendampingan yang aman.

Alison bukan satu-satunya peserta yang mendapat pengalaman serupa. Harley, berusia 14 tahun, juga ikut melintas di lintasan untuk kali kedua setelah menjalani pengalaman pertama saat berumur 10 tahun. “It’s like happiness, excitement, wonder – it all goes through your mind in a blur because, literally, you’re going so fast,” ungkap Harley.

Ia menggambarkan sensasi emosional yang langsung mengisi pikirannya selama mobil melaju cepat. Harley menyebut pengalamannya sebagai hal yang bernilai bagi anak-anak dan orang dewasa penyandang disabilitas, khususnya bagi mereka yang menyukai motorsport.

“It was a good experience” katanya, lalu menambahkan respons tubuh yang muncul saat berada di mobil. “You get a rush of adrenaline and you just feel really excited.”

Di balik acara ini ada visi Mike Newman, pendiri Speed of Sight. Mike adalah penggemar motorsport yang sejak lahir mengalami kebutaan, dan ia pernah menyampaikan bahwa mimpinya menjadi pembalap tidak mungkin terwujud.

Tetapi, keyakinan dan upayanya justru membawa Mike pada pencapaian nyata. Ia kemudian berhasil meraih sejumlah rekor dunia untuk mengemudi, dan pada 2012 ia mendirikan yayasan yang kini membantu banyak orang tetap merasakan kebebasan berkendara.

Mike menjelaskan gagasannya saat mendengar banyak orang kehilangan kesempatan mengemudi setelah terpaksa melepaskan izin mengemudi. “Because I love cars so much myself, I tried to think of an idea of how we could get behind the wheel again and make it fun and exciting,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa aktivitas ini membuka ruang untuk menikmati pengalaman secara utuh, tanpa harus terus bergulat dengan tantangan sehari-hari. “It opens up the opportunities of complete enjoyment, forgetting the day-to-day challenges that you’re having to having to cope with.”

Baginya, yang terpenting adalah kesempatan untuk tetap mengalami sensasi berkendara di lintasan. “Or, if I can drive a car on a racetrack, what other things can be enjoyed,” kata Mike.

Untuk mendukung pengalaman itu, kendaraan yang digunakan telah dimodifikasi menjadi Maxda MX5 dengan dual controls. Mobil-mobil tersebut diberi nama seperti Stanton dan Baxter, sebagai penghormatan pada beberapa anjing pemandu yang pernah hidup bersama Mike selama bertahun-tahun.

Dalam pelaksanaan acara, banyak peserta bergabung dengan karakter yang oleh instruktur bercanda disebut sebagai “repeat offenders”. Salah satu contohnya adalah Dean Twaite dari Tredegar, yang pernah mengemudikan kendaraan militer saat menjadi bagian dari Royal Corps of Transport pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Dean, yang kini berusia 68 tahun, kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan kerja di industri dan tidak lagi memiliki izin mengemudi sejak 2007. Saat menjelaskan pengalamannya, ia mengaku sempat merasakan ketakutan, terutama karena keterbatasannya melihat ke depan.

“It was a bit frightening because I can’t see in front of me. But the instructors, they were marvellous,” ujar Dean. Ia kemudian menjelaskan bagaimana instruksi diberikan selama sesi berlangsung, termasuk isyarat fisik agar percepatan dan pengereman bisa berlangsung dengan jelas.

“It was a bit frightening because I can’t see in front of me. But the instructors, they were marvellous,” katanya, seraya menuturkan ia mendapat satu ketukan di kaki untuk mempercepat dan dua ketukan untuk menginjak rem. Dean menilai respons tubuh terhadap angin dan gerak kendaraan sebagai bagian yang membuat pengalaman itu terasa hidup.

“Feeling the wind in the face like that was exhilarating – it was really great, really great,” tambah Dean. Ia juga menyebut bahwa pengalaman tersebut mengembalikan rasa kebebasan dan kepercayaan diri yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.

Pada akhirnya, Dean merangkum sikapnya terhadap keterbatasan dengan kalimat yang tegas. “There’s no such thing as can’t. If you put your mind to it, you can do it.”

Melalui Speed of Sight, kisah Alison, Harley, dan Dean menunjukkan bahwa mengemudi bisa kembali menjadi pengalaman yang bermakna, bukan sekadar kenangan yang hilang. Mereka merasakan kembali kesempatan untuk merasakan kecepatan, ketegangan yang terarah, dan keyakinan bahwa batas dapat dihadapi dengan dukungan yang tepat.