jurnalistik.co.id – Elle Black, mahasiswi tahun pertama di Cardiff University, pada Februari 2024 sempat mengira keluhan di tubuhnya hanyalah akibat kurang enak badan setelah malam keluar. Ia menanggapi sakit tenggorokannya seperti “hangover” sebelum kondisinya berkembang menjadi kondisi serius yang mengancam jiwa.
Menurut pengakuan Elle, pada pagi hari setelah ia keluar malam, ia merasa sangat tidak enak. Gejala berupa sakit tenggorokan dan keluhan yang terasa seperti flu ia tafsirkan sebagai sisa mabuk semalam, lalu ia “brushed it off”.
Keesokan harinya, ia justru menjalani perawatan di rumah sakit untuk sepsis. Dokter kemudian menyampaikan bahwa bila Elle menunda lebih lama, hasil yang ia terima bisa “quite different”.
Elle kini mengajak para anak muda untuk lebih peka terhadap tanda-tanda sepsis, sambil berharap pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa gejala yang tampak ringan bisa berubah cepat. Ia juga mengingat dirinya tengah menempuh studi, dan pada musim panas ini ia telah lulus dengan gelar di bidang journalism, media and culture.
Dalam penuturannya, Elle menceritakan momen awal ketika gejala mulai muncul. Ia mengatakan, “I got home in the early hours of the morning and the back of my throat started to hurt, which I thought was strange because I didn’t have any other symptoms yet,” lalu ia menambahkan, “I took some ibuprofen, shrugged it off, went to sleep. I woke up the next day absolutely exhausted, no energy, really high fever.”
Setelah bangun dengan demam tinggi dan tubuh sangat lemah, Elle masih berusaha menjalani hari seperti biasa. Ia pergi sarapan bersama orang tuanya, namun saat itu “alarm bells were ringing” karena amandel beliau membengkak dan ia tidak mampu makan.
Karena merasa kondisi tidak beres, Elle kemudian memesan jadwal ke dokter umum swasta pada hari yang sama. Ia melaporkan bahwa dokternya mendiagnosisnya dengan laryngitis dan meresepkan antibiotik.
Namun, efek dari kondisi yang berkembang membuat Elle tidak berfungsi normal. Ia mengungkapkan, “I was so drowsy, so confused, almost delirious,” dan ia mengatakan dirinya tidak terlalu mengingat bagian setelahnya, tetapi ia diberi tahu bahwa ia menelepon ibunya sambil berkata, “I can’t feel my legs”.
Ketika akhirnya tiba di rumah sakit, proses triase berjalan sangat cepat. Elle menceritakan, “I got to hospital, triaged within 15 minutes, it was all amazingly quick.”
Di rumah sakit, Elle mengalami quinsy—sebagai komplikasi dari tonsillitis—yang berarti terbentuknya abses berisi nanah di antara amandel dan dinding tenggorokan. Kondisi itu kemudian berkembang menjadi sepsis, dan ia menjalani perawatan selama dua hari di University Hospital of Wales (UHW).
Elle menyatakan ia akhirnya “make a full recovery”. Ia menilai pemulihannya terkait beberapa faktor, termasuk cepatnya ia mendapat perawatan medis, keberaniannya menyampaikan kepada staf bahwa ia merasa mengalami sepsis, serta respons tim medis yang cepat.
Berita Terkait
Ia mengutip kembali pesan dokter kepadanya, “You don’t really hear about sepsis in this context,” dan menambahkan, “The doctors said if I’d left it another day, it could have been quite different”. Baginya, kalimat itu menegaskan bahwa perbedaan waktu dapat menentukan tingkat keparahan yang dialami.
Pengalaman ini juga memberi dampak kuat kepada keluarganya. Elle mengatakan orang tuanya terkejut dan sangat terpengaruh secara emosional karena belum pernah melihat kondisinya menjadi sedemikian rupa, termasuk ketika ia tampak sangat pucat dan berkeringat dingin.
Ia menuturkan, “They are quite traumatised by it,” serta menjelaskan bahwa setelah perawatan ia masih merasa lelah dalam beberapa minggu, dan sempat “a little bit out for it for a couple of months, just really tired, it does take it out of you. But, other than that, I’m OK.” Ia juga menambahkan, “They acted quickly and I got to the hospital quickly, but it’s so different for everyone.”
Sepsis sendiri digambarkan sebagai respons serius terhadap infeksi yang dapat berkembang cepat dan berpotensi mengancam nyawa. Kondisi ini bisa muncul dengan gejala yang tampak tidak spesifik pada awalnya, sehingga sering kali terlambat disadari.
Gejala yang umum meliputi demam tinggi, atau kondisi yang bisa berpindah antara rasa sangat panas dan sangat menggigil. Tanda lain yang sering menyertai adalah ketidakmampuan untuk menahan makanan atau cairan, serta rasa mengantuk yang ekstrem atau kesulitan untuk tetap terjaga.
Pada kondisi yang berkembang, seseorang juga dapat merasakan nyeri otot yang hebat atau nyeri dengan pola yang tidak biasa. Sakit tenggorokan atau tonsillitis yang mendadak memburuk juga termasuk di antara tanda yang perlu diperhatikan.
Sepsis juga dapat ditandai oleh perasaan bahwa “something is seriously wrong”. Di Inggris, UK Sepsis Trust menyebut ada 48.000 kematian terkait sepsis setiap tahun.
Lembaga Sepsis Research menekankan bahwa kondisi ini “rarely announces itself clearly”. Mereka menyatakan sepsis sering bermula dari infeksi yang tampak familiar dan seolah masih bisa ditangani, sehingga kerap terlewatkan.
Sepsis Research juga menyampaikan bahwa rasa mengantuk, mual, kelelahan, serta perasaan sangat buruk setelah malam keluar adalah gejala yang mungkin dikaitkan oleh sebagian mahasiswa dengan alkohol, kurang tidur, atau apa yang disebut freshers’ flu. Dalam pandangan mereka, pengalaman Elle justru menunjukkan pentingnya tidak mengabaikan gejala yang berat, makin memburuk, atau dirasa tidak sebanding dengan yang biasanya diharapkan.
Elle sendiri akan mengikuti London Marathon pada tahun depan untuk charity Sepsis Research. Ia menegaskan bahwa seseorang yang merasa “a hangover might be something more” seharusnya tidak menunda mencari nasihat medis.
Ia berkata, “With something as dangerous as sepsis, there’s not too many stories where it’s OK and it all works out. It’s just so scary how fast it is.” Ia menambahkan, “It really does put things into perspective. It’s not always a hangover, sometimes it’s something worse.”












