jurnalistik.co.id – Patung Bunda Maria berukuran 55,6 meter resmi diresmikan di pedesaan Poland. Patung beton itu dikatakan sebagai yang tertinggi di Eropa dan menjulang di atas lanskap ladang yang terbentang.
Peresmian berlangsung pada hari Sabtu di Konotopie, wilayah pedesaan yang jauh dari pusat-pusat permukiman. Dalam rangkaian acara, sebuah patung Bunda Maria yang berdiri dengan mahkota besar dan kedua lengan terbuka diposisikan sebagai pusat perhatian warga setempat.
Angka 55,6 meter (182 kaki) membuatnya hampir 18 meter lebih tinggi dibandingkan Monumen Kristus Sang Penebus di Rio de Janeiro. Namun, meski lebih tinggi dari patung di Brasil tersebut, karya ini masih kalah jika dibandingkan Patung Bunda Maria setinggi 98 meter yang telah didirikan di Filipina.
Pada acara consecration, uskup setempat Krzysztof WÄtkowski memimpin upacara peresmian. Momen tersebut dipilih bertepatan dengan Hari Raya Perawan Maria Dikandung dalam Kemuliaan (Feast of the Assumption of the Blessed Virgin Mary).
Detail peresmian juga mencolok karena dua helikopter terbang mengitari area upacara untuk menjatuhkan kelopak mawar di atas patung. Kelopak-kelopak itu jatuh di sekitar sosok yang berdiri di ladang, menambah kesan simbolik pada prosesi yang digelar.
Menurut pemberitaan, lokasi patung yang terpencilâberada di ladang yang âmiles from any of Poland’s population centresââterjadi karena patung tersebut dikomisi oleh pasangan miliarder yang tinggal di dekat lokasi. Penempatan di wilayah yang jauh membuat patung lebih terasa sebagai penanda visual di bentang pedesaan.
Dalam pidatonya kepada jemaat, Bishop Krzysztof WÄtkowski menyampaikan, âmany contemporary people look only to the earth, focused on themselvesâ, sementara sosok Bunda Maria âbeckoned âto raise our gaze upwards to God and heavenâ,â sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Polandia PAP. Kalimat itu menekankan pesan untuk mengarahkan perhatian dari urusan sehari-hari menuju nilai spiritual.
Berita Terkait
Peresmian patung ini hadir ketika pengaruh Gereja Katolik di ruang publik Poland disebut telah menurun. Meskipun Poland tetap merupakan negara dengan mayoritas penganut Katolik, banyak anak muda di wilayah perkotaan dilaporkan makin menjauh dari institusi serta tradisinya.
Di antara undangan yang hadir pada hari Sabtu terdapat Lech WaĆÄsa. Ia dikenal sebagai tokoh yang memimpin gerakan untuk mengakhiri komunisme di Poland dan kelak menjadi presiden pertama yang dipilih secara demokratis di negara tersebut.
WaĆÄsa juga disebut pernah mengenakan pin bergambar Bunda Maria saat berkampanye. Ia menegaskan keyakinan Katoliknya berperan besar dalam perjuangannya melawan komunisme, termasuk pernyataannya kepada Associated Press: âI started with the Virgin Mary and I end with the Virgin Mary,â.
Dengan ukuran setinggi 55,6 meter, patung Bunda Maria di Konotopie kini menjadi landmark yang terlihat dari hamparan ladang. Selain sebagai pernyataan religius, peresmian ini juga menggambarkan cara simbol iman terus hadir, sekaligus dipahami ulang, dalam suasana sosial-politik yang terus berubah.
Konotopie dipilih sebagai panggung peresmian yang jauh dari keramaian, sehingga patung itu tidak hanya berfungsi sebagai monumen ibadah, tetapi juga penanda visual yang mudah dikenali dari bentang ladang. Penempatan di lokasi terpencil itu disebut berkaitan dengan komisioning oleh pasangan miliarder yang berada dekat area tersebut, sekaligus membuat karya ini tampil sebagai âtandaâ dalam lanskap pedesaan.
Dalam prosesi consecration, sejumlah detail memperkuat kesan simbolik. Uskup Krzysztof WÄtkowski memimpin upacara bertepatan dengan Hari Raya Perawan Maria Dikandung dalam Kemuliaan, sementara dua helikopter menerbangkan kelopak mawar yang kemudian jatuh di sekitar patung. Pesan yang disampaikan menekankan pergeseran perhatianâdari rutinitas dan diri sendiri menuju arah spiritual yang lebih tinggi.
Peresmian ini juga muncul pada momen ketika peran Gereja Katolik di ruang publik Poland disebut sedang menurun, terutama di kalangan anak muda perkotaan yang dilaporkan makin menjauh dari institusi dan tradisinya. Kehadiran Lech WaĆÄsa dalam acara, termasuk cerita bahwa ia pernah memakai pin bergambar Bunda Maria saat berkampanye, ikut menegaskan bagaimana simbol religius tetap hadir dalam dinamika politik dan keyakinan pribadi.












