Internasional

Poland Menuduh Helikopter Militer Rusia Langgar Ruang Udara, Jet NATO Dikerahkan

×

Poland Menuduh Helikopter Militer Rusia Langgar Ruang Udara, Jet NATO Dikerahkan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Poland accuses Russian military helicopter of violating its airspace

jurnalistik.co.id – Poland menyatakan sebuah helikopter militer Rusia sempat melanggar wilayah udara negara itu, sehingga anggota NATO tersebut harus mengerahkan jet tempur. Dalam peristiwa itu, satuan darat juga tetap siaga, sementara operasi pengamanan udara ditingkatkan. Menurut keterangan pihak militer Polandia, pesawat jenis Mi-8 itu melintas dari wilayah kantong Rusia, Kaliningrad, pada Rabu pagi. Helikopter kemudian masuk ke ruang udara Polandia dengan kedalaman sekitar 300 meter (328 yards) dan berada di area itu selama 42 detik, tepat di bagian utara Braniewo. Polandia juga menyebut insiden tersebut terjadi pada pukul 11:08 (09:08 GMT). Helikopter dilacak menggunakan radar, dan unit pertahanan udara Polandia dinilai sudah beroperasi secara terus-menerus untuk “memastikan keselamatan ruang udara Polandia”. Dalam pernyataan resminya, militer Polandia mengatakan, “the nature of the incident indicates that Russia is once again testing the readiness of our air defence”. Pernyataan itu disampaikan untuk menekankan bahwa kejadian singkat tersebut dinilai berkaitan dengan upaya menguji kesiapan pertahanan udara Polandia. Moscow belum memberikan komentar secara segera. Sementara itu, Polandia dan sejumlah negara NATO di Eropa belakangan juga menyebut Rusia kemungkinan sedang bersiap untuk serangan guna menguji komitmennya dalam mendukung Ukraina, meski Rusia menolak tuduhan tersebut. Presiden Vladimir Putin berulang kali menyatakan bahwa Moskow tidak berencana menyerang negara-negara NATO. Namun, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyinggung respons Eropa dan memperingatkan, “If Europe attacks Russia, it will be a completely different war [from that in Ukraine], and it will be very short.” Putin meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022, dan saat ini Moskow menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina, termasuk Semenanjung Krimea yang dianeksasi pada 2014. Dalam konteks yang lebih luas, Ukraina berada di tengah konflik, sementara Eropa menghadapi kekhawatiran soal dinamika ancaman lintas batas yang disebut sebagai bagian dari serangkaian operasi tidak langsung. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk sebelumnya menyinggung bahwa Rusia mungkin menyiapkan serangan berbasis drone dan rudiam terhadap Polandia serta negara-negara lain di garis depan timur NATO. Tusk mengatakan, “In recent weeks, the Russian hybrid threat against Europeans… has intensified,” lalu menambahkan, “The intent is to intimidate us and break our effort to support Ukraine. The result will be the exact opposite. We are not intimidated because we know that our security today and tomorrow is at stake in Ukraine.” Sesudah pernyataan tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyatakan negaranya pernah menjadi sasaran serangan “hybrid” dari Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Macron menegaskan hal itu tidak akan dibiarkan “without a response” dan menyebut telah memerintahkan rencana untuk melindungi infrastruktur kritis serta lokasi industri pertahanan. Istilah “hybrid warfare” atau “hybrid attacks” dipakai untuk merujuk pada cara-cara non-militer, seperti serangan siber, sabotase, atau penyebaran informasi menyesatkan, yang bertujuan memberi tekanan dan mengganggu stabilitas lawan. Cara semacam ini kerap dijalankan lewat pihak perantara, tetapi Rusia selalu membantah keterlibatannya meski bukti yang dinilai berkembang terus bermunculan. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kebakaran dan ledakan mencurigakan dilaporkan terjadi di fasilitas pertahanan di beberapa negara NATO Eropa, mulai dari Italia hingga Bulgaria dan Estonia. Beberapa negara yang terdampak mengaitkan insiden tersebut dengan Rusia. Di saat yang berbeda, Jerman menyampaikan pada awal bulan bahwa Rusia bertanggung jawab atas serangan drone pada Agustus di Leipzig airport, tuduhan yang dibantah Moskow dengan menyebutnya “absurd”. Pada pekan ini, Perdana Menteri Lithuania juga menyampaikan kepada BBC bahwa negaranya telah menyiapkan rencana evakuasi menghadapi ancaman dari Rusia. Meski demikian, ia menambahkan negaranya tidak akan menyerah jika diserang dengan mengatakan akan tetap “not surrender”. Sementara itu, di Ukraina, sebuah drone Rusia dilaporkan menabrak kereta penumpang dekat perbatasan dengan Polandia pada 13 September. Kejadian itu terjadi tak lama setelah mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan sejumlah pejabat keamanan Eropa tingkat teratas melewati jalur yang sama. Ukraina menyatakan sasaran drone itu “could have been the diplomatic train”, sedangkan pihak militer Rusia menyebut hanya menyerang “railway infrastructure”.