Hukum & Kriminal

Kalung berlian 600 butir raib dari museum di Wina, pelaku beraksi di siang bolong

×

Kalung berlian 600 butir raib dari museum di Wina, pelaku beraksi di siang bolong

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Thieves steal 600-diamond necklace from Vienna museum in broad daylight

jurnalistik.co.id – Polisi Austria tengah memburu dua pria yang diduga menjadi pelaku pencurian kalung berlian bernilai sangat tinggi dari sebuah museum di Wina. Aksi itu terjadi pada siang hari ketika benda perhiasan tersebut sedang dipajang.

Menurut keterangan aparat, para tersangka membeli tiket pameran yang menampilkan kalung tersebut. Pada Kamis sore, mereka memecahkan kaca etalase di Vienna Museum of Applied Arts (MAK) lalu mengambil kalung berbahan platinum dengan hiasan lebih dari 600 butir berlian.

Kalung itu diperkirakan bernilai lebih dari $4 juta (setara £3 juta; €3,5 juta). Perhiasan tersebut dirancang untuk keluarga kerajaan Mesir sebelumnya dan menjadi bagian dari pameran bertema perhiasan Van Cleef & Arpels yang dijadwalkan berlangsung di MAK hingga September.

Jejak pelaku terekam CCTV

Polisi merilis foto dua tersangka yang wajahnya ditampilkan tanpa penutup, berdasarkan rekaman kamera keamanan. Dalam rilis pernyataannya, aparat meminta masyarakat membantu memberi informasi terkait identitas dan keberadaan kedua pria tersebut.

Polisi juga menyebut salah satu pelaku diduga membawa “what was thought to be a real firearm”. Setelah berhasil membawa kalung, mereka melarikan diri “towards the Vienna Stadtpark” yang berada tepat di selatan lokasi museum.

Maklumat polisi ini disertai langkah penegakan hukum yang melibatkan unit anjing pelacak di wilayah Wina dan provinsi Lower Austria. Sementara itu, para ahli forensik tengah menganalisis barang bukti serta menelusuri rekaman CCTV di sekitar MAK.

Keamanan pameran ditingkatkan bersama Van Cleef & Arpels

Direktur umum MAK, Lilli Hollein, mengatakan pencurian tersebut “the theft of a highly valuable piece of jewellery… has hit us hard”. Ia menyatakan MAK telah menyiapkan rencana keamanan secara khusus bersama Van Cleef & Arpels untuk pameran yang memajang kalung itu.

Hollein menegaskan, “Security issues were taken very seriously and all security measures were carefully prepared.” Ia menambahkan bahwa ketika terjadi “armed incident”, staf merespons dengan tenang dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, serta tidak ada korban yang mengalami cedera.

Menurut Hollein, pihak museum juga melakukan peninjauan ulang langkah-langkah pengamanan sebelum pameran, “particularly in light of the incidents at major museums in recent years”. Setelah kejadian, pameran disebut tetap dibuka kembali, dengan jadwal operasional yang berjalan lagi pada Jumat.

Kalung itu disebut memiliki bobot berlian lebih dari 200 karat. Dalam catatan nilai saat dilelang sekitar satu dekade lalu, perhiasan ini diperkirakan bernilai $3,6 juta hingga $4,6 juta, dan Van Cleef & Arpels menggambarkannya sebagai “triumph of white jewellery”.

Perhiasan ini pernah dikenakan Ratu Nazli pada tahun 1939, saat pernikahan putrinya dengan calon Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi. Putri tersebut kemudian dikenal sebagai Fawzia, sehingga kalung ini memiliki konteks sejarah yang terkait dengan keluarga kerajaan pada masa itu.

Rangkaian pencurian artefak di Eropa

Kasus di Wina menjadi bagian dari rangkaian pencurian artefak yang mencuat di sejumlah museum di Eropa. Europol menyebut pencurian di museum “were becoming increasingly aggressive, with a shift towards violent and forceful methods”, dan menilai pola tersebut “may indicate the involvement of new criminal networks”.

Pada Kamis yang sama, disebut terjadi pencurian harta karun perhiasan dan artefak prasejarah dari sebuah museum di Spanyol. Selain itu, empat lukisan bergaya Renaisans dilaporkan dicuri dari sebuah museum di Sisilia pada awal bulan ini, sedangkan pada tahun ini juga tercatat tiga lukisan karya Renoir, Cézanne, dan Matisse bernilai jutaan euro yang diambil dari sebuah museum di Parma.

Serangkaian kasus tersebut muncul setelah perampokan siang hari yang dikenal luas di Louvre, Paris, saat sekelompok perampok bertopeng mencuri perhiasan bernilai sangat tinggi pada Oktober tahun lalu. Dalam konteks itulah, kasus kalung di Wina kembali memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan keamanan institusi budaya di Eropa.