Olahraga

Elena Rybakina Juara US Open 2026 setelah Menumbangkan Aryna Sabalenka 6-4 5-7 6-2

×

Elena Rybakina Juara US Open 2026 setelah Menumbangkan Aryna Sabalenka 6-4 5-7 6-2

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US Open 2026 results: Elena Rybakina beats Aryna Sabalenka to win New York title

jurnalistik.co.id – Elena Rybakina tampil sebagai penguasa saat final US Open 2026 dengan menumbangkan Aryna Sabalenka melalui skor 6-4, 5-7, 6-2. Kemenangan itu mengantarkan Rybakina meraih gelar pertamanya di New York dan sekaligus menegaskan posisinya sebagai yang terbaik di level tenis putri musim ini.

Di Flushing Meadows, Rybakina memulai laga dengan tekanan yang jelas namun tetap disiplin. Ia memastikan servis pertamanya tidak sepenuhnya konsisten, tetapi tetap menemukan cara untuk membongkar permainan Sabalenka lewat pola reli yang terukur dan pengambilan bola yang cepat.

Sabalenka, yang berstatus juara bertahan dua kali, membawa misi besar mempertahankan tren puncak. Ia berharap bisa meredam “kejatuhan” ranking dunia sekaligus memperpanjang catatan US Open-nya ke gelar ketiga beruntun.

Sejak set pertama, Rybakina terlihat lebih tenang. Ia menjalankan ritme permainan dengan sabar, sementara Sabalenka sempat dibuat frustrasi oleh serangan balik yang menekan dari berbagai sudut.

Set kedua berjalan lebih ketat dan menjadi tempat Sabalenka mengubah momentum. Ketika level permainan Rybakina turun sedikit, peluang terbuka bagi Sabalenka untuk meningkatkan kualitas pukulan groundstroke-nya dan memanfaatkan momen yang lebih efektif.

Pada set yang kedua itu, Sabalenka meraih set dengan kemenangan 7-5. Ia mendapatkan kesempatan untuk memaksa penentuan setelah “menyerbu” servis Rybakina pada game ke-12, menunjukkan bahwa laga bisa berbalik kapan saja.

Namun, reli ketat berubah menjadi kendali Rybakina di set ketiga. Sabalenka sempat kembali melakukan pukulan-pukulan longgar yang membuka jalan bagi Rybakina untuk menegaskan superioritas dari baseline.

Rybakina menancapkan tekanan melalui pengembalian yang dalam, sehingga Sabalenka kerap dipaksa bertahan di garis belakang. Dengan memanfaatkan rentetan momen itu, Rybakina memecahkan servis untuk unggul 2-1 dan kemudian terus membangun posisi sampai akhirnya menutup pertandingan 6-2.

Di titik-titik krusial, Rybakina sempat merasakan getaran tegang. Ia melakukan double fault pada salah satu poin kejurniaan pertamanya, tetapi tidak larut dalam kesalahan tersebut.

Sesaat setelahnya, Rybakina melakukan pukulan yang “membunuh” tempo permainan dengan mengakhiri lewat ace. Ia mengunci kemenangan sekaligus menegaskan bahwa kontrolnya lebih solid dibandingkan ketegangan yang sempat menghampiri.

Gelar yang melengkapi perjalanan Grand Slam

Kemenangan ini menjadi Grand Slam ketiga Rybakina dalam kariernya. Sebelumnya, ia pernah menjuarai Wimbledon pada 2022 dan meraih Australian Open lebih awal pada tahun ini, sehingga US Open 2026 melengkapi rangkaian puncak turnamen mayor di tiga tempat berbeda.

Rybakina juga datang dengan cerita yang tidak biasa. Ia belum pernah melampaui babak keempat di US Open sebelumnya, namun tahun ini ia mampu menembus fase-fase sulit hingga akhirnya berdiri di puncak.

Ia bahkan sudah tahu bahwa setelah final, ia akan menjadi nomor satu dunia. Baik hasilnya menang maupun kalah, Rybakina tetap akan menggeser peringkat—sebuah situasi yang membuat perhatian bergeser dari “ranking” ke “hasil di lapangan”.

Tetapi bukan berarti perjalanan Rybakina tanpa hambatan. Apa yang membuat prestasinya makin menonjol adalah kondisi kebugarannya sempat dipertanyakan sebelum pertandingan dimulai.

Beberapa hari sebelum US Open, Rybakina mengalami cedera pergelangan kaki saat berlaga di perempat final Cincinnati Open. Ia bahkan tidak bisa berjalan untuk beberapa hari, sehingga peluang tampil di New York berada dalam risiko serius.

Meski demikian, ia bukan hanya mampu bermain, tetapi juga melewati empat pertandingan pembuka dengan cara yang dominan. Salah satu kuncinya adalah servisnya yang sangat besar, jarang memberi lawan ruang untuk masuk ke poin-poin panjang.

Dua kemenangan berikutnya—melawan petenis asal China Zheng Qinwen dan unggulan tuan rumah Coco Gauff—menuntut kerja lebih ekstra. Rybakina harus melalui momen-momen sulit setelah sempat kehilangan set pertama, namun ia terbukti punya daya tahan untuk keluar dari pertarungan yang berat.

Di final, ia memperlihatkan dua wajah permainannya sekaligus. Dari baseline, ia mampu “menekan” lawan dengan tempo awal yang cepat, lalu saat laga menuntut kesabaran, ia juga mampu menggali bola-bola kunci untuk bertahan dan membalikkan arah poin.

Sabalenka dan Rybakina memang dikenal memiliki rivalitas yang kuat. Namun, perbedaan karakter justru jadi pembeda yang terasa: Rybakina lebih dingin dalam mengelola emosi, berlawanan dengan gaya Sabalenka yang cenderung meledak-ledak di momen tertentu.

Setelah memastikan kemenangan, Rybakina sempat menampilkan ekspresi singkat berupa senyum saat mengunci gelar keduanya dalam musim 2026 yang gemilang. Ia merasakan kepuasan yang bukan hanya datang dari permainan, tetapi juga dari sejarahnya di New York yang selama ini jarang berujung sukses.

“I was coming here for the last 10 years and it was never successful. I’m falling in love with New York more and more,” kata Rybakina, yang berusia 27 tahun.

Ia juga menambahkan refleksi tentang proses yang dilalui setelah cedera. “Some magic is happening. I was unlucky with injury and just going day by day,” ujar Rybakina kepada Sky Sports.

Di US Open 2026, Rybakina berhasil membuktikan bahwa ketenangan, ketepatan, dan kemampuan mengambil tempo sejak awal bisa menjadi kombinasi yang sulit dibendung. Dengan kemenangan 6-4, 5-7, 6-2 atas Sabalenka, ia bukan hanya menorehkan gelar pertama di New York, tetapi juga menutup final dengan cara yang jelas: mengendalikan laga saat momen paling menentukan datang.