jurnalistik.co.id – USS Abraham Lincoln, kapal induk bertenaga nuklir Angkatan Laut Amerika Serikat, berhenti di Pattaya, Thailand, setelah menjalani pelayaran panjang. Dalam jam-jam pertama saat merapat, hampir 5.000 pelautnya tampak mencari cara untuk kembali merasakan suasana “normal” di luar lambung kapal.
Untuk bisa beristirahat dari suasana di atas kapal, sebagian kru ditempatkan menginap di hotel tepi pantai, termasuk Hard Rock Hotel—salah satu dari dua tempat yang disebut tersedia. Banyak dari mereka berkeliling dengan potongan rambut militer, kumis, dan kaus bergaya Angkatan Laut, sehingga terlihat menonjol di tengah keramaian Pattaya yang biasanya dipenuhi sandal jepit dan pakaian pantai.
Kebiasaan berbelanja menjadi perhatian paling cepat. Beberapa pelaut terlihat berpegangan pada hasil belanja terbaru mereka, seolah mal dan pusat keramaian menjadi bagian dari cara mereka melepas penat setelah 250 hari berada dalam satu “lingkungan” yang sama.
Namun, Pattaya juga menawarkan pertunjukan malam yang berbeda. Kota resor ini dikenal dengan neon, kebisingan, serta bar dan hiburan malam yang ramai. Pada malam Rabu, Walking Street—promenade paling terkenal—terang dan terbuka untuk kru, bahkan dengan tanda besar bernyala di pintu masuk yang menyambut awak kapal induk AS.
Menjelang tengah malam, sebagian pelaut yang lebih muda terlihat sampai mabuk berat, bahkan harus saling menyangga agar tidak jatuh. Yang lain memilih mendekat ke ruang-ruang bernuansa lampu merah seperti go-go bar, tempat penari tiang tampil dengan kostum yang minim.
Di tengah lantunan musik yang menghantam, percakapan tidak selalu mudah. Seorang kru yang lebih senior mengatakan mereka benar-benar membutuhkan jeda, mengingat waktu di laut yang terasa panjang. “The news says we’ve been at sea for nine months. To be honest I’ve lost track of time”, ujarnya, lalu menambahkan bahwa hari-hari itu terasa membosankan karena di kapal, apa pun “besar”, tetap saja ukuran itu tidak pernah cukup, dan semuanya tetap terasa seperti berada di kapal—terutama ketika harus berbagi ruang dengan ribuan orang. Ketika ditanya kapan mereka bisa pulang ke California, ia menjawab, “Too long”.
Berita Terkait
Kondisi psikologis para pelaut ikut ditopang oleh kabar dari keluarga di rumah. Shakeira Fairfax, ibu dari Jada Fairfax—pelaut berusia 25 tahun—menyebut ada momen-momen ketika semangat rendah selama perjalanan. Menurutnya, setelah hostilities broke out in the Middle East, situasinya terasa “uncertain” dan “scary”, dan ia menekankan bahwa ia menantikan momen bertemu kembali.
Ia menyampaikan, “I just can’t wait to see her smile. I can’t wait to hear ‘mum’, I know that’s the first thing she’s gonna say,” kata Fairfax. Dalam periode yang panjang itu, latihan-latihan kedisiplinan di kapal juga berperan; awak kapal, menurut laporan, telah dibina untuk tidak membicarakan kondisi di USS Abraham Lincoln selama penugasan tempur yang panjang dalam operasi terhadap Iran—sebuah aspek yang sebelumnya juga mendapat sorotan kritik di AS.
Di Pattaya, sejumlah pelaut tampak berhati-hati dalam berbicara, sebagian memilih menghindari percakapan sama sekali. Yang lain mengarahkan pertanyaan jurnalis ke tim media mereka. Di beberapa titik, terlihat jelas pakaian dengan huruf SLG, atau Shore Liaison Group—tugasnya menjaga disiplin di darat, memantau kru yang sebagian masih sangat muda dan minim pengalaman, serta berkoordinasi dengan otoritas setempat ketika kapal berlabuh.
Menanggapi pertanyaan terkait aktivitas yang tidak boleh dilakukan saat berada di Pattaya, US Naval Attache Kristopher Robinson tidak menjawab secara langsung. Ia menyatakan, “we’re trying to give the sailors as much opportunity for rest as they can,” dan menambahkan bahwa personel AS akan “conduct themselves in accordance with US law, US naval regulations, and the laws of Thailand”.
Berhenti di Pattaya: alasan protokol dan jalur perjalanan
Keputusan USS Abraham Lincoln untuk singgah di Pattaya dinilai memiliki alasan yang masuk akal. Panggilan pelabuhan Angkatan Laut AS di Thailand—sebagai sekutu yang memiliki perjanjian jangka panjang—menjadi rutinitas dengan protokol yang telah mapan. Selain itu, Pattaya juga berada pada jalur kapal dari wilayah Teluk menuju California, memberi kesempatan kepada awak untuk meluapkan penat dan beristirahat dari tuntutan kehidupan di kapal perang.
Jika jeda di Thailand benar-benar memberi efek yang diinginkan, frustrasi yang mungkin muncul akibat misi yang lebih panjang dan lebih berat dari yang semula diharapkan dapat mereda saat mereka kembali dan tiba di rumah. Dengan kata lain, berhenti sementara di Pattaya diposisikan sebagai bagian dari “rem” setelah fase penugasan yang panjang—baik untuk kebutuhan istirahat maupun untuk menjaga kesiapan kru menghadapi perjalanan pulang.












