Internasional

Israel dan Lebanon Capai Kesepakatan Kerangka

×

Israel dan Lebanon Capai Kesepakatan Kerangka

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan kerangka di Washington setelah beberapa hari negosiasi yang dijembatani Amerika Serikat. Detail kesepakatan itu sendiri dinilai masih belum jelas, tetapi peristiwa ini digambarkan sebagai capaian penting dalam upaya menekan eskalasi lintas perbatasan.

Kesepakatan tersebut disebut menjadi “kemenangan” bagi pemerintahan Donald Trump. Pernyataan itu muncul di tengah keterlibatan Gedung Putih dalam proses perundingan yang kompleks terkait Iran, yang terus berjalan setelah adanya perpanjangan gencatan senjata antara kedua pihak.

Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, mengatakan, “begins to put in place a framework for lasting peace and security,” pada Jumat. Rubio menambahkan, “That’s what these two nations deserve,” sambil menyebutnya sebagai “first step”. Menurutnya, langkah awal ini diharapkan dapat membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang.

Namun, rekam jejak gencatan senjata sebelumnya menunjukkan bahwa ketegangan lintas perbatasan kerap tetap berlanjut. Dalam sejumlah kesepakatan terdahulu antara Israel dan Hizbullah, serangan lintas perbatasan terjadi hampir setiap hari, sementara kedua pihak saling menuduh melanggar isi perjanjian.

Pihak Washington juga khawatir konflik yang terus bergulir antara Israel dan Lebanon dapat merusak perjanjian damai AS dengan Iran. Perjanjian tersebut memuat komitmen untuk mengakhiri pertempuran “on all fronts”, termasuk yang melibatkan Lebanon, sehingga stabilitas di kawasan dianggap memiliki dampak langsung terhadap tujuan diplomatik yang lebih luas.

Dalam beberapa bulan terakhir, serangkaian serangan Israel terhadap target di wilayah selatan Lebanon disebut berpotensi menggagalkan upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah. Di level politik, Presiden AS juga berulang kali menekan dinamika hubungan dengan para pemimpin Israel: Trump pernah melakukan panggilan telepon singkat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menurut pemberitaan memuat kata-kata kasar. Trump juga secara terbuka mengkritik Netanyahu serta tindakan Israel dalam konflik tersebut pada beberapa kesempatan.

Meski demikian, kesepakatan Israel-Lebanon dinilai berpotensi rapuh. Hizbullah tidak menjadi pihak dalam kesepakatan yang ditandatangani pada Jumat, dan belum jelas apakah kelompok itu akan menyetujui penarikan para pejuangnya dari area South Litani di selatan Lebanon.

Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri dari serangan roket Hizbullah ke wilayah Israel. Namun, dalam pernyataan lain, ia juga mengklaim bahwa ia dapat “control Israel from attacking Lebanon.” Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan, “They have a lot of respect for me,” dan menambahkan, “They do as I say.”

Lebanon sendiri disebut terseret dalam perang AS, Israel, dan Iran pada 2 Maret. Peristiwa itu terjadi ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Menanggapi hal tersebut, Israel melancarkan kampanye serangan udara melintasi Lebanon dan melakukan invasi darat di bagian selatan.

Gencatan senjata yang dijembatani AS pada 16 April tidak berhasil menghentikan pertempuran. Selanjutnya, pada Juni Israel dan Lebanon juga menyepakati untuk memperbarui gencatan senjata yang masih rapuh serta membentuk sejumlah zona keamanan “pilot” di dalam Lebanon, tempat para operatif Hizbullah dilarang berada.

Meski ketentuan-ketentuan itu telah disusun, pertempuran tetap berlanjut setelah kesepakatan tersebut. Dalam konteks inilah kerangka yang baru ditandatangani di Washington dipandang sebagai upaya baru—tetapi dengan tantangan besar, terutama karena Hizbullah belum menjadi bagian resmi dari kesepakatan, dan kelanjutan dinamika di lapangan masih menentukan apakah “first step” itu benar-benar mampu menurunkan kekerasan secara berkelanjutan.