jurnalistik.co.id – Militer Iran kembali mengklaim telah menutup Selat Hormuz menyusul serangan Israel ke Lebanon selatan. Klaim itu segera mendapat sanggahan dari pihak Amerika Serikat, yang menyatakan pelayaran masih berjalan dan situasi diawasi untuk memastikan tidak terjadi gangguan.
Klaim Iran disampaikan menjelang pembicaraan AS–Iran di Swiss pada Minggu, dalam konteks upaya meredakan konflik yang melibatkan Israel dan kelompok Hezbollah. Iran menilai serangan mematikan di Lebanon merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan Teheran dengan AS untuk mengakhiri perang.
Menurut pernyataan militer Iran, penutupan itu dilakukan “lagi” setelah sebelumnya Selat Hormuz sempat diblokir ketika AS dan Israel melakukan serangan terhadap Iran pada Februari. Dalam narasi yang sama, Iran mengaitkan tindakan tersebut dengan ketentuan dalam kesepakatan AS–Iran yang mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran, termasuk Selat Hormuz sebagai kawasan krusial bagi distribusi energi global.
Selat Hormuz, sebagaimana disebut dalam laporan itu, adalah jalur pengiriman yang dilalui sekitar 20% minyak dunia serta gas alam cair. Nilai strategisnya juga tercermin dari perkiraan yang mengaitkannya dengan perdagangan energi bernilai besar per tahun, sekaligus relevan bagi pemasok dan pelanggan di kawasan.
Menanggapi pernyataan Iran, juru bicara Komando Pusat AS (US Central Command), Tim Hawkins, mengatakan kepada media bahwa “traffic continues to flow”, dengan pasukan AS “monitoring the situation to ensure this remains the case”, serta menegaskan bahwa “Iran does not control the Strait of Hormuz”. Pernyataan tersebut menempatkan klaim Iran dan versi AS dalam posisi yang saling bertentangan.
Selain isu penutupan jalur, eskalasi diplomatik juga bergerak. Wakil Presiden AS, JD Vance, pada Sabtu berangkat dari Washington menuju Swiss untuk pembicaraan langsung dengan Iran pada Minggu. Vance menyatakan harapannya agar ada kemajuan, khususnya terkait isu nuklir dan isu gencatan senjata Lebanon.
Ketika ditanya mengenai bentrokan antara Israel dan Hezbollah serta serangan udara Israel di Lebanon selatan, Vance mengatakan: “Things are actually getting better there, and things are slowing down a little bit.” Ia menambahkan bahwa proses tersebut akan terus dikelola: “It’s going to be something we’re just going to have to continuously manage to ensure that Israel and Lebanon are both safe and secure. That’s fundamentally the goal of this, to make the whole region safe and secure,”
Di pihak Iran, juru bicara kementerian luar negeri Esmail Baghaei menyampaikan bahwa negaranya akan “demanding that the other side fulfil its commitments”. Pernyataan itu menekankan sikap Iran untuk menuntut pemenuhan komitmen dalam perjanjian yang sedang berjalan.
Di meja perundingan, Pakistan disebut akan ikut hadir. Kantor Perdana Menteri Pakistan menyatakan Shehbaz Sharif akan menghadiri pembukaan pembicaraan. Sepanjang konflik, Pakistan berperan sebagai mediator dan sebelumnya menjadi tuan rumah putaran negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad pada April.
Dalam perkembangan lain, pada awal pekan ini pemimpin AS dan Iran disebut menandatangani kesepakatan awal yang bertujuan mengakhiri perang, termasuk di Lebanon, dengan efek segera. Kesepakatan itu juga mencakup komitmen untuk melanjutkan pembicaraan guna mencapai kesepakatan final dalam rentang 60 hari.
Namun, pertanyaan mengenai implementasi komitmen muncul seiring klaim penutupan Selat Hormuz. Dalam laporan tersebut, militer Iran menyatakan alasan pengumuman penutupan terkait dugaan pelanggaran pihak AS terhadap kesepakatan dengan Teheran karena tidak menerapkan klausul pertama dari memorandum 14 poin. Memorandum itu, sebagaimana disebut, memuat “the immediate and permanent termination of military operations on all fronts, including in Lebanon”.
Di sisi lain, data pemantauan yang disebut BBC Verify menunjukkan setidaknya lima kapal tanker melewati Selat Hormuz pada Sabtu. Beberapa kapal dilaporkan melakukan manuver seperti berbalik arah (U-turn) di area tersebut. Tetapi Komando Pusat AS sebelumnya menyebut lalu lintas kapal niaga justru meningkat pada Sabtu, dengan 55 kapal dagang melintas.
Perbedaan versi itu muncul setelah serangan udara Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang dalam kurun waktu kurang dari 24 jam sejak pengumuman gencatan senjata baru antara Israel dan Hezbollah. Kementerian kesehatan Lebanon menyebut 4.057 orang tewas sejak dimulainya kembali konflik antara Israel dan Hezbollah pada 2 Maret.
Dalam pemberitaan terkait konflik di lapangan, pihak militer Israel menyatakan telah menyerang “dozens” target terhadap Hezbollah setelah menyebut kelompok yang didukung Iran itu menembakkan lebih dari 50 proyektil ke pasukan Israel di wilayah tersebut. Media negara Lebanon melaporkan serangan Israel di kota Barich yang menewaskan satu keluarga yang terdiri dari empat orang.
Israel juga menyatakan seorang tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan pada Sabtu. Pernyataan resmi sebelumnya menegaskan tidak ada niat menarik pasukan dari Lebanon, serta menekankan konflik dengan kelompok Hezbollah dipandang sebagai hal yang terpisah dari perang yang terkait dengan Iran.
Hezbollah kemudian merespons dengan menyatakan serangan Israel di Lebanon merupakan upaya “sabotage” terhadap kesepakatan AS–Iran yang lebih luas. Di saat yang sama, pemerintah AS disebut mengkritik operasi Israel yang berlanjut di Lebanon. Narasi dalam laporan tersebut menjelaskan konflik di kawasan melebar ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan AS–Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.
Selain mengaitkan isu Lebanon dengan perjanjian AS–Iran, laporan tersebut juga mengingat bahwa Iran sempat menghalangi Selat Hormuz setelah serangan pada 28 Februari, yang disebut menimbulkan respons kuat di pasar energi global. Dengan karakteristik selat yang dapat dilayari kapal tanker minyak mentah terbesar, rute ini turut dipakai produsen minyak dan gas alam cair di Timur Tengah serta pelanggan mereka.
Memasuki rangkaian pembicaraan AS–Iran di Swiss, pernyataan yang saling bertentangan mengenai kontrol dan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu indikator ketegangan yang menempel pada upaya diplomatik. Di tengah klaim Iran tentang penutupan jalur dan sanggahan AS tentang lalu lintas yang terus berjalan, kedua pihak juga terus menghubungkan dinamika di Lebanon dengan implementasi kesepakatan yang sedang diuji.












