Pendidikan

Jangan Lakukan 3 Kesalahan Ini agar Fresh Graduate Lebih Dilirik HR

×

Jangan Lakukan 3 Kesalahan Ini agar Fresh Graduate Lebih Dilirik HR

Sebarkan artikel ini
Hindari 3 Kesalahan Ini agar Fresh Graduate Lebih Dilirik HR Lifestyle 20 Juni 2026
Ilustrasi: Hindari 3 Kesalahan Ini agar Fresh Graduate Lebih Dilirik HR

jurnalistik.co.id – Tidak sedikit lulusan baru yang tanpa sadar melakukan sejumlah kesalahan saat membangun karier. Kesalahan itu dapat memperlambat proses mendapatkan pekerjaan, mengurangi peluang berkembang, hingga membuat seseorang tertinggal dari kandidat lain yang lebih siap menghadapi dunia kerja.

Mentor karier sekaligus founder Qualifin.id, Muhammad Ghithrif Gustomo Putra, menilai ada beberapa pola yang masih sering muncul pada fresh graduate ketika memasuki dunia profesional. Menurutnya, pola pikir dan strategi yang kurang tepat membuat lulusan baru kehilangan peluang yang sebenarnya tersedia.

Berikut tiga kesalahan yang dia tekankan, beserta cara pandang yang seharusnya dibangun agar peluang kerja tetap terbuka.

1. Terlalu gengsi dalam memilih pekerjaan

Kesalahan pertama adalah terlalu membatasi pilihan pekerjaan hanya pada bidang yang benar-benar sesuai jurusan kuliah. Akibatnya, banyak lulusan baru menolak peluang yang sebenarnya tetap relevan dengan kemampuan yang mereka miliki.

Ghithrif menyebut, sebagian lulusan baru enggan bekerja apabila tidak sesuai dengan jurusannya. “Beberapa lulusan baru tidak mau kerja kalau tidak sesuai jurusannya. Padahal, cari kerja yang masih relevan meski sedikit dari jurusan tidak masalah. Kalau tidak coba peluang lain, maka akan sayang waktu,” ungkap Ghithrif saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Ia memandang, memperluas pilihan karier justru bisa membuka kesempatan lebih banyak untuk memperoleh pengalaman kerja. Dengan pengalaman tersebut, fresh graduate dapat menjadikan bekal untuk mengembangkan karier ke arah yang diinginkan.

Ghithrif juga menekankan pentingnya masuk lebih dulu ke perusahaan agar langkah belajar dari lingkungan kerja segera dimulai. “Menurutku yang penting kita bisa keterima dulu ke company-nya, engga karena waktu jalan terus. Kalau misalnya tidak diambil, ada orang lain yang ambil,” katanya. Sikap terlalu selektif sejak awal, menurutnya, berisiko menghilangkan momentum untuk belajar dan berkembang.

2. Terlalu mengandalkan IPK

Kesalahan berikutnya adalah menganggap IPK tinggi sebagai satu-satunya modal untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal, perusahaan kini memperhatikan kemampuan lain yang menunjukkan kesiapan kandidat dalam menghadapi tantangan kerja.

Ghithrif menyoroti bahwa penilaian dunia kerja tidak berhenti pada nilai akademik. “Dunia kerja itu tidak hanya melihat IPK, melainkan melihat kemampuan lainnya yang dimiliki kandidat dan kemampuannya bekerja,” ujar Ghithrif. Dengan demikian, kemampuan dalam bekerja menjadi hal yang dicari bersama indikator lain.

Menurutnya, dunia kerja menuntut lebih dari sekadar kemampuan memahami materi perkuliahan. Perusahaan juga mencari kandidat yang mampu bekerja sama, menyelesaikan masalah, berkomunikasi dengan baik, serta beradaptasi dengan berbagai situasi.

Karena itu, Ghithrif menyarankan agar mahasiswa memanfaatkan masa kuliah sebagai kesempatan untuk mengembangkan keterampilan nonakademik. “Maka, dari kuliah jangan hanya kuliah dan pulang, tapi coba asah kemampuan problem solving, komunikasi, dan ketahanan mental lewat organisasi di kampus,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, fresh graduate tidak hanya mengandalkan satu indikator, tetapi juga memperkuat aspek yang relevan untuk keberhasilan bekerja dan berproses di lingkungan profesional.

3. Menunda mengambil sertifikasi

Kesalahan ketiga terkait dengan keputusan menunda mengambil sertifikasi hingga sudah bekerja. Ghithrif menilai, banyak lulusan baru beranggapan bahwa sertifikasi bisa diambil kapan saja setelah mendapatkan pekerjaan.

Namun, menurutnya langkah itu justru berpotensi membuat seseorang kehilangan kesempatan meningkatkan daya saing sejak awal. “Banyak orang yang memilih untuk kerja dulu, kemudian ambil sertifikasi. Padahal menurutku, lebih baik ambil sertifikasi dulu sebelum memulai kerja,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sertifikasi dapat menjadi bukti kompetensi yang membantu kandidat tampil lebih menonjol dibandingkan pelamar lain. Terlebih, semakin banyak lulusan baru yang memiliki nilai akademik tinggi, sehingga sertifikasi berfungsi sebagai nilai tambah yang melengkapi profil kandidat.

“Hal ini menambah nilai plus sebagai kandidat kerja, sehingga tidak hanya mengandalkan IPK tinggi. Sebab, sekarang ini banyak yang IPK-nya tinggi,” ujar Ghithrif.

Selain soal strategi awal, Ghithrif juga mengingatkan tentang kesulitan yang muncul setelah bekerja. Mengambil sertifikasi setelah bekerja sering kali lebih sulit karena keterbatasan waktu dan kesibukan pekerjaan, sehingga rencana kerap tertunda dan tidak pernah direalisasikan.

Dalam konteks itu, tiga kesalahan yang disorot Ghithrif menunjukkan bahwa persiapan karier tidak cukup hanya berpatokan pada aspek akademik atau pilihan yang sempit. Fresh graduate, menurut pandangannya, perlu lebih siap mengambil peluang, membangun kemampuan yang dibutuhkan dalam bekerja, serta mempersiapkan sertifikasi lebih awal agar daya saing sejak awal tetap kuat.