jurnalistik.co.id – Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam selama bertahun-tahun tidak hanya berkaitan dengan tekanan darah, tetapi juga dapat berdampak pada daya ingat. Sebuah riset observasional terbaru bahkan menemukan hubungan nyata antara asupan natrium yang tinggi dan kemunduran ingatan pada pria lansia.
Temuan ini dimuat oleh Prevention dan merujuk pada studi observasional berjudul “Higher sodium intake is associated with episodic memory decline in cognitively unimpaired older males: A 6-year longitudinal study”. Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Neurobiology of Aging pada Juni 2026.
Riset menyoroti bahwa kebiasaan yang selama ini sering disepelekan bisa berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif. Dalam konteks tersebut, para peneliti tidak hanya melihat apakah ada perbedaan, tetapi juga bagaimana pola asupan natrium berkaitan dengan perubahan memori dari waktu ke waktu.
Studi ini mengamati lebih dari 1.200 orang dewasa di Australia yang memiliki fungsi kognitif normal. Peneliti lalu mengikuti para peserta selama enam tahun untuk menilai keterkaitan antara asupan garam harian dan perubahan kemampuan ingatan.
Sepanjang periode penelitian, pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner harian serta tes neuropsikologis berkala. Rangkaian penilaian mencakup performa ingatan episodik, kelancaran bahasa, fungsi eksekutif, hingga rentetan gejala awal yang terkait dengan penyakit Alzheimer.
Hasilnya tidak menunjukkan hubungan yang sama pada seluruh peserta. Namun, ketika kelompok pria dianalisis lebih detail, asosiasi yang signifikan mulai terlihat dengan lebih jelas.
Pada pria lansia dengan asupan natrium tinggi, penurunan terjadi secara tajam pada ingatan episodik, yaitu memori tentang peristiwa-peristiwa spesifik di masa lalu. Dengan kata lain, jejak pengalaman yang paling “terkait kejadian” justru menjadi bagian yang paling terasa kemundurannya.
Riset enam tahun di Australia
Para peneliti menghubungkan asupan natrium yang dilaporkan peserta dengan hasil tes kognitif sepanjang durasi pengamatan. Pendekatan longitudinal selama enam tahun memungkinkan perubahan kemampuan memori dilihat sebagai proses yang berkembang, bukan sekadar gambaran sesaat.
Dari pengamatan tersebut, pola penurunan tidak muncul merata. Asosiasi paling menonjol muncul saat fokus diperketat pada kelompok pria lansia, sehingga studi ini menegaskan adanya perbedaan efek pada subkelompok tertentu.
Berita Terkait
Meski demikian, rancangan riset juga mencatat bahwa konsumsi garam pada pria dan perempuan dalam penelitian sama-sama berada dalam level yang tinggi. Bedanya, pria tetap tercatat memiliki tekanan darah diastolik yang lebih tinggi.
Mengapa natrium bisa memengaruhi ingatan
Ahli gizi sekaligus ilmuwan makanan, Jennifer Pallian, B.S.C., R.D., menjelaskan bahwa ingatan episodik merupakan salah satu domain kognitif yang lebih awal terkena dampak pada penyakit Alzheimer. Ia menekankan keterkaitan domain itu dengan fungsi hipokampus melalui pernyataan berikut: “Ingatan episodik sangat penting karena merupakan salah satu domain kognitif paling awal yang terkena dampak penyakit Alzheimer, dan terkait erat dengan fungsi hipokampus,” jelas Jennifer Pallian.
Poin tersebut kemudian diperkuat oleh penjelasan mengenai jalur kesehatan pembuluh darah. Lauri Wright, R.D.N., ahli gizi dan profesor madya di University of South Florida College of Public Health, menyoroti bahwa pola makan tinggi natrium selama ini memang kerap dikaitkan dengan tekanan darah tinggi serta masalah kardiovaskular.
Wright menyebut bahwa dampak vaskular dari asupan natrium yang berlebihan pada akhirnya dapat menurunkan ketajaman pikiran dan daya ingat. Ia menegaskan bahwa tekanan darah tinggi dapat mencederai pembuluh otak dan memicu peradangan.
Kerusakan pembuluh darah tersebut, menurut Wright, berpotensi mengganggu jalur memori. Selain itu, kondisi yang memicu proses peradangan juga dapat berkontribusi pada penumpukan protein perusak bernama amiloid, yang dikenal luas sebagai ciri khas penyakit Alzheimer.
Sementara itu, Alexander Zubkov, M.D., ahli saraf di Minneapolis Clinic of Neurology, menambahkan bahwa kelebihan natrium perlahan ikut merusak jaringan sel dan pembuluh darah kecil di otak. Pada akhirnya, aliran darah menuju area yang rentan seperti hipokampus dapat menjadi semakin berkurang.
Dengan mekanisme seperti itu, hipokampus—yang berkaitan erat dengan ingatan episodik—berada dalam posisi yang lebih terdampak ketika kesehatan pembuluh darah mengalami gangguan. Keterkaitan antara penurunan aliran darah, peradangan, dan kerusakan mikro pembuluh kemudian menjadi benang merah penjelasan para ahli terhadap temuan studi.
Rangkaian penjelasan para pakar ini tidak berarti setiap orang yang mengonsumsi garam berlebih akan mengalami penurunan memori dengan cara yang sama. Namun, studi observasional tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pada pria lansia dengan asupan natrium tinggi.
Temuan semacam ini memberi sinyal penting untuk menaruh perhatian pada pola makan harian, terutama pada usia lanjut. Dalam situasi ketika seseorang sudah memiliki fungsi kognitif yang normal, perubahan ingatan episodik yang lebih cepat pada kelompok tertentu menjadi bagian yang layak dicermati.
Bila ditarik dari hasil penelitian dan penjelasan para pakar, asupan natrium yang tinggi dipahami berpotensi memengaruhi kesehatan pembuluh darah otak, mengganggu proses yang mendukung memori, serta berkaitan dengan jalur yang dikenal terkait Alzheimer. Dengan demikian, kendali terhadap asupan garam tetap menjadi perhatian yang relevan untuk menjaga kualitas fungsi kognitif di masa tua.












